Gunung meletus merupakan salah satu bencana alam yang dapat menimbulkan kerusakan besar, mulai dari korban jiwa, kerusakan lingkungan, hingga hilangnya harta benda. Dalam konteks Indonesia yang berada di wilayah cincin api (ring of fire), fenomena erupsi gunung berapi menjadi bagian dari kondisi alam yang perlu diantisipasi.
Lantas, bagaimana Islam memandang gunung meletus? Benarkah setiap gunung yang erupsi merupakan tanda Allah SWT sedang murka kepada manusia?
Pandangan Islam Mengenai Gunung Meletus
Sejumlah kajian dalam perspektif Al-Qur'an menunjukkan bahwa bencana tidak dapat langsung disimpulkan sebagai azab atau bentuk kemurkaan Allah. Makna bencana dalam Islam memiliki cakupan yang lebih luas, antara lain sebagai musibah, bala' atau ujian, fitnah atau cobaan, peringatan, hingga azab dalam konteks tertentu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal itu dibahas Abdul Hakim dalam jurnal "Makna Bencana Menurut Al-Qur'an: Kajian Fenomena Terhadap Bencana di Indonesia", yang diterbitkan dalam Hermeunetik, Vol. 7 No. 2, Desember 2013. Kajian tersebut menekankan pentingnya melihat bencana secara arif agar korban tidak disudutkan hanya karena musibah yang dialaminya.
Sementara itu, Rulia Rahmawati dalam jurnal "Bencana Alam dalam Kehidupan Manusia Perspektif al-Qur'an: Studi Interpretasi Kontekstual", Gunung Djati Conference Series Volume 19 (2023), mengkaji bencana alam dengan pendekatan tafsir kontekstual. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa ayat-ayat tentang bencana perlu dipahami dengan mempertimbangkan konteks masa kini, termasuk persoalan kerusakan lingkungan.
Bencana Tidak Selalu Berarti Murka Allah
Dalam kajian Abdul Hakim, Al-Qur'an menggunakan beberapa istilah untuk menjelaskan peristiwa yang tidak menyenangkan. Di antaranya adalah musibah, bala', dan fitnah atau cobaan.
Ketiga istilah tersebut memiliki cakupan makna yang berbeda. Musibah dapat berkaitan dengan akibat perbuatan manusia. Sementara bala' merupakan ujian yang menjadi bagian dari kehidupan manusia dan tidak selalu berkaitan dengan kesalahan orang yang mengalaminya. Adapun fitnah atau cobaan dapat menimpa orang yang bersalah maupun orang yang tidak bersalah.
Karena itu, erupsi gunung berapi tidak bisa serta-merta disebut sebagai tanda kemurkaan Allah kepada masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Kajian Abdul Hakim bahkan mengingatkan agar bencana tidak dimaknai secara serampangan sebagai azab atau hukuman bagi orang-orang yang berdosa. Bencana dapat menjadi ujian untuk meningkatkan keimanan dan tidak mengenal batas usia, status sosial, jenis kelamin, maupun tingkat keimanan seseorang.
Dengan perspektif tersebut, menyebut korban erupsi sebagai orang yang sedang mendapat hukuman Allah hanya berdasarkan terjadinya bencana merupakan kesimpulan yang tidak sederhana.
Gunung Meletus Termasuk Bencana Alam
Dalam kajian Abdul Hakim, gunung meletus secara jelas masuk dalam kategori bencana alam. Bencana alam disebut sebagai peristiwa yang berasal dari proses alam, seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.
Artinya, fenomena erupsi dapat dilihat melalui hukum alam yang telah ditetapkan Allah SWT.
Pandangan ini menjadi penting karena manusia sering kali hanya melihat bencana dari satu sisi. Ketika terjadi erupsi, misalnya, sebagian masyarakat mungkin langsung mengaitkannya dengan kemurkaan Tuhan. Padahal, ada aspek alamiah yang juga perlu dipahami.
Abdul Hakim menjelaskan perlunya pendekatan yang mempertemukan pertimbangan rasional dan teologis. Gejala alam perlu dipahami sebagai sesuatu yang berjalan berdasarkan hukum alam, sementara manusia tetap dapat mengambil pelajaran spiritual dari peristiwa tersebut.
Dengan demikian, memahami proses alam dan mengambil hikmah keagamaan bukan dua hal yang harus dipertentangkan.
Manusia Punya Tanggung Jawab Menjaga Alam
Kajian Rulia Rahmawati memberikan penekanan lain yang relevan dengan persoalan bencana masa kini. Manusia dalam pandangan Al-Qur'an memiliki posisi sebagai khalifah di bumi. Karena itu, manusia diberi tanggung jawab untuk menjaga dan memelihara alam.
Ketika manusia justru merusak lingkungan, persoalan ekologis dapat muncul dan memperbesar risiko bencana.
Dalam penelitian tersebut, kondisi bencana pada masa modern banyak dikaitkan dengan kelalaian manusia dalam menjaga lingkungan. Pemanasan global, perubahan iklim ekstrem, kerusakan ekologis, hingga perubahan pola cuaca disebut sebagai persoalan yang perlu mendapatkan perhatian.
Karena itu, ketika membicarakan bencana, manusia tidak cukup hanya bertanya, "Mengapa Allah memberikan musibah ini?"
Pertanyaan lain yang juga penting adalah, "Apa yang telah dilakukan manusia terhadap lingkungan?"
QS Ar-Rum Ayat 41 Jadi Pengingat
Salah satu ayat yang dibahas dalam kedua kajian tersebut adalah QS Ar-Rum ayat 41.
Allah SWT berfirman:
ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Arab-Latin: ẓaharal-fasādu fil-barri wal-baḥri bimā kasabat aidin-nāsi liyużīqahum ba'ḍallażī 'amilụ la'allahum yarji'ụn
Artinya: Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
Ayat tersebut menjadi dasar penting dalam melihat hubungan antara perilaku manusia dan kerusakan yang terjadi di bumi. Rulia Rahmawati menjelaskan bahwa ayat tersebut mengingatkan manusia mengenai dampak dari perbuatannya sekaligus mendorong manusia untuk kembali kepada jalan yang benar.
Dalam kajian kontekstual, pesan ayat tersebut kemudian dapat ditarik ke persoalan lingkungan masa kini. Manusia dituntut untuk melakukan pelestarian lingkungan agar tidak mewariskan kondisi ekologis yang rusak kepada generasi berikutnya.
Jadi, pesan keagamaan yang dapat diambil dari bencana bukan hanya soal menerima musibah, tetapi juga melakukan introspeksi terhadap cara manusia memperlakukan alam.
Wallahu a'lam.

Komentar Terbanyak
Mengapa Mayoritas Penduduk Indonesia Beragama Islam?
Ramai Isu Larangan Hijab di Unhan, Ini Klarifikasi Kemhan
Makna Gunung Meletus dalam Islam, Benarkah Tanda Murka Allah?