Dalam jajaran 25 nabi dan rasul yang wajib diimani, kisah Nabi Yunus AS menjadi salah satu narasi yang paling masyhur sekaligus penuh dengan pelajaran spiritual yang mendalam. Mukjizat beliau yang mampu bertahan hidup berhari-hari di dalam perut seekor ikan besar atas izin Allah SWT senantiasa menjadi bukti nyata atas kekuasaan-Nya.
Melalui kisah ini pula, umat Islam diwarisi sebuah untaian doa istighfar yang sangat dahsyat. Doa ini kerap diamalkan ketika seseorang sedang menghadapi jalan buntu, kesempitan hidup, ataupun cobaan yang berat.
Bagaimana kronologi lengkap peristiwa tersebut dan bagaimana doa mulia ini lahir?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Awal Mula Dakwah di Negeri Ninawa
Kisah sejarah Nabi Yunus AS diabadikan secara indah dalam Al-Qur'an, tepatnya pada Surah As-Saffat ayat 139 - 148. Merujuk pada penjelasan Ibnu Katsir dalam Kitab Qashash Al-Anbiyaa yang diterjemahkan oleh Saefullah MS, Nabi Yunus AS awalnya diutus oleh Allah SWT untuk berdakwah di sebuah wilayah bernama Ninawa, yang lokasinya berdekatan dengan Kota Mosul di Irak.
Tugas utama Nabi Yunus AS kala itu adalah mengajak penduduk Ninawa untuk kembali mentauhidkan Allah SWT serta meninggalkan tradisi menyembah berhala. Namun, meski beliau telah mengerahkan waktu dan tenaga untuk berdakwah sekian lama, kaum Ninawa justru memperlihatkan penolakan yang keras dan memilih untuk tetap tenggelam dalam keingkaran.
Rasa Putus Asa dan Kepergian Tanpa Perintah
Melihat respons kaumnya yang bebal dan enggan menerima kebenaran, manusiawi jika kemudian Nabi Yunus AS merasa sangat kecewa, sedih, sekaligus kesal.
Mengutip buku Kisah Para Nabi susunan Ibnu Katsir, sebelum memutuskan pergi, sang nabi sempat memberikan peringatan terakhir bahwa azab Allah SWT yang teramat pedih akan segera turun menimpa negeri tersebut. Beliau lalu melangkah pergi meninggalkan kaumnya dengan perasaan masygul.
Penyesalan Penduduk Ninawa
Menariknya, sepeninggal Nabi Yunus AS, tanda-tanda datangnya siksaan Allah mulai tampak di langit Ninawa. Menyadari ancaman tersebut nyata, seluruh penduduk Ninawa seketika dicekam rasa takut.
Mereka langsung bertobat secara massal, meratapi kesalahan mereka, dan memohon ampunan dengan tulus kepada Allah SWT. Alhasil, Allah SWT menerima tobat mereka dan mengangkat azab tersebut dari Ninawa.
Pelarian di Atas Kapal
Di sisi lain, Nabi Yunus AS terus berjalan menjauh tanpa menyadari bahwa kaumnya telah bertobat. Perlu digarisbawahi bahwa kepergian Nabi Yunus AS saat itu didasari oleh keputusan pribadi dan belum mendapatkan perintah atau izin dari Allah SWT. Beliau kemudian menaiki sebuah kapal sewaan bersama penumpang lain untuk menuju ke tempat baru.
Ujian di Tengah Lautan dan Undian Maut
Perjalanan laut yang semula tenang mendadak berubah mencekam. Kapal yang ditumpangi Nabi Yunus AS dihantam badai hebat hingga memicu gelombang laut yang sangat dahsyat. Kapal mulai oleng dan terancam tenggelam akibat kelebihan muatan barang dan penumpang.
Dikisahkan dalam Qashash Al-Anbiyaa, demi menyelamatkan kapal agar tidak karam, para penumpang sepakat untuk mengurangi beban dengan cara melemparkan salah satu orang ke dalam laut. Untuk menentukan siapa yang harus berkorban, mereka mengadakan sistem undian.
Atas kehendak Allah SWT, ketika undian dikocok, nama Nabi Yunus AS yang keluar. Mengingat beliau adalah sosok yang dikenal saleh, para penumpang merasa ragu dan mengulang undian tersebut hingga tiga kali. Namun, takdir tidak berubah; nama Nabi Yunus AS tetap keluar secara berturut-turut.
Sadar bahwa ini adalah ketetapan-Nya, Nabi Yunus AS akhirnya diceburkan ke dalam laut yang sedang bergemuruh.
Mengarungi Kegelapan di Perut Paus
Begitu menyentuh air, Allah SWT langsung memerintahkan seekor ikan raksasa-yang diduga kuat sebagai ikan paus-untuk menelan Nabi Yunus AS. Allah SWT menjaga tubuh sang nabi agar tetap utuh; beliau tidak hancur, tidak terluka, dan tidak dicerna oleh lambung ikan tersebut.
Nabi Yunus AS pun mendapati dirinya terjebak hidup-hidup di dalam perut paus selama berhari-hari. Terkait durasi pastinya, para ulama memiliki perbedaan pandangan.
Sebagian berpendapat kurang dari satu hari. Sebagian lain menyebutkan 3 hari, 7 hari, hingga ada yang meyakini selama 40 hari.
Hanya Allah SWT sajalah yang mengetahui secara pasti berapa lama sang nabi mendekam di dalam perut ikan tersebut.
Lahirnya Doa Nabi Yunus
Berada di ruang yang sempit, pengap, dan diselimuti tiga kegelapan (kegelapan malam, kegelapan dasar laut, dan kegelapan perut ikan) tidak membuat mental Nabi Yunus AS runtuh. Selama berada di dalam sana, indra pendengaran beliau justru menangkap fenomena yang luar biasa. Beliau mendengar riuh rendah suara dari ikan-ikan lain serta jutaan telur ikan di dasar lautan yang sedang bertasbih, memuji kesucian dan keagungan Allah SWT.
Mendengar zikir alam semesta tersebut, Nabi Yunus AS langsung tersadar akan kekhilafannya yang telah meninggalkan medan dakwah tanpa izin. Dengan penuh penyesalan dan ketundukan, beliau bertobat seraya melantunkan doa yang kini diabadikan dalam Surah Al-Anbiya ayat 87:
لآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنْتَ سُبْحٰنَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظّٰلِمِيْنَ
Arab latin: Lā ilāha illā anta subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn
Artinya: "Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim."
Berkat ketulusan pengakuan dosa dan untaian zikir tersebut, Allah SWT mendengar rintihan Nabi Yunus AS. Allah kemudian memerintahkan ikan paus untuk memuntahkan beliau kembali ke tepi pantai dalam keadaan selamat.
Kisah Nabi Yunus AS mengajarkan kita bahwa seberat apa pun cobaan hidup atau "kegelapan" masalah yang sedang kita hadapi, selalu ada jalan keluar jika kita mau merendahkan hati, mengakui kesalahan, dan kembali bersimpuh kepada Allah SWT.
Doa Nabi Yunus AS bukan sekadar bacaan sejarah, melainkan instrumen zikir harian yang kuat untuk membersihkan jiwa sekaligus mengetuk pintu rahmat-Nya di saat-saat tersulit kita.
Wallahu a'lam.
(hnh/kri)

Komentar Terbanyak
MUI Tegaskan Orientasi Seksual Sesama Jenis Bukan Kodrat, Tapi Penyimpangan
Iran Berencana Bentuk NATO Versi Islam, Ajak Saudi dan Turki
Tukang Tambal Ban Rela Utang demi Haji, Kini Dilunasi Pemerintah-UEA