Peradaban Islam telah melahirkan banyak pusat ilmu pengetahuan yang menjadi rujukan dunia. Salah satu warisan paling berharga adalah berdirinya lembaga pendidikan tinggi yang telah melahirkan ulama, ilmuwan, hingga cendekiawan selama lebih dari satu milenium.
Di antara sekian banyak institusi pendidikan Islam, Universitas Al-Qarawiyyin di Kota Fez, Maroko, dikenal sebagai kampus Islam tertua di dunia yang masih terus beroperasi hingga saat ini.
Dilansir dari Ebsco, Selasa (28/7/2026) lembaga pendidikan ini tidak hanya menjadi simbol kejayaan peradaban Islam, tetapi juga diakui sebagai universitas tertua di dunia yang masih aktif menyelenggarakan pendidikan secara berkelanjutan. Pengakuan tersebut tercatat oleh UNESCO dan Guinness World Records.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdiri Sejak Tahun 859 M
Universitas Al-Qarawiyyin didirikan pada abad ke-9 tepatnya pada tahun 859 Masehi oleh seorang perempuan muslim bernama Fatima al-Fihri. Ia merupakan putri seorang saudagar kaya yang berasal dari Kota Kairouan (Tunisia) dan kemudian menetap di Fez, Maroko.
Fatima al-Fihri kemudian mendapat warisan kekayaan yang cukup besar. Ia kemudian memilih menggunakan kekayaannya untuk membangun sebuah masjid yang sekaligus menjadi pusat pendidikan bagi masyarakat.
Dari sinilah lahir Masjid Al-Qarawiyyin yang kemudian berkembang menjadi salah satu pusat keilmuan Islam paling berpengaruh di dunia.
Masjid ini awalnya selesai dibangun pada tahun 859 M, berukuran sedang, dengan panjang sekitar 30 meter. Bangunannya sederhana, terdiri dari ruang salat dengan empat lorong, sebuah menara di bagian belakang, dan halaman luar.
Selain menjadi tempat penyelenggaraan ibadah, masjid ini kemudian menjadi pusat regional penting untuk mempelajari tiga ilmu tradisional Islam: hadits, tafsir, dan fiqih.
Selain ilmu-ilmu keislaman, Al-Qarawiyyin juga mengajarkan ilmu logika, matematika, astronomi, kedokteran, filsafat, hingga tata bahasa. Hal ini mencerminkan tradisi intelektual Islam yang tidak membatasi diri hanya pada ilmu agama, tetapi juga mendorong pengembangan ilmu pengetahuan secara luas.
Pada tahun 956 M, masjid ini mengalami perluasan fisik pertama. Renovasi ini dibiayai oleh Abdul-Rahman III, penguasa Kekhalifahan Cordoba di bagian selatan Spanyol saat ini, perbaikan ini memperbesar ruang salat, memindahkan halaman, dan memindahkan menara ke posisi di dinding utara masjid.
Menurut cerita rakyat setempat, perubahan ini menandai awal dari tradisi di mana muazin masjid akan naik ke puncak menara untuk mengumumkan panggilan salat. Tidak ada masjid lain di kota itu yang akan mengumandangkan panggilan salatnya sendiri sampai Al Qarawiyyin mengumandangkan panggilannya.
Dua perluasan besar lainnya menyusul. Salah satu renovasi dilakukan pada abad ke-12 dan yang lainnya pada abad ke-16. Renovasi ini menjadikan masjid memiliki panjang sekitar 83 meter seperti sekarang, dengan dua puluh satu lorong yang melayani ruang salat, lima kubah yang menghiasi atapnya, dan halaman barat dengan tiga air mancur marmer hias dan lantai berubin putih dan biru.
Masjid ini merupakan jantung kompleks Universitas Al Qarawiyyin saat ini, yang juga mencakup bangunan akademik dan perpustakaan tambahan yang terintegrasi ke dalam jalan-jalan lingkungan yang sempit dan lorong-lorong sekitarnya. Masjid ini dapat menampung sekitar 22.000 jamaah, menjadikannya masjid terbesar di benua Afrika.
Pada perkembangannya, sistem pendidikan di Al-Qarawiyyin semakin terstruktur hingga akhirnya berkembang menjadi universitas yang dikenal saat ini.
Diakui Sebagai Universitas Tertua yang Masih Beroperasi
Banyak orang mengira universitas tertua di dunia berada di Eropa, seperti Universitas Bologna di Italia atau Universitas Oxford di Inggris. Namun, keduanya baru berdiri beberapa abad setelah Al-Qarawiyyin.
Universitas Bologna didirikan pada tahun 1088, sedangkan Oxford mulai berkembang sekitar akhir abad ke-11. Sementara itu, Al-Qarawiyyin telah berdiri sejak tahun 859 M dan terus menjalankan aktivitas pendidikan hingga sekarang.
Karena keberlangsungan operasinya yang tidak terputus, UNESCO dan Guinness World Records mengakuinya sebagai universitas tertua di dunia yang masih aktif beroperasi.
Melahirkan Banyak Tokoh Besar
Selama lebih dari 1.100 tahun, Al-Qarawiyyin menjadi tempat belajar bagi banyak tokoh penting dari berbagai wilayah dunia Islam maupun Eropa.
Dilansir dari World History, beberapa tokoh yang pernah menimba ilmu atau memiliki hubungan dengan Al-Qarawiyyin antara lain:
- Ibnu Khaldun, pelopor ilmu sosiologi dan penulis kitab Muqaddimah.
- Musa bin Maimun, filsuf dan dokter terkenal.
- Leo Africanus, penjelajah dan penulis yang memperkenalkan Afrika kepada dunia Eropa.
Keberadaan para ilmuwan dari berbagai latar belakang menunjukkan bahwa Al-Qarawiyyin menjadi pusat pertukaran ilmu pengetahuan lintas budaya dan agama.
Salah Satu Perpustakaan Tertua di Dunia
Kompleks Al-Qarawiyyin juga memiliki perpustakaan bersejarah yang termasuk salah satu perpustakaan tertua di dunia.
Perpustakaan ini menyimpan ribuan manuskrip kuno yang sangat bernilai, termasuk naskah Al-Qur'an kuno, kitab-kitab fikih, astronomi, kedokteran, matematika, serta berbagai karya ilmuwan muslim klasik.
Beberapa manuskrip yang tersimpan telah berusia ratusan tahun dan menjadi objek penelitian akademisi dari berbagai negara. Upaya restorasi besar-besaran dilakukan pemerintah Maroko untuk menjaga koleksi berharga tersebut agar tetap lestari bagi generasi mendatang.
Hingga saat ini Universitas Al-Qarawiyyin masih beroperasi sebagai institusi pendidikan tinggi di bawah pemerintah Maroko.
Fokus utamanya adalah pengajaran ilmu-ilmu keislaman, hukum Islam (syariah), bahasa Arab, dan studi keagamaan. Selain menerima mahasiswa dari Maroko, universitas ini juga menjadi tujuan pelajar dari berbagai negara yang ingin mendalami ilmu agama.
Baca juga: Kota Pusat Peradaban Islam yang Terlupakan |

Komentar Terbanyak
MUI Usul Istilah LGBT Diubah Jadi LGSP
MUI Minta Koruptor Segera Tobat agar Tidak Menyesal
MUI Minta Pembayaran Zakat Diakui sebagai Pajak