Konflik Iran-AS Memanas, Gus Yahya Serukan Perdamaian

Konflik Iran-AS Memanas, Gus Yahya Serukan Perdamaian

Anisa Rizki Febriani - detikHikmah
Rabu, 15 Jul 2026 08:00 WIB
KH Yahya Cholil Staquf di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (14/7/2026).
KH Yahya Cholil Staquf di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (14/7/2026). Foto: Dok Humas PBNU
Jakarta -

Konflik antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas walau sebelumnya sempat ada kesepakatan gencatan senjata. Berkaitan dengan itu, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf menyerukan perdamaian.

Gus Yahya --sapaan akrabnya-- meminta seluruh masyarakat internasional menyerukan penghentian kekerasan. Terlebih konflik tersebut berimbas secara langsung ke banyak negara.

"Saya juga sejak awal menyerukan masyarakat internasional seluruhnya untuk berkonsollidasi mendesak semua pihak menghentikan kekerasan," ujar Gus Yahya di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (14/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya ingin menyampaikan masyarakat internasional dan pemimpin dunia untuk berbicara kepada kedua belah pihak," imbuhnya.

Gus Yahya juga meminta agar Amerika Serikat dan Israel didesak menghentikan kekerasan yang selama ini terjadi. Tindakan tersebut merugikan masyarakat internasional. Selain itu, dia juga meminta dunia Islam, Arab, dan Timur Tengah untuk mengusung perdamaian demi keselamatan dan kemaslahatan bersama.

ADVERTISEMENT

"Marilah kita bicara tentang perdamaian, keselamatan, dan kesejahteraan bersama, kekerasan sekarang juga! Semuanya harus berhenti dari kekerasan yang selama ini diperbuat!" tegasnya Gus Yahya.

Pada kesempatan itu, ia juga menyampaikan hasil pertemuannya dengan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf saat menjadi salah satu delegasi Indonesia untuk memberikan penghormatan terhadap pemakaman Ayatollah Ali Khamenei.

Sesuai pesan Presiden Prabowo Subianto, Gus Yahya menyampaikan harapan agar ke depan persoalan yang dipertentangkan di dalam konflik diproses melalui jalan damai di meja perundingan.

Meski demikian, Gus Yahya menyebut Ketua Parlemen Iran Ghalibaf belum bisa serta merta mengiyakan harapan Indonesia ini, walaupun menyambut baik.

"Tetapi jelas ini perlu iktikad dan inisiatif dari kedua belah pihak, perlu inisiatif dua arah," tandasnya.



(aeb/inf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads