Di antara keluasan hikmah-Nya, Allah SWT kerap melebihkan sebagian ciptaan-Nya di atas yang lain. Sebagaimana bulan Ramadan yang ditetapkan sebagai sebaik-baik bulan, hari Jumat sebagai penghulu hari, serta dua kota suci Makkah dan Madinah sebagai tanah yang paling dicintai-Nya. Hal serupa juga berlaku pada negeri Yaman.
Selain dua tanah haram, Yaman menempati posisi yang sangat istimewa dalam sejarah Islam. Rasulullah SAW berulang kali melontarkan pujian mulia bagi masyarakatnya. Pujian ini bukan sekadar gelar kehormatan kosong, melainkan bentuk apresiasi atas sifat, ketulusan iman, dan karakter unggul penduduk Yaman.
Keutamaan Penduduk Yaman
Salah satu keutamaan besar penduduk Yaman tersirat dalam firman Allah SWT pada Surah Al-Ma'idah ayat 54. Para ahli tafsir kenamaan, seperti Imam Al-Qurtubi dalam tafsirnya, menegaskan bahwa penafsiran paling sahih mengenai kaum yang dimaksud ayat ini adalah kabilah Al-Asy'ari dan rombongan kaum muslimin asal Yaman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pandangan ini diperkuat oleh Imam Ibnu Jarir At-Thabari, yang menyatakan riwayat paling kuat dari Rasulullah SAW merujuk pada kaum sahabat Abu Musa Al-Asy'ari dari Yaman. Merekalah yang kelak tercatat berjasa besar dalam menaklukkan wilayah Irak lewat Perang Al-Qadisiyyah pada era Khalifah Umar bin Khattab.
Selain itu, keistimewaan Yaman juga disebutkan dalam hadits lain. Dalam buku Tafsir Ar-Rahman Juz 30 tulisan Rachmat Morado Sugiarto disebutkan bahwa beberapa saat sesudah surah An-Nasr turun Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, "Penduduk negeri Yaman telah datang kepada kalian. Mereka adalah orang-orang yang paling lembut hatinya. Iman iu ada pada Yaman. Fiqih (memahami agama) ada pada Yaman. Hikmah ada pada Yaman." (HR Imam Ahamd.)
Salah satu hadits dalam riwayat Ibnu Abbas menjelaskan ketika berada di Madinah, Rasulullah SAW bersabda,
"Allahu Akbar, Allahu Akbar, telah datang pertolongan Allah dan pembebasan, dan telah datang penduduk Yaman: kaum yang bersih hatinya lagi lembut tabiatnya. Iman itu ada pada Yaman, fikih itu ada pada Yaman, dan hikmah itu ada pada Yaman." (HR. Ibnu Hibban dan disahihkan Syaikh Al-Albani)
Sebab Penduduk Yaman Pernah Dipuji Rasulullah SAW
1. Berhati Lembut dan Mudah Menerima Kebenaran
Alasan mendasar mengapa Nabi SAW sangat mengagumi penduduk Yaman adalah watak dasar mereka. Mereka dikenal memiliki jiwa yang halus, tidak keras kepala, serta sangat terbuka terhadap kebenaran dakwah tauhid.
Imam An-Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim membedah sabda Nabi perihal kelebihan fikih dan hikmah di Yaman. Beliau menjelaskan bahwa fikih ini bermakna pemahaman mendalam terhadap hukum syariat praktis.
Sementara hikmah mencakup ilmu syariat yang dipadukan dengan makrifat kepada Allah, kejernihan mata batin, adab jiwa yang matang, serta kemampuan teguh menahan diri dari hawa nafsu dan kebatilan.
Kecintaan Nabi SAW kepada Yaman tercurah dalam doa yang dipanjatkannya secara khusus, "Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Syam kami. Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Yaman kami." (HR. Bukhari dan Ahmad)
Doa ini menjadi jaminan spiritual bahwa tanah dan masyarakat Yaman senantiasa dinaungi keberkahan di sisi Allah SWT. Selain itu, Rasulullah SAW memberikan kehormatan tertinggi di akhirat kelak.
Dalam hadis riwayat Imam Muslim dari sahabat Tsauban, Nabi SAW mengabarkan bahwa beliau kelak akan berdiri di samping telaganya, lalu memukul dengan tongkatnya untuk menahan orang lain demi memberi jalan bagi rombongan penduduk Yaman agar dapat meminum air telaga tersebut paling pertama.
2. Pelopor Adab Berjabat Tangan dan Penuntut Ilmu yang Gigih
Tradisi bersalaman atau berjabat tangan yang hari ini menjadi simbol kehangatan sesama muslim ternyata dipelopori oleh masyarakat Yaman. Sahabat Anas bin Malik meriwayatkan sabda Nabi:
"Sesungguhnya telah datang kepada kalian penduduk Yaman. Merekalah pelopor pertama dalam hal berjabat tangan."
Tak hanya ramah, mereka juga haus akan ilmu syariat. Ketika utusan Yaman sowan meminta guru pengajar, Nabi SAW langsung mengutus Abu Ubaidah bin Al-Jarrah seraya menjulukinya sebagai sosok terpercaya umat (amin hadzihil ummah).
3. Memiliki Akhlak yang Baik
Semangat ibadah orang Yaman pun luar biasa. Rasulullah SAW pernah bersabda kepada para sahabat bahwa kelak akan datang suatu kaum yang amalannya membuat orang lain merasa minder. Saat sahabat bertanya apakah mereka kaum Quraisy, Nabi menjawab tegas:
"Bukan, mereka adalah penduduk Yaman." (HR. Ibnu Abi Ashim)
Bahkan dalam riwayat lain, Nabi SAW menyebut mereka laksana segumpal awan dan menjulukinya sebagai "sebaik-baik penduduk bumi" (HR. Ahmad dan Bukhari).
Kelembutan hati, keteguhan akidah, ketaatan ibadah, serta kehangatan adab itulah yang menjadikan penduduk Yaman begitu istimewa dan harum namanya di lisan Rasulullah SAW.
4. Bersedia Menerima Kabar Baik dari Rasulullah SAW
Dikutip dalam buku Kajian Tauhid dalam Bingkai Aswaja tulisan Ahmad Hawassy disebutkan sebuah hadits dari Imran bin Hushain, berkata: "Aku bersama Nabi, tiba-tiba datanglah kaum dari golongan Bani Tamim (penduduk Najd).
Nabi berkata kepada mereka: "Terimalah kabar gembira wahai Bani Tamim!" Mereka menjawab: "Engkau telah memberi kami kabar gembira kepada kami, oleh karena itu berilah kami [harta benda]!" Lalu datanglah orang-orang dari penduduk Yaman.
Nabi berkata kepada mereka: "Terimalah kabar gembira wahai penduduk Yaman, karena Bani Tamim tidak mau menerimanya!" Penduduk Yaman menjawab: "Kami menerima kabar gembira itu wahai Rasulullah dengan senang hati. Kami datang kemari untuk mempelajari ilmu agama dan untuk menanyakan perihal permulaan apa yang ada di dunia ini!" Nabi menjawab: "Allah itu ada, pada saat sesuatu apa pun belum ada. Arasynya Allah itu ada di atas air. Kemudian Allah menciptakan langit dan bumi dan mencatat segala sesuatu dalam lauh mahfuzh."(HR. al-Bukhari [6868]).
(lus/lus)
