×
Ad

Mengapa Gunung Uhud Disebut Gunung Surga? Ini Kisah dan Keutamaannya

Lusiana Mustinda - detikHikmah
Senin, 03 Agu 2026 05:00 WIB
Foto: Lusiana Mustinda
Jakarta -

Jabal Uhud atau Gunung Uhud merupakan salah satu lokasi bersejarah yang selalu dikunjungi jemaah haji dan umrah saat berada di Madinah. Gunung yang terletak sekitar lima kilometer di utara Masjid Nabawi ini bukan sekadar menjadi saksi perjuangan Rasulullah SAW dan para sahabat, tetapi juga memiliki keutamaan yang disebut langsung dalam hadis.

Mengapa Gunung Uhud Disebut Gunung Surga?

Sebutan tersebut berasal dari sabda Rasulullah SAW yang menyebut Jabal Uhud sebagai salah satu gunung yang kelak berada di surga.

Dalam buku Sejarah Terlengkap Nabi Muhammad SAW: Dari Sebelum Masa Kenabian hingga Sesudahnya karya Abdurrahman bin Abdul Karim disebutkan, Rasulullah SAW bersabda,

"Bukit Uhud adalah salah satu dari bukit-bukit yang ada di surga." (HR Bukhari)

Selain itu, Rasulullah SAW juga mengungkapkan kecintaannya kepada Gunung Uhud. Dari Anas bin Malik RA, Nabi SAW bersabda,

"Sesungguhnya Uhud adalah gunung yang mencintai kami dan kami pun mencintainya." (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan kemuliaan Jabal Uhud di sisi Rasulullah SAW. Karena keistimewaan tersebut, gunung ini sering dijuluki sebagai "Gunung Surga" oleh kaum Muslimin.

Ada pula riwayat yang menceritakan ketika Rasulullah SAW menaiki Jabal Uhud bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan. Saat itu Gunung Uhud bergetar.

Rasulullah SAW kemudian menghentakkan kakinya seraya bersabda,

"Tenanglah, wahai Uhud. Di atasmu sekarang ada seorang nabi, seorang yang sangat membenarkannya, dan dua orang yang kelak mati syahid."

Setelah sabda tersebut diucapkan, Gunung Uhud pun berhenti bergetar.

Saksi Perang Uhud

Mengutip buku 8 Pintu Surga tulisan Mohammad Monib, selain memiliki keutamaan, Jabal Uhud juga menjadi saksi salah satu pertempuran terbesar dalam sejarah Islam, yakni Perang Uhud yang terjadi pada 15 Syawal tahun ke-3 Hijriah atau sekitar Maret 625 M.

Kala itu Rasulullah SAW bersama pasukan muslim menghadapi kaum Quraisy Makkah di kawasan sekitar Gunung Uhud. Pada awal pertempuran, kaum Muslimin berhasil menguasai keadaan.

Namun situasi berubah ketika sebagian pasukan pemanah yang ditempatkan di Bukit Rumat meninggalkan pos mereka karena mengira peperangan telah usai. Mereka turun untuk mengambil harta rampasan perang, padahal Rasulullah SAW telah memerintahkan agar tetap bertahan di posisi masing-masing.

Kesempatan itu dimanfaatkan pasukan berkuda Quraisy yang dipimpin Khalid bin Walid untuk menyerang dari arah belakang. Serangan mendadak tersebut membuat barisan kaum muslimin tercerai-berai dan menyebabkan banyak sahabat gugur sebagai syuhada.

Di antara mereka adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah SAW yang dikenal sebagai Singa Allah (Asadullah). Hamzah gugur setelah ditombak oleh Wahsyi al-Habasyi yang dijanjikan kebebasan apabila berhasil membunuhnya.

Rasulullah SAW sendiri juga mengalami luka-luka dalam peperangan tersebut. Setelah perang berakhir, beliau memerintahkan agar para sahabat yang gugur dimakamkan di tempat mereka syahid. Kini, kompleks makam para syuhada masih berada di kawasan Jabal Uhud dan menjadi salah satu lokasi yang banyak diziarahi.

Pelajaran dari Perang Uhud

Perang Uhud menyimpan pelajaran penting bagi umat Islam. Kekalahan yang dialami kaum Muslimin bukan disebabkan lemahnya kekuatan, melainkan karena sebagian pasukan tidak mematuhi perintah Rasulullah SAW untuk tetap menjaga pos mereka.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya merupakan kunci keberhasilan, sedangkan mengabaikan amanah dapat membawa akibat yang besar.

Kisah Para Syuhada Uhud

Kompleks pemakaman di kawasan Uhud menjadi tempat peristirahatan sekitar 70 sahabat yang gugur dalam Perang Uhud.

Dalam buku Mengais Berkah di Bumi Sang Rasul, Ahmad Hawassy mengisahkan bahwa saat banjir pernah melanda Madinah, makam para syuhada ikut terdampak. Setelah air surut, sebagian jasad para sahabat terlihat masih utuh, bahkan disebut masih mengeluarkan aroma harum.

Jenazah kemudian dimakamkan kembali seperti semula. Makam yang dikenal hingga kini adalah makam Hamzah bin Abdul Muthalib RA serta Abdullah bin Jahsy RA karena keduanya dapat dikenali dari ciri-ciri fisik yang masih tampak.

Hingga sekarang, Jabal Uhud tetap menjadi salah satu destinasi yang selalu dikunjungi jemaah haji dan umrah. Selain mengenang perjuangan Rasulullah SAW dan para sahabat, tempat ini juga mengingatkan umat Islam pada besarnya pengorbanan, pentingnya ketaatan, serta keutamaan gunung yang oleh Rasulullah SAW disebut sebagai salah satu gunung di surga.



Simak Video "Video Jemaah Haji Indonesia Ziarah ke Jabal Uhud Sebelum ke Makkah"

(lus/dvs)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork
InsertLive
Kamis, 01 Jan 1970 07:00 WIB