Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung cukup ramai sore itu. Banyak kendaraan berlalu lalang, khususnya kendaraan arah Pasar Kosambi dan pusat perbelanjaan yang ada di jalan tersebut. Meski sempat lengang karena hujan, jalan kembali ramai pascahujan.
Tak hanya di jalan raya, banyak masyarakat yang beraktivitas dan berniaga di sekitaran Pasar Kosambi. Meski sempat hujan, cuaca di Kota Bandung tidak dingin, melainkan sedikit gerah. Es cendol menjadi minuman tepat untuk mengobati dahaga.
detikJabar berkesempatan mengunjungi penjual es cendol yang mangkal di depan Pasar Kosambi. Penjual es cendol itu menjajakan dagangannya menggunakan gerobak dan dijaga oleh seorang wanita bernama Evi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
detikJabar juga memesan satu porsi es cendol yang dijual Evi. Es cendol tersebut terasa sangat segar di tenggorokan.
Di kala mencicipi es cendolnya, detikJabar juga berbincang dengan wanita berumur 54 tahun itu. Kepada detikJabar, Evi mengaku sudah berjualan sejak tahun 1989 silam.
Dalam perbincangannya, Evi juga berkeluh kesah. Bukan mengeluhkan harga bahan baku cendol, Evi yang sehari-hari mangkal di Pasar Kosambi itu justru mengeluhkan harga plastik yang naik.
"Uh naik banget," kata Evi, Sabtu (4/4/2026).
Evi juga memperlihatkan macam-macam plastik yang mengalami kenaikan. Evi menggunakan empat macam plastik untuk es cendolnya. Plastik kemasan literan jika ada yang ingin membeli cendol berukuran satu liter, cup plastik buat yang ingin membeli porsi kecil, sedotan, dan kantong kresek untuk membungkus es cendol yang dibeli pelanggannya.
"Ini dari Rp9 ribu, jadi Rp14.500, plastik buat bungkus cendol. Ini dari Rp5 ribu jadi Rp9 ribu (kresek). Ini juga naiknya Rp5-6 ribu (menunjuk ke cup plastik)," ungkapnya.
Evi mengeluhkan kondisi tersebut. Disinggung apakah dia tahu kenaikan harga plastik ini karena dampak pasar global, Evi mengaku tidak mengerti soal itu.
"Ah repot, jual harga tetap, pastik mahal," keluh Evi.
Evi menyebutkan, dia menjual es cendol seharga Rp10 ribu per cup, dan Rp22 ribu untuk bungkusan besar. Meski harga plastik mahal, Evi tak berani menaikkan harga es cendol yang dijualnya.
"Naikin susah, trerakhir dinaikin dua tahun lalu harga segitu," ujarnya.
Untuk meminimalisir penggunaan plastik, Evi kerap menawarkan pembeli untuk menikmati cendol secara langsung dengan menggunakan gelas beling, sehingga tidak perlu menggunakan cup plastik.
"Harapan mah, harga plastik turun lagi," ujar Evi.
Harapan serupa juga diutarakan oleh Oding, penjual pempek keliling yang dijumpai di Jalan Malabar, Kota Bandung.
"Naik, naik banget. Masa naiknya udah kaya daging ayam, naiknya Rp2 ribu, trerus besoknya naik, naik lagi sampai ada yang naik Rp8 ribu, itu plastik bungkus buat dagangan saya," ujar Oding.
Oding berharap kepada pemerintah untuk memikirkan nasib pedagang kecil sepertinya.
"Bukan saya aja pasti yang ngeluh, pedagang yang gunakan plastik pasti pada ngeluh," ujarnya.
Oding bersiasat, agar penggunaan plastik tidak banyak, dia menyediakan piring beling. Tak hanya itu, dia juga sekarang tidak membuang-buang plastik secara sembarangan.
"Barang mewah sekarang, masa kita juga harus jual plasiknya kaya jajan di super market," pungkasnya.
(wip/sud)










































