Di bawah sana, dari ruang batin warga NU, terdengar suara lirih. Suara-suara itu bersemayam di dalam bilik jiwa yang resah. Mereka merasa, saat ini tidak mudah menjadi warga jam'iyyah. Namun begitu, mereka akan tetap berdoa untuk mengurangi ketebalan rasa gundah dan demi kebaikan jam'iyyah. Gundah akibat situasi menuju muktamar ke-35, yang mereka rasakan sedang tidak baik-baik saja. Berdoa agar para pemegang amanah suara, lebih tenang mendengar suara lirih itu, dan memastikan jam'iyah di atas segala.
"Dihalangi berdoa lebih menyedihkan daripada terhalangi untuk dikabulkan," kata Ibnu Hazim al-A'raj. Dan, warga NU "kecanduan" doa. Berdoa di saat gundah, adalah kegundahan. Tapi, memang itulah saat-saat di mana hamba tidak sungkan merajuk kepada tuhannya. Kegundahan yang bisa mengantarkannya pada sikap tawakal, taslim dan tafwid. Kepada Allah, jemaah memasrahkan jam'iyyah. Dan, inilah jenis kemaslahatan terakhir yang warga NU miliki; berdoa.
Di salah satu grup whatsupp sebuah majelis wakil cabang, nyaris setiap hari lembaran-lembaran doa, masuk susul menyusul. Dari tawasul hingga manaqib. Dari maulidan hingga barzanjian. Dari yasinan hingga tabarokan. Semua diakhiri dengan istigasah, munajat dan doa sublim untuk kejaayaan jam'iyyah dan jamaah. Dan tidak lupa, dalam setahun terakhir, dari bibir-bibir yang selalu basah itu, tersisipkan doa untuk muktamar dan kemudahan para pimpinan memilih para pemimpin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anda menampik sinyal adanya rasa kurang nyaman ini? Antum akan bilang itu jamak terjadi di organisasi, dan lebih-lebih di setiap menjelang muktamar, kongres dan munas? Jenengan melihat ini cuma dinamika biasa sehingga tak perlu dibesar-besarkan apalagi harus melaporkan kepada Tuhan? Plis. Hatta jika itu benar, hanya dinamika biasa seperti yang Anda yakini, maka bisa jadi ini adalah berkah "mukasyafah" para kiai, bahwa ada rasa yang tidak tertaut antara pimpinan dan ra'iyyah.
Cabang yang masygul
Berkah ini akan sangat bagus jika dijadikan momentum untuk rujuk batin antara pimpinan dengan warga. Tidak tertautnya batin, boleh jadi dirasakan pula oleh para pimpinan cabang dan pimpinan wilayah dalam hubungannya dengan pimpinan di tingkat pengurus besar. Gesekan kecil yang sempat terjadi di arena munas alim ulama dan konbes NU tempo hari di Ploso Kediri, adalah isyarat yang nyata bahwa tali batin itu terkoyak akibat hal yang tak mudah dijelaskan.
Karena tidak mudah dijelaskan, maka cabang-cabang sedang masygul. Tidak mudah bagi cabang, datang ke muktamar dengan satu keputusan organisasi yang solid. Jangankan memilih satu nama untuk jabatan Ketua Umum, bahkan untuk membawa pesan suara lirih dalam doa dari bawah itu, tidak akan terasa gamang. Padahal muktamar tinggal menghitung hari. Cabang-cabang itu baru bisa menimbang-nimbang nama-nama kandidat.
Dalam suasana seperti ini, "keramat" Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang yang disepakati jadi lokasi muktamar, diharapkan dapat mengendorkan syaraf-syaraf yang sekian lama menyebabkan ketegangan. Warga NU meyakini, karomah KH A. Wahab Hasbullah, akan mampu menetralisir anasir-anasir negatif yang akan mengganggu jam'iyyah dan jema'ah NU dalam perjalanannya di awal abad kedua ini. Saatnya muktamirin bisa merasakan langsung betapa segarnya jejak telapak kaki magis Kiai Wahab.
Sambil bertawasul kepada Kanjeng Nabi, para ulama serta muassis NU, berharap para pimpinan NU, berkirim Alfatihah dan kalimat toyyibah khusus untuk Mbah Wahab sebagai Rais Aam NU. Berharap balasan doa dan restu beliau. Berharap agar setiap kaki para peserta muktamar yang menjejak bekas telapak kaki Mbah Wahab, memperoleh bias kejernihan hati beliau, mendapatkan berkah kecerdasan batin, serta karomah ketajaman futuwwah dan isyarat ilahi yang diwariskan Mbah Wahab.
