- Profil Singkat Muhammad Al-Fatih
- Siasat Tak Terduga Muhammad Al-Fatih Kerahkan 70 Kapal Lewati Daratan
- Muhammad Al-Fatih Berhasil Taklukkan Konstantinopel
- Rahasia Siasat Cerdas Muhammad Al-Fatih Ketika Taklukkan Konstantinopel 1. Membangun Benteng Pertahanan dalam Waktu Tiga Bulan 2. Merancang Meriam Kuat untuk Menghancurkan Benteng 3. Menembus Rantai di Teluk Tanduk Emas dengan Memindahkan 70 Kapal Lewati Daratan
- Jejak Muhammad Al-Fatih setelah Taklukkan Konstantinopel
Sultan Muhammad Al-Fatih dikenal sebagai panglima cerdik yang berhasil menaklukkan Konstantinopel, sebuah kota berpengaruh dengan benteng pertahanan paling kuat pada masanya. Kunci keberhasilan penaklukan ini tak lepas dari siasatnya yang tak terduga dengan memindahkan 70 kapal perang melintasi daratan hanya dalam waktu satu malam.
Berikut adalah kisah lengkap siasat cerdas Al-Fatih dan pasukannya dalam menaklukkan Konstantinopel.
Profil Singkat Muhammad Al-Fatih
Tercatat dalam buku Muhammad Al-Fatih karya Muhammad Hafiidh Ar Rasyiid, Muhammad Al-Fatih lahir pada 30 Maret 1432 di Kota Adrianopel yang kini menjadi wilayah Edirne, Turki.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Al-Fatih lahir dari pasangan Sultan Murad II dan Huma Hatun. Sejak kecil, Al-Fatih telah menunjukkan bakat dan potensi luar biasa dalam bidang militer dan kepemimpinan. Bahkan ketika usianya baru memasuki 19 tahun, ia telah naik tahta sebagai Sultan Utsmaniyah pada 1451.
Sebagai seorang pemimpin, ia memiliki visi untuk memperluas Kesultanan Utsmaniyah, termasuk keinginannya untuk merebut Konstantinopel. Merupakan kota yang sangat berpengaruh, Konstantinopel memiliki pertahanan yang kuat dan dianggap tidak bisa ditaklukkan. Namun berkat siasat cerdas dan kegigihan Al-Fatih, Konstantinopel berhasil dikepung selama berbulan-bulan sebelum akhirnya jatuh ditaklukkan oleh Al-Fatih dan pasukannya pada 1453. Dalam penaklukan Konstantinopel ini, terdapat kisah menarik mengenai siasat Al-Fatih yang tak terduga.
Siasat Tak Terduga Muhammad Al-Fatih Kerahkan 70 Kapal Lewati Daratan
Merangkum tulisan Ratna Rengganis dalam bukunya yang berjudul Sosok di Balik Perang, Muhammad Al-Fatih awalnya menggunakan strategi perang dengan membobol benteng dan menerobos laut menggunakan 70 kapal dan 20 galley untuk masuk ke Selat Golden Horn (Tanduk Emas). Tak hanya itu, Al-Fatih juga disebut membuat meriam terbesar dan terkuat yang pernah ada pada saat itu.
Namun kenyataannya, meriam besar pun tak mampu masuk ke Selat Golden Horn lantaran terhalang rantai besar di lautan. Bahkan, upayanya menggali terowongan bawah tanah juga gagal total sehingga menyebabkan pasukan Al-Fatih menanggung kerugian cukup besar.
Kendati demikian, Al-Fatih tidak menyerah dan menyusun siasat tak terduga dengan kecerdasan yang dimilikinya. Al-Fatih bersama dengan pasukannya mengerahkan 70 kapal perang ke darat dengan menggunakan landasan kayu yang dilumuri minyak binatang. Kapal tersebut dibawa menaiki Bukit Galata dengan total perjalanan sejauh 16 kilometer hanya dalam rentang waktu semalam. Saking singkatnya, kapal-kapal Al-Fatih disebut seolah-olah berlayar mengarungi perbukitan dalam satu malam.
Muhammad Al-Fatih Berhasil Taklukkan Konstantinopel
Setelah 70 kapal tersebut dibawa melintasi daratan, pasukan Al-Fatih merangsek dan mulai mengepung Konstantinopel. Kala itu, pasukan Byzantium memusatkan perhatian kepada Selat Bosporus dengan benteng-benteng yang sangat kokoh menghadang setiap musuh yang datang menghampiri. Namun, mereka dikejutkan oleh kedatangan pasukan Al-Fatih dengan 70 kapal perang mereka yang berhasil memasuki wilayah Tanduk Emas.
Pertahanan pasukan Byzantium semakin melemah, begitu juga dengan semangat juang mereka yang turut merosot. Bahkan, mereka sampai mengira pasukan Al-Fatih dibantu hantu sehingga dapat membawa kapal-kapal tersebut ke garis pertahanan mereka. Tatkala fokus dan konsentrasi terpecah, pasukan Al-Fatih merobohkan tembok pertahanan mereka.
Kekuatan pertahanan Konstantinopel yang berusaha dikalahkan sejak masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan RA hingga beberapa sahabat Rasulullah SAW lainnya, akhirnya jatuh di tangan Al-Fatih dan pasukannya. Berkat kecerdasan dan kegigihannya, Sultan Muhammad Al-Fatih dan pasukannya dijuluki sebagai panglima dan pasukan terhebat.
Rahasia Siasat Cerdas Muhammad Al-Fatih Ketika Taklukkan Konstantinopel
Para ahli sejarah menyebut siasat cerdas Al-Fatih terletak pada fakta bahwa ia merencanakan strateginya setelah menentukan hal-hal yang dapat menyebabkan kegagalan. Disebutkan dalam buku Muhammad Al-Fatih karangan Syaikh Ramzi Al-Munyawi, berikut adalah rahasia siasat Al-Fatih dalam menaklukkan Konstantinopel.
1. Membangun Benteng Pertahanan dalam Waktu Tiga Bulan
Lantaran tidak adanya benteng kaum muslim yang berdiri di depan pagar-pagar benteng Konstantinopel, Al-Fatih membangun benteng dalam batas waktu tidak lebih dari tiga bulan. Ia mengumpulkan para pekerja dan tenaga mahir profesional, hingga akhirnya pekerjaan yang biasanya membutuhkan waktu satu tahun dapat rampung hanya dalam tiga bulan.
2. Merancang Meriam Kuat untuk Menghancurkan Benteng
Untuk mengatasi ketiadaan meriam yang kuat, Al-Fatih membebaskan seorang ahli meriam asal Hongaria dari penjara Konstantinopel melalui jalur terowongan rahasia untuk membuat senjata penghancur benteng. Setelah tiga bulan, sang ahli berhasil menciptakan meriam raksasa berbobot ratusan pound yang membutuhkan puluhan kerbau dan prajurit kuat untuk memindahkannya. Saat diuji coba, daya hancur dan dentuman keras meriam ini terbukti ampuh hingga menciptakan lubang sedalam enam kaki di tanah.
3. Menembus Rantai di Teluk Tanduk Emas dengan Memindahkan 70 Kapal Lewati Daratan
Untuk mengatasi rantai penghalang di Teluk Tanduk Emas, Al-Fatih memindahkan 70 kapal menaiki gunung menggunakan balok kayu berminyak hanya dalam waktu semalam. Strategi luar biasa yang mengejutkan pihak Konstantinopel ini menyebabkan adanya pengepungan selama 53 hari hingga akhirnya Konstantinopel berhasil ditaklukkan. Usai kemenangan tersebut, Al-Fatih dan pasukannya mengungkapkan rasa syukur dengan menunaikan salat dua rakaat.
Jejak Muhammad Al-Fatih setelah Taklukkan Konstantinopel
Usai menaklukkan Konstantinopel, Al-Fatih berhasil menaklukkan Otranto, sebuah kota di ujung Italia pada 1480. Tak lama setelahnya, Al-Fatih menyiapkan pasukan yang skalanya lebih besar untuk menaklukkan Roma.
Namun, ketika pasukan perang untuk menaklukkan Roma bergerak dari Uskudar, Al-Fatih jatuh sakit. Penyakit radang sendi yang ia derita sejak 1470 semakin parah. Saat itu, Al-Fatih tak menghiraukan sakitnya dan tetap bergerak menuju Roma. Namun sayang, sebelum ia tiba di Roma, Al-Fatih telah lebih dulu mengembuskan napas terakhirnya pada 3 Mei 1481 saat usianya menginjak 49 tahun.
(kri/kri)
