Kepergian Nabi Muhammad SAW pada Senin, 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriah meninggalkan kesedihan yang mendalam bagi umat Islam. Peristiwa ini menjadi sejarah penting, ketika proses perawatan jasad hingga penentuan lokasi makam beliau menjadi syariat yang dijunjung hingga saat ini.
Pemilihan lokasi makam Nabi Muhammad SAW sempat memicu perdebatan di antara sahabat. Akhirnya, beliau dimakamkan di tempat beliau wafat, yakni di kamar sang istri, Sayyidah Aisyah RA.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Prosesi Pemandian Jenazah Rasulullah SAW
Mengutip buku berjudul Kisah-Kisah dalam Al-Qur'an karya M. Quraish Shihab, jasad Rasulullah SAW dimandikan pada hari Selasa, 13 Rabiul Awal tahun 11 H. Jenazah Rasulullah SAW dibasuh menggunakan air sumur tempat beliau sering mandi dan minum. Orang-orang yang terlibat dalam prosesi pemandian jasad Rasulullah SAW adalah Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA bersama dengan kekasih dan putra bekas anak angkat beliau, Usamah RA Al-Fadhl, dan putra paman Nabi al-'Abbas.
Rasulullah SAW dimandikan tanpa membuka baju yang beliau kenakan ketika wafat. Setelah dimandikan, beliau dikafani dengan tiga lapis kain, dua di antaranya kain yang terbuat dari Yaman, dan yang ketiga adalah kain yang dililitkan sekali putar dengan jasad beliau.
Rasulullah SAW Dimakamkan di Kamar Aisyah RA
Awalnya, para sahabat berdebat mengenai lokasi pemakaman jasad Rasulullah SAW. Hingga pada akhirnya Abu Bakar angkat suara menyampaikan sabda Rasulullah SAW bahwa seorang nabi yang meninggal dunia hendaknya dimakamkan di tempat wafatnya. Peristiwa ini tercantum dalam hadits berikut:
Aisyah berkata, "Ketika Rasulullah SAW wafat, mereka berselisih tentang tempat penguburannya. Maka Abu Bakar berkata, 'Aku mendengar Rasulullah SAW berkata sesuatu yang tidak aku lupakan, beliau berkata: Allah tidak mengambil (nyawa) seorang Nabi kecuali di tempat yang Dia inginkan untuk dikuburkan.' Maka mereka menguburkan beliau di tempat tidurnya." (HR Tirmidzi)
Pada malam Rabu, 14 Rabiul Awal, Rasulullah SAW dimakamkan persis di kamar tempat pembaringan beliau di kamar Sayyidah Aisyah RA. Saat itu, posisi kamar Sayyidah Aisyah RA berada di samping dinding Masjid Nabawi. Namun karena adanya pembangunan dari masa ke masa, kamar tersebut kini terletak di dalam area Masjid Nabawi, tepatnya di sudut tenggara. Lokasinya tidak jauh dari mihrab utama dan menjadi salah satu area yang paling dijaga.
Makam Nabi Muhammad SAW kini ditandai dengan kubah hijau, yang terlihat dari luar masjid.
Abu Bakar dan Umar Turut Dimakamkan di Sisi Rasulullah SAW
Dikisahkan dalam buku berjudul 36 Perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW oleh Muhammad Ali Quthb, ketika Abu Bakar RA sakit sebelum ajalnya menjemput, ia berwasiat supaya dimakamkan di samping makam Rasulullah SAW. Saat Abu Bakar wafat, wasiat ini ditunaikan. Kamar Sayyidah Aisyah RA digali untuk makam Abu Bakar RA yang posisinya berdampingan dengan makam Rasulullah SAW.
Begitu pula wasiat yang diucapkan Umar bin Khattab RA setelah ia ditusuk oleh Abu Luluah. Ia meminta izin kepada Sayyidah Aisyah RA agar dimakamkan di dekat makam Rasulullah SAW. Setelah jenazah Umar sampai di depan kamar Sayyidah Aisyah RA, Ibnu Umar RA, putra Umar bin Khattab RA berkata, "Sesungguhnya hamba Allah, Umar ibn Al-Khattab ini meminta izin untuk masuk ke kamar Ummul Mukminin, Aisyah RA." Maka dengan ini, Sayyidah Aisyah RA mengizinkan pemakaman Umar di kamarnya dan mendoakan kebaikannya.
(kri/kri)

Komentar Terbanyak
Mengapa Mayoritas Penduduk Indonesia Beragama Islam?
Ramai Isu Larangan Hijab di Unhan, Ini Klarifikasi Kemhan
Makna Gunung Meletus dalam Islam, Benarkah Tanda Murka Allah?