Suara azan Magrib menjadi sebuah momen yang sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh muslim yang menunaikan ibadah puasa. Karena seharian penuh kita berlapar-lapar puasa dan menahan dahaga, maka tidak heran waktu berbuka menjadi waktu yang sangat istimewa. Hal ini bukan suatu yang buruk ataupun tercela. Wajar, sifat manusiawi itu.
Bahkan Rasulullah SAW pun bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Al-Imam Abu Hurairah yang artinya: "Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan: kegembiraan saat ia berbuka, dan kegembiraan saat ia bertemu Rabb-nya (Tuhannya) di hari kiamat kelak." (HR Bukhari dan Muslim)
Berbagai macam cara yang dilakukan umat Islam untuk merayakan momen ini, tapi berbuka puasa bersama keluarga di meja makan rumah tak lagi bisa dinikmati oleh perantau. Tapi di Husaisah, Hadramaut, Yaman tempatku menuntut ilmu menyajikan nuansa berbuka puasa yang dapat mengobati rasa rindu itu. Tak mewah tapi penuh ukhuwah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sembari menunggu waktu berbuka puasa tiba, ada momen yang biasa kita kenal dengan sebutan ngabuburit. Tentu saja ngabuburit ala penduduk Husaisah tak seperti yang biasa kita temui di Tanah Air.
Waktu sore dihabiskan dengan kajian Shahih Bukhari, yang mana acara khotm atau penutupan kitab ini akan menjadi momen sakral di akhir bulan Ramadan nantinya. Di acara inilah dibacakan serta diijazahkan sanad yang menyambung dengan Imam al-Bukhari sampai baginda Nabi Muhammad SAW.
Suasana ngaji Shahih Bukhari sebelum berbuka puasa di Husaisah, Hadramaut, Yaman, Rabu, 4 Maret 2026. Foto: Dok Muhammad Rohib Arifin |
Tak hanya kajian Shahih Bukhari, ada beberapa kitab lainnya yang menjadi pokok pembahasan majelis ini, yang ditutup dengan pembacaan qasidah burdah Imam al-Busiri. Lantunan qasidah burdah ini pun menjadi penanda akan berakhirnya majelis, pertanda panitia iftar pun harus memulai tugasnya.
Baris demi baris shafrah (alas plastik untuk menyajikan makanan di atasnya) dibentangkan. Gelas demi gelas yang berisi air putih dan jus pun berjajar rapi di atas shafrah yang telah disiapkan. Tak lupa juga kurma dan sambosa (gorengan segitiga khas Yaman) juga disajikan rapi di sampingnya.
Setelah majelis berakhir seluruh pelajar dan beberapa masyarakat sekitar duduk rapi berjajar saling berhadapan di depan tiap porsi takjil yang telah disajikan. Tak sedikit pula yang membawa takjil tambahan dan saling berbagi pada siapa saja yang ada di sekitarnya.
Suasana buka puasa Ramadan 2026 di Husaisah, Hadramaut, Yaman. Foto: Dok Muhammad Rohib Arifin |
Berbuka puasa bersama (bukber) yang seperti inilah yang mempererat ukhuwah islamiyah sesama pelajar bahkan menambah keakraban kita dengan warga lokal. Tradisi seperti ini dilakukan setiap hari. Bahkan, tak hanya di bulan Ramadan, tradisi ini dilanjutkan sampai tanggal 7 Syawal. Hal ini bertujuan untuk menyempurnakan puasa enam hari di bulan Syawal sebagaimana dianjurkan baginda Nabi Muhammad SAW.
Tak cukup sampai sini saja agenda berbuka puasa kita. Masih ada nasi dengan menu masakan ayam khas Yaman yang menunggu di dapur umum. Tapi, itu disajikan setelah salat Magrib berjamaah yang dilanjutkan dengan salat tasbih. Di saat inilah panitia iftar tadi melanjutkan tugasnya untuk merapikan kembali bagian belakang masjid yang tadinya dipenuhi hamparan takjil.
Setiap waktu dan tempat mempunyai momen dan kesannya tersendiri, tapi percayalah di mana pun Allah SWT tempatkan kita berada pasti Ia telah siapkan kejutan-kejutan baru yang mungkin tak bisa didapat di saat atau di tempat yang lain.
--
Muhammad Rohib Arifin
Mahasiswa Universitas Al Wasatiyah Husaisah Yaman
Artikel ini merupakan kolaborasi detikHikmah dengan PPI Dunia. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih - Redaksi)
(kri/kri)














































Komentar Terbanyak
Geger Raja Charles III Disebut Memeluk Islam, Ini Kronologinya
Prajurit TNI Gugur di Lebanon, DPR Desak Pemerintah Lakukan Investigasi
Profil Raja Charles III yang Disebut Seorang Muslim