Mazhab Maslahat
Ketika sistem dan mekanisme "Ahlul Halli wal 'Aqdi" digunakan sebagai cara memilih Rais Aam di muktamar 33 di Jombang, hal utama yang jadi alasan adalah untuk menjaga marwah dan maqam para ulama. Menyeret mereka ke arena "free fights" dalam forum pemilihan, potensial membuka pintu saling serang antarpendukung. Atau munculnya hasrat buruk lain dengan cara mencari-cari "dosa" para pihak. Sementara ini, warga melihat posisi ulama adalah figur yang jauh dari tabiat kejar mengejar jabatan.
Untuk menghindari hal-hal negatif, penting dipikirkan agar nilai-nilai luhur (bukan sistemnya) dalam Ahlul Halli wal Aqdi ini, dapat diadaptasi dalam pemilihan Ketua Umum. Orang nomor satu di jajaran Tanfidziyah PBNU, juga wajib dijaga marwahnya. Sebab, dia adalah "tangan kanan", administratur dan kepala eksekutif yang akan memastikan semua arahan, kebijakan, dan taujihat Syuriyah, dapat berjalan benar. Dia wajib dijaga dari proses eksesif yang membuatnya "cacat".
Untuk menghidarkan para kandidat dari ancaman insinuasi, lahirnya sikap prejudice dan pembunuhan karakter, maka dianggap penting menyediakan arah yang lebih substantif, yakni menjadikan muktamar NU sebagai momentum untuk meneguhkan kembali orientasi jam'iyyah pada kemaslahatan umat. Beyond konsep normatif, tapi pada prinsip yang harus diwujudkan dalam bentuk kebijakan dan kemanfaatan yang dapat dirasakan langsung oleh warga.
Semisal masalah kesehatan yang merupakan kebutuhan mendasar dan tidak dapat dipisahkan dari kualitas kehidupan umat. Tidak sedikit warga yang masih menghadapi keterbatasan akses layanan kesehatan, terutama di kampung, desa dan daerah terpencil. Sebagai organisasi yang memiliki jaringan hingga tingkat akar rumput, NU mempunyai modal sosial yang sangat besar untuk memperkuat pelayanan kesehatan berbasis warga.
Selain akses, keberadaan rumah sakit, klinik, lembaga pendidikan kesehatan, serta jaringan pesantren yang tumbuh subur di tengah lingkungan warga, juga dapat diarahkan menjadi gerakan kesehatan umat yang lebih sistematis. Dakwah bil lisan yang mendiseminasi perkara kesehatan, harus menjadi bagian dari dakwah keagamaan. Kesadaran hidup sehat, pencegahan penyakit, kesehatan mental, hingga pelayanan bagi kelompok rentan, sangat penting menjadi perhatian bersama.
Ikhtisar
Sebelum ada pikiran-pikiran nakal yang coba memancing di ruang-ruang gelap di sela-sela muktamar, ada baiknya urusan kemaslahatan warga, dijadikan alasan kenapa seorang kandidat dipilih jadi Ketua Umum. Ia haruslah seseorang yang sisi maslahatnya, lebih besar dari unsur mafsadatnya. Sebab, tidak mungkin muktamirin menemukan sosok primus inter pares, di antara nama-nama yang saat ini terus memenuhi ruang-ruang publik, yang bersih sebersih bersihnya dari kekurangan.
Rasa-rasanya, muktamirin sudah paham kemaslahatan Gus Yahya, Kiai Zulfa, Prof Nasaruddin, Gus Kikin, Gus Salam, Gus Rozin, Gus Yusuf, Prof Mukri serta nama-nama lainnya. Jangan sampai karena sudah mengenal kebaikannya, demi tujuan tertentu, lalu usil membuat daftar catatan "kelemahan" masing-masing kandidat. Kini, di awal abad kedua perjalanannya, warga NU tengah membutuhkan kemaslahatan dalam dua jenis secara konstan; batin dan materi. Bahagia fid daraini. (*)
Ishaq Zubaedi Raqib
Penulis adalah Jurnalis senior Mustasyar MWC NU Pasirangin, Cileungsi, Bogor
Artikel ini adalah kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab pribadi penulis. (Terimakasih - Redaksi)

Komentar Terbanyak
Korupsi Makin Parah, MUI Dorong Pemerintah Terapkan Hukuman Mati bagi Koruptor
5 Hewan yang Boleh Dibunuh dalam Islam
Muhammadiyah Jadi Organisasi Indonesia Pertama di Dewan Muslim Inggris