Mengapa Yordania Berperan dalam Penjagaan Masjid Al-Aqsa? Ini Sejarahnya

Mengapa Yordania Berperan dalam Penjagaan Masjid Al-Aqsa? Ini Sejarahnya

Indah Fitrah Yani - detikHikmah
Kamis, 06 Agu 2026 16:15 WIB
Aerial view of the Dome of the Rock mosque in Jerusalem
Kompleks Masjid Al-Aqsa. Foto: Getty Images/iStockphoto/stevenallan
Jakarta -

Yordania kembali menyuarakan kekhawatiran atas kemungkinan Israel mengambil alih kompleks Masjid Al-Aqsa dalam waktu dekat. Pemerintah Yordania menilai langkah tersebut dapat mengubah status quo yang telah lama berlaku di kawasan itu sehingga berisiko memicu konflik agama yang lebih luas.

Dilansir The Guardian, Yordania menggelar pertemuan darurat dengan para menteri luar negeri negara-negara Arab dan Islam pada Rabu (5/8/2026) untuk membahas ancaman terhadap Masjid Al-Aqsa. Masjid yang berada di Yerusalem itu merupakan tempat suci ketiga bagi umat Islam setelah Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kekhawatiran Yordania muncul karena adanya potensi perubahan aturan yang selama ini berlaku di kompleks Al-Aqsa. Dalam status quo yang berjalan, umat Islam tetap memiliki hak beribadah di kawasan tersebut, sementara urusan keagamaan dikelola oleh lembaga wakaf Islam di bawah pengawasan Yordania.

Sejarah Peran Yordania dalam Menjaga Masjid Al-Aqsa

Peran Yordania dalam menjaga Masjid Al-Aqsa memiliki sejarah panjang. Mengutip Middle East Monitor, sejarah tersebut bermula pada 1924 ketika Sharif Hussein Ibn Ali Al-Hashimi, Raja Hijaz saat itu, menerima kunjungan Mufti Besar Yerusalem, Hajj Amin Al-Husseini. Dalam pertemuan tersebut, Hajj Amin menyampaikan bahwa Masjid Al-Aqsa menghadapi ancaman dan meminta bantuan untuk masyarakat Yerusalem yang sedang mengalami kesulitan.

ADVERTISEMENT

Sharif Hussein kemudian menyumbangkan 50.000 lira emas untuk memperbaiki Masjid Al-Aqsa dan tempat-tempat suci lainnya di Yerusalem. Langkah itu menjadi awal peran keluarga Hashemiyah dalam menjaga dan merawat situs suci Islam tersebut.

Hampir satu abad kemudian, Raja Abdullah II dari Yordania yang merupakan keturunan Sharif Hussein tetap melanjutkan peran keluarga Hashemiyah sebagai penjaga Masjid Al-Aqsa. Yordania menegaskan memiliki tanggung jawab hukum, agama, dan moral untuk melindungi Yerusalem.

Peran Yordania Melalui Jerusalem Islamic Waqf

Dilansir Arab News, peran Yordania di Masjid Al-Aqsa dijalankan melalui Jerusalem Islamic Waqf (Organisasi Wakaf Islam Yerusalem), lembaga wakaf Islam yang mengelola kompleks tersebut. Lembaga ini berada di bawah administrasi Yordania dan bertugas mengurus berbagai urusan keagamaan, termasuk mengatur pelaksanaan ibadah umat Islam di Al-Aqsa.

Dalam status quo yang berlaku, umat Islam memiliki hak untuk beribadah di kompleks Masjid Al-Aqsa. Sementara itu, umat nonmuslim diperbolehkan berkunjung pada jam-jam tertentu, tetapi tidak diizinkan melaksanakan ibadah di kawasan tersebut.

Meskipun Yerusalem mengalami berbagai perubahan dalam sejarah modern, mulai dari konflik, pembagian wilayah, hingga perubahan kekuasaan, peran Yordania dalam pengelolaan Masjid Al-Aqsa tetap berlangsung.

Bagi Yordania, mempertahankan status quo di Masjid Al-Aqsa merupakan tanggung jawab yang diwariskan dari hubungan panjang keluarga Hashemiyah dengan Yerusalem. Karena itu, setiap perubahan terhadap pengaturan atau pengelolaan kawasan tersebut dinilai berisiko meningkatkan ketegangan dan memicu konflik agama yang lebih luas.



(inf/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads