Kisah Kesetiaan Ubadah bin Shamit hingga Jadi Pemimpin Pertama Palestina

Kisah Kesetiaan Ubadah bin Shamit hingga Jadi Pemimpin Pertama Palestina

Hanif Hawari - detikHikmah
Rabu, 28 Jan 2026 05:00 WIB
Kisah Kesetiaan Ubadah bin Shamit hingga Jadi Pemimpin Pertama Palestina
Ilustrasi Ubadah bin Shamit. Foto: Vector_Corp/Freepik
Jakarta -

Ubadah bin ash-Shamit, atau lengkapnya Abul Walid Ubadah bin ash-Shamit bin Qais al-Anshari al-Khazraji, merupakan salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang terkemuka dari kalangan Bani Khazraj. Beliau dikenal sebagai tokoh Anshar yang memiliki peran penting dalam sejarah awal Islam, termasuk sebagai pemimpin yang disegani di Madinah.

Ubadah bin ash-Shamit termasuk salah seorang pemimpin kaum Anshar dalam Baiat Aqabah Pertama. Beliau menjadi utusan Anshar yang pertama kali datang ke Makkah untuk bertemu Rasulullah SAW, menyatakan keislaman, dan mengikrarkan baiat kesetiaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam peristiwa Baiatul Aqabah Pertama yang bersejarah, Ubadah adalah salah satu dari 12 orang beriman yang segera menyatakan keislamannya. Ia menjabat tangan Rasulullah SAW sambil menyatakan dukungan penuh dan kesetiaan kepada beliau, menandai awal komitmen kaum Anshar terhadap dakwah Islam.

Setelah hijrah ke Madinah, Ubadah bin ash-Shamit dipersaudarakan oleh Rasulullah SAW dengan Abu Martsad al-Ghanawi dari kalangan Muhajirin. Persaudaraan ini menjadi simbol persatuan umat Islam yang kuat, Anshar dan Muhajirin saling mendukung dalam membangun masyarakat Madinah yang baru.

ADVERTISEMENT

Kisah Ubadah bin Shamit Setia kepada Allah

Diceritakan dalam buku Kisah Seru 60 Sahabat Rasul oleh Ummu Akbar, sejak Ubadah bin Shamit menyatakan beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, ia memikul segala tanggung jawab akibat pilihan itu dengan sebaik-baiknya.

Segala cinta, kasih, dan ketaatannya hanya tertumpah kepada Allah SWT, serta hubungannya dengan kerabat, sekutu, maupun musuh selalu sesuai dengan norma keimanan.

Keluarga Ubadah telah lama terikat perjanjian dengan orang-orang Yahudi Bani Qainuqa' di Madinah. Saat Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, kaum Yahudi itu awalnya menunjukkan sikap damai dan persahabatan terhadap beliau.

Namun, setelah Perang Badar dan menjelang Perang Uhud, sikap Yahudi Bani Qainuqa' mulai berubah. Mereka menampakkan permusuhan dengan membuat ulah, menimbulkan fitnah, dan keributan di kalangan kaum Muslimin.

Melihat pengkhianatan itu, Ubadah bin Shamit segera bertindak tegas. Ia membatalkan perjanjian lama dengan Bani Qainuqa' dan menyatakan kesetiaannya hanya kepada Allah serta Rasul-Nya.

Ubadah berkata dengan tegas, "Saya hanya akan mengikuti pimpinan Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman!" Pernyataan ini mencerminkan prioritas imannya di atas ikatan suku atau perjanjian lama.

Sikap Ubadah ini berbeda dengan Abdullah bin Ubayy yang tetap mempertahankan aliansi dengan Yahudi. Ubadah justru memilih berlepas diri sepenuhnya dari sekutu kafir demi kesetiaan kepada Islam.

Tidak lama setelah itu, turunlah ayat Al-Qur'an dari surah Al-Ma'idah yang memuji kesetiaan Ubadah.

وَمَنْ يَّتَوَلَّ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فَاِنَّ حِزْبَ اللّٰهِ هُمُ الْغٰلِبُوْنَࣖ ۝٥٦

Artinya: Siapa yang menjadikan Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, sesungguhnya para pengikut Allah itulah yang akan menjadi pemenang." (QS Al-Ma'idah: 56)

Memimpin Tanah Palestina

Dalam catatan sejarah Islam, setelah wilayah Syam berhasil ditaklukkan oleh umat Muslim, beberapa sahabat Nabi diutus untuk menyebarkan ajaran Islam serta mengajarkan Al-Qur'an kepada penduduk setempat. Di antara sahabat yang diutus tersebut adalah Abu Darda' ke Damaskus dan Ubadah bin Shamit ke Palestina.

Atas perintah tersebut, Ubadah bin Shamit kemudian menetap di Palestina sebagai pendakwah untuk memperkenalkan Islam dan mengajarkannya kepada masyarakat di sana. Ia tinggal bertahun-tahun di wilayah itu, hingga akhirnya mayoritas penduduk setempat memeluk agama Islam.

Tak lama setelah itu, Ubadah bin Shamit menerima penugasan untuk menjadi pemimpin di Palestina. Sejak saat itulah sistem pemerintahan Islam mulai diterapkan di wilayah tersebut.

Pengangkatan Ubadah bin Shamit sebagai pemimpin di Palestina bukan tanpa alasan. Beliau dianggap sebagai figur yang sangat sesuai untuk memimpin daerah tersebut karena keilmuan, keteguhan, dan keteladanannya dalam Islam.




(hnh/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads