Pemukim Israel Terobos Kompleks Al-Aqsa Berkali-kali Selama Hari Raya Sukkot

Pemukim Israel Terobos Kompleks Al-Aqsa Berkali-kali Selama Hari Raya Sukkot

Anisa Rizki Febriani - detikHikmah
Kamis, 01 Okt 2026 14:45 WIB
Aerial view of the Dome of the Rock mosque in Jerusalem
Kompleks Masjid Al Aqsa. Foto: Getty Images/iStockphoto/stevenallan
Jakarta -

Para pemukim Yahudi menyerbu kompleks Masjid Al Aqsa di Yerusalem yang diduduki, Rabu (30/9/2026) atau hari kelima hari raya Yahudi Sukkot. Data ini berasal dari pejabat Wakaf Islam Yerusalem yang namanya enggan disebutkan.

Dilansir dari Saudi Gazette, para pemukim Yahudi melakukan penerobosan di bawah perlindungan polisi Israel. Peristiwa penerobosan ini telah dilakukan berulang kali meski telah mendapat kecaman dari berbagai pihak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Para pemukim Israel menerobos kompleks Masjid Al Aqsa dan terus meningkatkan intensitas ritual keagamaan Yahudi di ruang publik serta pengetatan pembatasan bagi jemaah Palestina yang ingin memasuki masjid.

Berbagai lembaga di Yerusalem memperingatkan eskalasi ini tidak hanya mencakup peningkatan jumlah pemukim yang memasuki kompleks, tetapi juga perluasan praktik keagamaan Yahudi di area halamannya.

ADVERTISEMENT

Kelompok-kelompok ekstremis sayap kanan Israel sebelumnya telah menyerukan aksi penerobosan besar-besaran ke Al-Aqsa selama perayaan Sukkot, yang dimulai pada hari Sabtu dan berlangsung hingga Jumat.

Hal tersebut dinilai sebagai upaya memaksakan realitas baru di Al Aqsa secara bertahap mengubah status quo historisnya. Mereka bahkan melangsungkan kegiatan doa bersama, nyanyian, lantunan doa keagamaan, serta ritual lain yang terus berlangsung di bagian timur kompleks Al Aqsa sepanjang masa liburan, sebagaimana dikutip dari laporan The Palestinian Information Center.

Selain itu, jemaah Palestina harus menghadapi pembatasan akses masuk ke masjid dan larangan memasukinya selama periode penerobosan oleh para pemukim Israel.

Bahkan dalam sebuah rekaman video terlihat eks anggota Knesset, Moshe Feiglin sedang melakukan ritual Empat Jenis Tanaman di bagian timur kompleks masjid menggunakan tanaman yang secara tradisional dikaitkan dengan perayaan Sukkot.

Menurut laporan Saudi Gazette yang merujuk pada data Wakaf Islam Yerusalem, jumlah pemukim yang memasuki kompleks masjid pada Minggu (27/9) sebanyak 1.500, kemudian 1.700 lebih pemukim pada hari Senin (28/9), dan lebih dari 1.400 pemukim pada hari Selasa (29/9).

Sementara itu, Al Jazeera melaporkan terdapat sekitar 700 pemukim Israel menyerbu kompleks Masjid Al Aqsa di bawah perlindungan polisi Israel pada Rabu (30/9).

Pembatasan oleh Israel juga diberlakukan hingga ke kawasan Kota Tua (Old City) di sekitarnya. Otoritas Israel juga menutup jalan menuju area Gerbang Singa (Lions Gate) dan pintu masuk Jalan Al-Turba yang mengarah ke Silwan untuk memfasilitasi akses pemukim menuju Tembok Buraq.

Perayaan Sukkot, yang dimulai pada 26 September dan berlangsung hingga 2 Oktober, membuat Al-Aqsa dan wilayah sekitarnya mengalami aksi penerobosan dari pemukim Israel hingga pengetatan pembatasan.

Sebagai informasi, status quo yang berlaku sejak sebelum pendudukan Israel atas Yerusalem Timur pada tahun 1967 menetapkan Wakaf Islam Yerusalem-yang berafiliasi dengan Kementerian Wakaf Yordania-memiliki tanggung jawab eksklusif untuk mengelola urusan kompleks Masjid Al-Aqsa sebagai tempat ibadah khusus bagi umat Islam.

Namun demikian, warga Palestina menyatakan bahwa Israel terus meningkatkan upaya selama berpuluh-puluh tahun untuk Yahudisasi Yerusalem Timur yang diduduki, termasuk Masjid Al-Aqsa, guna menghapus identitas Arab dan Islam di kota tersebut.

Melansir Saudi Gazette, Khatib Masjid Al-Aqsa, Ikrima Sabri, memperingatkan bahwa lonjakan serbuan Israel selama hari raya Yahudi membawa ancaman serius. Tindakan ini dinilai sengaja dilakukan untuk mengubah aksi-aksi terbatas menjadi kondisi yang dipaksakan (fait accompli) di bawah perlindungan polisi pendudukan.

Ia menambahkan bahwa bahaya terbesar bukan sekadar aksi penerobosan itu sendiri, melainkan normalisasi bertahap. Setiap ritual baru dan kehadiran pejabat Israel yang dibiarkan di dalam kompleks masjid bertujuan untuk mengubah tindakan pengecualian tersebut menjadi sebuah kenyataan baru secara permanen dari waktu ke waktu.



(aeb/inf)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads