Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri merupakan momen yang paling ditunggu kehadirannya oleh umat Islam. Disebut-sebut sebagai hari kemenangan umat Islam, Lebaran juga menjadi momen yang menciptakan banyak kesan, baik dalam aspek spiritual religi dan harmoni kekeluargaan.
Umumnya, umat Islam di Indonesia akan mempersiapkan Lebaran dari jauh-jauh hari, terutama bagi perantau untuk menyusun jadwal mudik dan memesan tiket perjalanan pulang. Untuk mempermudah menyiapkan kebutuhan Lebaran, simak perkiraan Lebaran Idul Fitri 1448 H/2027 M berikut ini.
Perkiraan Lebaran 2027 Jatuh Tanggal 9/10 Maret
Hari Raya Idul Fitri 1448 H belum dapat dipastikan karena penetapan secara resmi masih menunggu hasil sidang isbat pemerintah. Sidang biasanya digelar pada penghujung Ramadan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, umat Islam bisa melihat perkiraan tanggal Lebaran 2027 berdasarkan sejumlah kalender Hijriah. Menurut kalender terbitan Al Habib yang didasarkan pada kemungkinan rukyatul hilal global, Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1448 H jatuh pada Rabu, 10 Maret 2027.
Sementara itu, menurut Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang digunakan Muhammadiyah dan kalender Hijriah yang dipublikasikan dalam situs Islamic Hijri Calendar, Lebaran 2027 jatuh pada Selasa, 9 Maret 2027.
Perkiraan Libur Nasional dan Cuti Bersama Lebaran 2027
Apabila melihat pola penetapan hari libur nasional dan cuti bersama pada tahun-tahun sebelumnya, pemerintah menetapkan libur nasional Idul Fitri selama dua hari dan cuti bersama selama tiga hari. Artinya, ada sekitar satu minggu untuk libur dan cuti bersama dalam rangka Lebaran.
Sunnah Salat Idul Fitri
Idul Fitri merupakan hari kemenangan umat Islam setelah menunaikan puasa Ramadan selama satu bulan penuh. Untuk merayakan kemenangan ini, umat Islam disunnahkan untuk menunaikan salat sunnah Idul Fitri yang boleh dikerjakan secara sendiri atau berjamaah, tetapi sebaiknya dikerjakan secara berjamaah.
Salat sunnah Idul Fitri hukumnya sunnah muakkad, baik bagi laki-laki maupun perempuan. Bahkan dianjurkan bagi seluruh perempuan, sekalipun yang sedang haid untuk datang ke tempat dilaksanakannya salat sunnah Idul Fitri agar dapat mendengarkan khotbah dan merasakan kebaikannya.
Dijelaskan dalam buku Rahasia Kedahsyatan salat Sunnah Setahun Penuh karya M. Kamaluddin, pelaksanaan salat Idul Fitri mengacu pada hadits dari Jabir RA yang berkata,
"Saya menyaksikan salat Id bersama Nabi, beliau memulai salat sebelum khotbah tanpa azan dan tanpa ikamah, setelah selesai beliau berdiri bertekan atas Bilal, lalu memerintahkan manusia supaya bertakwa kepada Allah, mendorong mereka untuk taat, menasihati manusia dan memperingatkan mereka, setelah selesai beliau turun mendatangi saf wanita dan selanjutnya beliau memperingatkan mereka." (HR Muslim)
Diriwayatkan dari Ummu Atiyah RA, ia berkata, "Rasulullah SAW memerintahkan kami keluar pada Idul Fitri dan Idul Adha semua gadis-gadis, wanita-wanita yang haid, wanita-wanita yang tinggal dalam kamarnya. Adapun wanita yang sedang haid mengasingkan diri dari musala tempat salat Id, mereka menyaksikan kebaikan dan mendengarkan dakwah kaum muslimin (mendengarkan khotbah)."
Saya berkata, "Ya Rasulullah bagaimana dengan kami yang tidak mempunyai jilbab?"
Beliau bersabda, "Supaya saudaranya meminjamkan kepadanya dari jilbabnya." (HR Jamaah)
