Ramadan selalu datang lebih awal jika dilihat berdasarkan kalender Masehi. Misalnya, Ramadan pada suatu tahun dapat berlangsung pada Maret, kemudian beberapa tahun berikutnya bergeser ke Februari, Januari, hingga pada akhirnya kembali melewati bulan-bulan lain dalam kalender Masehi.
Mengapa Ramadan selalu maju dalam kalender Masehi?
Penyebabnya berkaitan dengan perbedaan sistem kalender Hijriah dan kalender Masehi. Kalender Hijriah menggunakan peredaran Bulan sebagai dasar perhitungannya, sedangkan kalender Masehi menggunakan peredaran Bumi mengelilingi Matahari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perbedaan inilah yang membuat tanggal Ramadan terus bergeser dalam kalender Masehi setiap tahun.
Kalender Hijriah Mengikuti Peredaran Bulan
Mengutip buku Ketika Idul Fitri Berbeda: Memahami Akar dan Dampaknya bagi Umat Islam yang ditulis Dr. Siti Ropiah, dijelaskan dalam kalender Islam atau kalender Hijriah, pergantian bulan didasarkan pada siklus Bulan dan terdiri dari 12 bulan dalam setahun.
Satu bulan dalam kalender Hijriah berlangsung sekitar 29 atau 30 hari. Karena itu, satu tahun Hijriah terdiri atas sekitar 354 atau 355 hari. Satu tahun dalam kalender Masehi umumnya berlangsung 365 hari, atau 366 hari pada tahun kabisat.
Jumlah hari dalam satu tahun Hijriah lebih sedikit sekitar 10 hingga 12 hari dibandingkan satu tahun kalender Masehi.
Dua Kali Ramadan dalam Setahun
Pada tahun 2030 mendatang, Ramadan diprediksi berlangsung dua kali dalam satu tahun kalender Masehi.
Ramadan pertama diperkirakan dimulai pada 4 Januari 2030 dan berakhir pada 2 Februari 2030. Sementara Ramadan berikutnya diprediksi kembali tiba pada 26 Desember 2030.
Ramadan dua kali dalam satu tahun Masehi bukan fenomena baru. Peristiwa serupa disebut pernah terjadi pada 1965 dan 1997. Setelah 2030, fenomena tersebut diperkirakan kembali terjadi pada 2063.
