Ciri-ciri Orang Cerdas Menurut Islam, Ukurannya Tak Hanya IQ

Ciri-ciri Orang Cerdas Menurut Islam, Ukurannya Tak Hanya IQ

Aulia Retno Utami - detikHikmah
Jumat, 02 Okt 2026 10:15 WIB
Ilustrasi orang pintar atau jenius
Ilustrasi orang cerdas. Foto: Getty Images/iStockphoto/ALLVISIONN
Jakarta -

Umumnya, orang dikatakan cerdas diukur berdasarkan kemampuan intelektual atau IQ. Namun dalam Islam, kecerdasan seseorang tidak hanya diukur melalui kemampuan intelektual, melainkan dilihat dari aspek lain.

Berikut adalah uraian lengkap ciri-ciri orang cerdas menurut Islam yang tidak hanya diukur melalui tingginya IQ.

Ciri Orang Cerdas Menurut Sabda Rasulullah

Orang cerdas tentunya memiliki ciri-ciri khusus yang membedakannya dengan orang-orang pada umumnya. Bahkan, Rasulullah SAW pernah menyebutkan ciri orang cerdas dalam sabdanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi dalam Akhlaq Al-Islam yang dikutip dari buku Khutbah Inspiratif: Amal, Sosial dan Kebahagiaan karya Najamuddin Petta Solong, dkk., Rasulullah SAW bersabda,

الْكَيْسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

ADVERTISEMENT

Artinya: "Orang cerdas adalah yang bermuhasabah atas dirinya dan beramal untuk apa yang setelah kematian. Orang lemah adalah siapa saja yang dirinya mengikuti hawa nafsunya lalu ia berangan-angan terhadap Allah." (HR. Ahmad)

Mengenai hadits di atas, Imam Nawawi menyebutkan, menurut Imam At-Tirmidzi dan ulama lainnya, makna "Al-kayyis" adalah orang cerdas. Sementara itu, lafaz "dan-nafsahu" berarti bermuhasabah atas dirinya. Dengan ini, dapat dimaknai bahwa seseorang dapat bermuhasabah dengan cara selalu mencari kesalahan dalam diri sendiri dan bukan orang lain, serta berusaha memperbaikinya.

Adapun hadits lain yang meriwayatkan hal serupa yang dikutip dari buku Dasar-dasar Memahami Iman, Islam, dan Ihsan karya Ipnu R. Noegroho. Dari Ibnu Umar RA, ia berkata,

"Aku pernah bersama Rasulullah SAW, lalu seorang Anshar mendatangi beliau. Ia memberi salam dan bertanya, 'Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?' Beliau bersabda, 'Yang paling baik akhlaknya.' 'Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?' Rasulullah SAW bersabda, 'Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya. Itulah mereka yang paling cerdas.'" (HR. Ibnu Majah)

Makna Bermuhasabah Jadi Ciri Orang Cerdas

Ustaz Ali Romzan dalam bukunya yang berjudul Enam Alam Kehidupan Manusia Menurut Perspektif Islam menyebutkan beberapa hal yang berkenaan dengan muhasabah diri menjadi ciri orang cerdas yang disebutkan oleh Rasulullah SAW.

Pertama, Islam tidak melihat kecerdasan hakiki hanya diukur dengan kemampuan intelektual, melainkan dilihat juga dari kemampuan mengelola diri, menahan hawa nafsu, dan mempersiapkan bekal untuk di akhirat kelak.

Dalam hal ini, muhasabah diri menjadi kunci keselamatan lantaran seseorang yang menilai dirinya setiap hari akan terhindar dari dosa atau kesalahan yang menumpuk.

Sementara itu, kelemahan sejati bukan terletak pada fisik, melainkan pada jiwa yang tunduk pada hawa nafsu tanpa mampu mengendalikannya. Demikian pula adanya angan-angan kosong merupakan penyakit spiritual yang mengharapkan surga, ampunan dan rahmat Allah SWT, tetapi tidak diiringi dengan berbuat amal baik dan tidak menjauhi maksiat.

Cara Bermuhasabah Diri

Berikut adalah cara bermuhasabah diri yang dihimpun dari buku La Tahzan tulisan Ipnu R Noegroho.

1. Jangan Pernah Merasa Sempurna

Cara bermuhasabah diri yang pertama adalah dengan tidak merasa sempurna, sehingga tidak meremehkan nikmat yang telah dianugerahkan Allah SWT.

Dari Abu Hurairah RA berkata, "Lihatlah kepada orang-orang yang lebih rendah daripada kalian, dan janganlah kalian memandang kepada orang-orang yang berada di atas kalian, karena yang demikian itu lebih patut bagi kalian, supaya kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang sudah dianugerahkan kepada kalian semua." (HR. Bukhari & Muslim)

2. Bermuhasabah Sebelum Perbuatan Dilakukan

Perlu diingat setiap sebelum melakukan perbuatan, hendaknya dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh terlebih dahulu. Timbang apakah perbuatan tersebut bermanfaat dan memiliki tuntunan yang sah atau tidak, karena jangan sampai niat baik berujung dosa akibat tidak sesuai syariat.

Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut.

"Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan taat kepada pemimpin walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Karena barang siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunahku dan sunah Khulafaur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah dia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bidah dan setiap bidah adalah kesesatan." (HR. At Tirmidzi)

3. Bermuhasabah Setelah Perbuatan Selesai Dilakukan

Terakhir, setelah selesai melakukan perbuatan, baiknya melakukan muhasabah dengan merenungkan apakah perbuatan yang dilakukan sudah sesuai syariat, sudah memenuhi sunah dan rukun, apakah sudah dilakukan secara ikhlas, dan pertimbangan lainnya.



(inf/inf)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads