Udara di kawasan Ciguruwik, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, terasa begitu menyesakkan pada Selasa pagi ini. Bukan karena polusi kendaraan, melainkan aroma busuk yang menyeruak tajam dari arah saluran air. Di sana, tumpukan limbah rumah tangga tampak berjejal, terjebak dalam aliran air yang nyaris tak bergerak.
Kondisi drainase yang mampet membuat sampah-sampah tersebut membusuk di tempat, menciptakan pemandangan kumuh sekaligus sumber bau menyengat. Bagi warga yang melintas, situasi ini benar-benar menyiksa indra penciuman.
"Bau sekali, bikin mual," kata Dewi salah satu pejalan kaki kepada detikJabar ditemui tidak jauh dari saluran air itu.
Wanita berusia 38 tahun ini hanya bisa mengelus dada melihat rendahnya kesadaran lingkungan di sekitarnya. Baginya, pemandangan sampah yang menyumbat selokan bukan sekadar masalah estetika, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat.
"Sayang sekali kalau dibuang ke selokan, ini bisa menjadi sumber penyakit," ujar Dewi.
Kekhawatiran Dewi bukan tanpa alasan. Saat hujan deras mengguyur wilayah Manglayang, debit air yang turun ke Ciguruwik biasanya meningkat drastis. Jika saluran air tersumbat, maka banjir menjadi konsekuensi yang tak terelakkan.
"Daerah sini suka banjir, jangan heran kalau perilaku masyarakat nya buang sampah sembarangan dan buat banjir. Toh sampahnya dibuang ke saluran air," ujar Dewi.
Keluhan serupa datang dari Gandi, warga lainnya yang kerap beraktivitas di sana. Ia mengamati bahwa sampah yang menumpuk di titik tersebut sebenarnya kiriman dari wilayah yang lebih tinggi. Karena aliran air yang tersendat, sampah-sampah itu akhirnya berhenti dan menumpuk di Ciguruwik.
"Sampahnya dari atas, ngumpul di sini karena aliran airnya gak jalan," kata Gandi.
Gandi pun membenarkan bahwa tumpukan limbah ini menjadi biang keladi meluapnya air setiap kali musim hujan tiba. "Kalau hujan, air meluap karena tersendat sampah," ujarnya.
Melihat kondisi yang terus berulang, Gandi berharap Pemerintah Kabupaten Bandung tidak tinggal diam. Ia mendesak adanya langkah konkret, terutama dalam memberikan edukasi dan sosialisasi yang lebih masif agar masyarakat berhenti menjadikan saluran air sebagai tempat sampah raksasa.
"Pemerintah harus bertindak, gencar lakukan sosialisasi suapaya warganya sadar dan tidak buang sampah sembarangan, pasalnya kalau banjir pemerintah lagi yang disalahkan," pungkasnya.
Simak Video "Video: 'Revolusi Pengelolaan Sampah' ala Walkot Solo Respati Ardi"
(wip/dir)