Gunung yang Dicintai Rasulullah Ini Pernah Jadi Medan Perang Dahsyat

Gunung yang Dicintai Rasulullah Ini Pernah Jadi Medan Perang Dahsyat

Kristina - detikHikmah
Selasa, 04 Agu 2026 05:00 WIB
Jabal Uhud di Madinah
Jabal Uhud di Madinah. Foto: Erwin Dariyanto/detikcom
Jakarta -

Sekitar 1.400 tahun yang lalu, pertempuran dahsyat antara kaum muslimin dan musyrikin Quraisy pecah di kawasan gunung yang dicintai Rasulullah SAW, Uhud. Sekitar 70 sahabat gugur dalam perang ini.

Meletusnya Perang Uhud disebabkan berbagai faktor. Menurut Sirah Nabawiyah susunan Prof Ali Muhammad Ash-Shalabi terjemahan Faesal Saleh dkk, penyebab utamanya adalah faktor agama bahwa kafir Quraisy ingin menghalangi manusia dari jalan Allah SWT, mencegah orang-orang masuk Islam, memerangi Rasulullah SAW, dan menumpas dakwahnya.

Kekalahan telak dalam Perang Badar dan terbunuhnya para pembesar Quraisy juga memicu terjadinya Perang Uhud. Peristiwa itu dinilai telah merendahkan martabat orang-orang kafir Quraisy sehingga mereka berusaha membersihkan noda kehinaan itu dengan mengumpulkan harta benda untuk memerangi Rasulullah SAW.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Faktor ekonomi dan politik juga menjadi penyebab Perang Uhud. Kaum Quraisy ingin mengembalikan kekuatan politiknya setelah hancur akibat Perang Badar. Perang Uhud inilah yang kemudian disebut-sebut sebagai pertempuran balas dendam atas kekalahan Quraisy dalam Perang Badar.

Kisah Perang di Kawasan Gunung Uhud

Pasukan Quraisy membangun kekuatan semaksimal mungkin. Setelah dirasa sempurna, sebanyak 3.000 pasukan diikuti perempuan dan hamba sahaya bertolak dari Makkah ke Madinah. Mereka berbekal persenjataan lengkap. Orang Arab dari kalangan Kinanah dan Tihamah yang menjadi sekutu turut gabung dalam barisan.

ADVERTISEMENT

Inteligen Rasulullah SAW di Makkah, Al-Abbas bin Abdul Muthalib, memantau setiap pergerakan tersebut. Dia lalu mengirim surat kepada Rasulullah SAW yang saat itu berada di Masjid Quba. Informasi juga terus diperbarui.

Setelah mendapat cukup informasi, Rasulullah SAW bermusyawarah dengan para sahabat untuk mengambil langkah menghadapi musuh. Keputusan keluar dari Madinah pun diambil. Sang Rasul kemudian mengumumkan kondisi darurat perang.

Pasukan muslim bergerak ke medan Uhud. Rasulullah SAW membagi pasukan menjadi tiga bagian, pasukan Muhajirin di bawah panji Mush'ab bin Umair, pasukan Aus dari golongan Anshar di bawah panji Usaid bin Hudhair, dan pasukan Khazraj dari golongan Anshar di bawah bendera Hubab bin Al-Mudzir.

Keberadaan Bukit Uhud amat membantu gerak kaum muslimin. Ketika pasukan tiba di bukit tersebut, Rasulullah SAW memerintahkan mengarahkan punggung mereka ke Bukit Uhud dan wajah ke Kota Madinah. Beliau menempatkan 50 pemanah andal di atas Bukit Ainain yang berhadapan dengan Bukit Uhud untuk mencegah pasukan musyrik menyusup di barisan kaum muslim.

Rasulullah SAW mengingatkan pasukan agar tidak meninggalkan tempatnya sampai ada izin dan tidak membunuh sampai ada perintah dari beliau. Kepada para pemanah, Rasulullah SAW minta perlindungan dengan anak panahnya seraya minta untuk tetap berada di posisi masing-masing.

Perang Uhud diawali dengan perang tanding antara Ali bin Abi Thalib dengan Thalhah bin Utsman yang membawa panji kaum musyrik. Setelah itu, kedua pasukan bertemu lalu terjadilah pertempuran dahsyat.

Kaum muslim berperang dengan semangat jihad. Saat kemenangan hampir di depan mata, para pemanah lalai, mereka terlena usai melihat potensi harta rampasan perang melimpah. Mereka lantas meninggalkan pos karena menyangka perang telah berakhir.

"Harta rampasan perang..! Kita telah menang, apalagi yang kalian tunggu?" kata mereka kepada pemimpinnya, Abdullah bin Jubair.

Abdullah bin Jubair minta tetap di posisi dan mengingatkan mereka akan perintah Rasulullah SAW. Namun, para pemanah tak menghiraukan dan menyerbu harta rampasan perang.

Kondisi itu menjadi titik balik pasukan kafir Quraisy. Khalid bin Al-Walid yang kala itu masih musuh Islam memanfaatkan kesempatan "lengah" itu hingga berhasil masuk barisan kaum muslim. Orang-orang musyrik yang melihatnya lantas kembali menyerang. Mereka mengepung kaum muslimin dari dua arah.

Kaum muslimin kehilangan strategi. Mereka terpecah belah sampai tidak bisa membedakan satu sama lain. Mereka kehilangan kontak dengan Rasulullah SAW bahkan hoaks Rasulullah SAW telah terbunuh turut menyebar.

Satu per satu pasukan muslim berguguran di medan Uhud. Sekelompok pasukan lari dari medan perang, sebagian lainnya berada di tepi medan tanpa ikut berperang, dan sebagian lainnya berjuang untuk syahid karena mengira Rasulullah SAW telah wafat.

Gunung Uhud menjadi saksi bisu pertempuran sengit hingga dua fase antara kaum muslimin dan kafir Quraisy. Uhud adalah gunung yang amat dicintai Rasulullah SAW. Beliau pernah bersabda:

إِنَّ أُحُدًا جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ

Artinya: "Sesungguhnya Uhud adalah bukit yang mencintai kita dan kita pun mencintainya." (Shahih Muslim, dari Anas bin Malik)



(kri/inf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads