Kisah Lelaki yang Dihidupkan Kembali Setelah 100 Tahun dalam Al-Qur'an

Kisah Lelaki yang Dihidupkan Kembali Setelah 100 Tahun dalam Al-Qur'an

Kristina - detikHikmah
Rabu, 30 Sep 2026 06:30 WIB
An Arab man is praying over sand dunes of Dubai, United Arab Emirates
Ilustrasi laki-laki yang dihidupkan lagi setelah 100 tahun. Foto: Getty Images/iStockphoto/GCShutter
Jakarta -

Al-Qur'an mengabadikan kisah tentang bagaimana Allah SWT menghidupkan kembali orang yang telah mati. Salah satunya seperti yang dialami Uzair, laki-laki yang dihidupkan lagi setelah mati 100 tahun.

Uzair (atau Ezra menurut tradisi Yahudi) adalah hamba Allah yang oleh sebagian cendekiawan muslim dianggap sebagai nabi. Dikatakan dalam Janibal Ma'rifat karya Dafiq Rohman, Uzair hidup di antara masa Nabi Sulaiman AS dan masa Nabi Zakariya AS.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam surah Al-Baqarah ayat 259, Allah SWT menceritakan kisah laki-laki--yang oleh para ahli tafsir disebut Uzair--tatkala melewati negeri yang hancur dan tak berpenghuni. Bangunan-bangunan di negeri tersebut telah roboh menutupi reruntuhan atap-atapnya.

Laki-laki itu kemudian bertanya dalam hati, "Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?"

ADVERTISEMENT

Uzair tak meragukan kuasa Allah SWT, hanya saja dia penasaran bagaimana cara Allah SWT membuktikan kuasa-Nya itu.

Tibalah dia di pepohonan yang sedang berbuah, Uzair lalu menambatkan keledainya dan beristirahat di bawah pohon sambil membuka perbekalannya. Sesudah makan, dia pun tertidur. Saat itulah Allah SWT mematikan Uzair.

Seratus tahun kemudian, Allah SWT menghidupkan hamba-Nya itu. Dia mengembalikannya persis seperti kondisi semula. Proses ini berlangsung cepat dan mudah bagi-Nya. Sisa makanan Uzair masih utuh, hanya saja keledainya sudah tinggal tulang belulang.

Allah SWT lalu bertanya kepadanya, "Sudah berapa lamakah kamu berada di tempat itu?"

Uzair merasa baru sebentar di tempat itu, belum sampai ganti hari. "Aku berada di tempat ini baru sehari atau setengah hari saja," ucapnya.

Lalu Allah SWT menjelaskan semuanya bahwa dia telah mati di tempat tersebut selama 100 tahun. Allah SWT kemudian memperlihatkan bagaimana Dia menghidupkan kembali dengan keledai yang tinggal tulang belulang itu. Mulai dari menyusun tulang belulang, memberinya daging dan kulit serta organ tubuh lainnya, hingga meniupkan nyawa.

Menyaksikan semua itu, Uzair pun menyatakan keimanannya bahwa dia yakin Allah SWT Mahakuasa atas segala sesuatu, termasuk menghidupkan kembali makhluk yang sudah mati.

Kisah itu mengacu pada Tafsir Al-Qur'an Kementerian Agama surah Al-Baqarah ayat 259. Dalam ayat ini, Allah SWT tidak menyebutkan siapa nama orang dan negeri yang dimaksud dalam kisah itu. Hanya saja para ahli tafsir menyebutnya kisah itu menceritakan tentang Uzair.

اَوْ كَالَّذِيْ مَرَّ عَلٰى قَرْيَةٍ وَّهِيَ خَاوِيَةٌ عَلٰى عُرُوْشِهَاۚ قَالَ اَنّٰى يُحْيٖ هٰذِهِ اللّٰهُ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ فَاَمَاتَهُ اللّٰهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهٗ ۗ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ ۗ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍۗ قَالَ بَلْ لَّبِثْتَ مِائَةَ عَامٍ فَانْظُرْ اِلٰى طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ ۚ وَانْظُرْ اِلٰى حِمَارِكَۗ وَلِنَجْعَلَكَ اٰيَةً لِّلنَّاسِ وَانْظُرْ اِلَى الْعِظَامِ كَيْفَ نُنْشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوْهَا لَحْمًا ۗ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهٗ ۙ قَالَ اَعْلَمُ اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ٢٥٩

Artinya: Atau, seperti orang yang melewati suatu negeri yang (bangunan-bangunannya) telah roboh menutupi (reruntuhan) atap-atapnya. Dia berkata, "Bagaimana Allah menghidupkan kembali (negeri) ini setelah kehancurannya?" Lalu, Allah mematikannya selama seratus tahun, kemudian membangkitkannya (kembali). Dia (Allah) bertanya, "Berapa lama engkau tinggal (di sini)?" Dia menjawab, "Aku tinggal (di sini) sehari atau setengah hari." Allah berfirman, "Sebenarnya engkau telah tinggal selama seratus tahun. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum berubah, (tetapi) lihatlah keledaimu (yang telah menjadi tulang-belulang) dan Kami akan menjadikanmu sebagai tanda (kekuasaan Kami) bagi manusia. Lihatlah tulang-belulang (keledai itu), bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging (sehingga hidup kembali)." Maka, ketika telah nyata baginya, dia pun berkata, "Aku mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS Al-Baqarah: 256)

Nama Uzair sendiri disebutkan secara khusus dalam surah At-Taubah ayat 30. Allah SWT berfirman,

وَقَالَتِ الْيَهُوْدُ عُزَيْرُ ِۨابْنُ اللّٰهِ وَقَالَتِ النَّصٰرَى الْمَسِيْحُ ابْنُ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ قَوْلُهُمْ بِاَفْوَاهِهِمْۚ يُضَاهِـُٔوْنَ قَوْلَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ قَبْلُ ۗقَاتَلَهُمُ اللّٰهُ ۚ اَنّٰى يُؤْفَكُوْنَ ٣٠

Artinya: Orang-orang Yahudi berkata, "Uzair putra Allah," dan orang-orang Nasrani berkata, "Al-Masih putra Allah." Itulah ucapan mereka dengan mulut-mulut mereka. Mereka meniru ucapan orang-orang yang kufur sebelumnya. Allah melaknat mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?

Wallahu a'lam.



(kri/lus)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads