Perang Uhud Terjadi pada Tahun 625 Masehi, Ini Kisah dan Hikmahnya

Perang Uhud Terjadi pada Tahun 625 Masehi, Ini Kisah dan Hikmahnya

Hanif Hawari - detikHikmah
Rabu, 15 Apr 2026 05:00 WIB
Kisah Sahabat Nabi, Para Perisai Nabi di Perang Uhud
Ilustrasi Perang Uhud (Foto: Andhika Akbarayansyah/Infografis)
Jakarta -

Perang Uhud menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam yang mempertemukan kaum Muslimin dengan kaum Quraisy. Pertempuran ini merupakan lanjutan dari konflik panjang di antara keduanya, di mana pihak Quraisy berupaya membalas kekalahan yang mereka alami sebelumnya.

Dalam peristiwa ini, pasukan Muslim yang dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW menghadapi kekuatan besar dari Quraisy yang jumlahnya lebih banyak. Perang Uhud tidak hanya menjadi ajang pertempuran fisik, tetapi juga menyimpan banyak hikmah, seperti pentingnya strategi, keteguhan iman, serta kepatuhan terhadap perintah pemimpin.

Kapan Terjadinya Perang Uhud?

Mengacu pada buku Perang Uhud karya Muhammad Ridha, pertempuran ini berlangsung pada hari Sabtu, 15 Syawal tahun 3 Hijriah, bertepatan dengan tahun 625 Masehi. Peristiwa tersebut terjadi sekitar satu tahun setelah Perang Badar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada masa itu, Makkah menjadi pusat pertentangan antara kaum Muslimin dan kaum musyrikin Quraisy yang menolak ajaran Islam. Perang Uhud pun pecah sebagai bentuk balasan atas kekalahan Quraisy dalam Perang Badar.

Kisah Perang Uhud

Berdasarkan buku Biografi Rasulullah: Sebuah Studi Analitis Berdasarkan Sumber-sumber yang Otentik karya Mahdi Rizqullah Ahmad dkk, pasukan Quraisy di bawah pimpinan Abu Sufyan berangkat menuju Uhud dengan kekuatan sekitar 3.000 orang, disertai beberapa perempuan.

ADVERTISEMENT

Di sisi lain, pasukan Muslim awalnya berjumlah 1.000 orang yang berasal dari Makkah dan Madinah. Namun, dalam perjalanan menuju medan perang di sekitar Gunung Uhud, Abdullah bin Ubay memilih mundur bersama 300 pengikutnya. Hal ini membuat jumlah pasukan Muslim berkurang menjadi sekitar 700 orang.

Sebelum pertempuran, Nabi Muhammad SAW sempat menceritakan mimpi kepada para sahabatnya. Dalam mimpi tersebut, beliau melihat pedangnya patah, yang ditafsirkan sebagai pertanda adanya kekalahan dan gugurnya sejumlah sahabat. Namun, pedang itu kemudian kembali utuh, yang dimaknai sebagai isyarat kemenangan di masa depan, termasuk saat penaklukan Makkah.

Selain itu, beliau juga melihat seekor sapi dalam kondisi baik, yang ditafsirkan sebagai simbol kaum Muslimin dalam pertempuran tersebut. Mimpi itu dipahami sebagai peringatan akan ujian berat yang akan dihadapi.

Meski demikian, pasukan Muslim tetap maju dengan penuh keyakinan. Rasulullah SAW kemudian menyusun strategi dengan menempatkan 50 pemanah di atas bukit Uhud dan memerintahkan mereka agar tidak meninggalkan posisi dalam keadaan apa pun.

Pada awal pertempuran, pasukan Quraisy sempat terdesak. Kaum Muslimin bahkan hampir meraih kemenangan. Namun, keadaan berubah ketika sebagian pemanah tergoda oleh harta rampasan perang dan meninggalkan posisi mereka, meskipun telah diingatkan oleh komandannya, Abdullah bin Jubair.

Kesempatan ini dimanfaatkan oleh pasukan berkuda Quraisy untuk menyerang dari arah belakang. Serangan mendadak tersebut membuat barisan kaum Muslimin kacau dan kehilangan formasi.

Di tengah situasi tersebut, Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad SAW, gugur setelah terkena serangan tombak yang dilempar oleh Wahsyi.

Perang Uhud pun menjadi pelajaran besar bagi umat Islam tentang pentingnya disiplin, ketaatan, dan kesabaran dalam menghadapi ujian.

Wallahu a'lam.




(hnh/inf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads