Ibadah haji memiliki sejarah yang cukup panjang sejak masa Nabi Ibrahim. Dari peristiwa tersebut rangkaian haji mulai dikenal dan terus dijalankan oleh umat Islam hingga sekarang.
Mengacu pada penjelasan Syekh Ali Ahmad al-Jarjawi dalam kitab Hikmatut Tasyri' wa Falsafatuh yang dikutip dari laman resmi Kementerian Agama, haji disyariatkan agar umat Islam berkumpul di satu tempat.
Adapun perbedaan latar belakang seperti suku, budaya, negara, hingga mazhab tidak lagi menjadi pembatas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejarah Haji Nabi Ibrahim di Lembah Bakkah
Awal kisah ini dimulai ketika Nabi Ibrahim menempatkan Siti Hajar dan putranya, Ismail yang masih bayi, di sebuah lembah tandus. Wilayah tersebut kini dikenal sebagai Makkah, yang dahulu disebut Bakkah.
Allah SWT berfirman dalam surah Ali Imran ayat 96,
اِنَّ اَوَّلَ بَيْتٍ وُّضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِيْ بِبَكَّةَ مُبٰرَكًا وَّهُدًى لِّلْعٰلَمِيْنَۚ
Latin: Inna awwala baitiw wuḍi'a lin-nāsi lal-lażī bibakkata mubārakaw wa hudal lil-'ālamīn(a).
Artinya: Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia adalah (Baitullah) yang (berada) di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam.
Saat itu, lembah tersebut belum memiliki sumber air, tidak ditumbuhi tanaman, dan tidak dihuni siapa pun. Setelah meninggalkan keluarganya, Nabi Ibrahim kembali ke Palestina dengan penuh harap kepada Allah.
Ia pun memanjatkan doa agar keluarganya tetap terjaga dan diberi rezeki yang disebutkan dalam surah Ibrahim ayat 37:
رَبَّنَآ اِنِّيْٓ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْٓ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ
Latin: Rabbanā innī askantu min żurriyyatī biwādin gairi żī zar'in 'inda baitikal-muḥarram(i), rabbanā liyuqīmuṣ-ṣalāta faj'al af'idatam minan-nāsi tahwī ilaihim warzuqhum minaṡ-ṡamarāti la'allahum yasykurūn(a).
Artinya: Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak ada tanamannya (dan berada) di sisi rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (demikian itu kami lakukan) agar mereka melaksanakan salat. Maka, jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan anugerahilah mereka rezeki dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur.
Ikhtiar Siti Hajar dan Munculnya Air Zamzam
Setelah Nabi Ibrahim pergi, persediaan air yang dibawa Siti Hajar pun habis. Kondisi ini membuat Ismail kehausan, sementara Siti Hajar terus berusaha mencari jalan keluar.
Ia kemudian berlari antara Bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali untuk mencari air. Upaya tersebut tidak sia-sia. Dengan izin Allah, muncul air dari dekat kaki Ismail. Air itu kemudian dikenal sebagai air zamzam.
Hingga kini, air zamzam tetap mengalir dan masih bisa kita rasakan sampai sekarang.
Perjalanan Siti Hajar tersebut menjadi asal mula ibadah sa'i, yaitu berjalan bolak-balik antara Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali. Saat menjalankannya, jemaah diajak untuk mengingat kembali perjuangan Siti Hajar dalam mencari air untuk anaknya.
Dengan mengetahui kisah tersebut, setiap langkah saat melakukan sa'i mengingatkan pada usaha dan kesabaran yang pernah terjadi di tempat tersebut.
Selain itu, rangkaian ibadah haji lainnya juga memiliki latar peristiwa tersendiri, seperti tawaf, wukuf di Arafah, dan melempar jumrah. Semua itu dapat dipahami lebih baik jika mengetahui kisah di baliknya.
Pembangunan Ka'bah dan Seruan Haji
Setelah peristiwa-peristiwa tersebut, Nabi Ibrahim AS kembali ke Makkah. Pada saat inilah beliau bersama Nabi Ismail AS yang telah dewasa mendapat perintah dari Allah SWT untuk membangun Baitullah.
Dari buku Intisari PAI Integratif Madrasah Ibtidaiyah; Jilid 5 karya Mohammad Hanif, dijelaskan bahwa ketika bangunan Ka'bah mulai meninggi, Nabi Ismail membantu dengan mengangkat sebuah batu besar agar dapat dijadikan pijakan. Dengan izin Allah, Nabi Ibrahim berdiri di atas batu tersebut untuk menyusun bagian atas bangunan.
Bekas pijakan itu tetap ada hingga sekarang di dekat Ka'bah dan dikenal sebagai Maqam Ibrahim. Setelah pembangunan Baitullah selesai, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyeru manusia agar menunaikan ibadah haji.
Allah SWT berfirman dalam surah Al-Hajj ayat 27:
وَاَذِّنْ فِى النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالًا وَّعَلٰى كُلِّ ضَامِرٍ يَّأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ ۙ
Latin: Wa ażżin fin-nāsi bil-ḥajji ya'tūka rijālaw wa 'alā kulli ḍāmiriy ya'tīna min kulli fajjin 'amīq(in).
Artinya: Wahai Ibrahim, serulah manusia untuk (mengerjakan) haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.
(inf/dvs)












































Komentar Terbanyak
Soal Presiden Beli Sapi Kurban Pakai APBN, MUI: Disunnahkan bagi Pemimpin
Prabowo Akan Salat Idul Adha di Prancis, Kurban 1.098 Sapi Tetap Jalan
Guru Besar UIN Jakarta: Sapi Kurban Presiden Dipahami sebagai Program Sosial Negara