Kota Pusat Peradaban Islam yang Terlupakan

Kota Pusat Peradaban Islam yang Terlupakan

Kristina - detikHikmah
Sabtu, 11 Jul 2026 10:00 WIB
Sankore Mosque in Timbuktu, Mali -July, 2009
Masjid Sankore di Timbuktu, Juli 2009. Foto: Getty Images/iStockphoto/Iwanami_Photos
Jakarta -

Ilmu pengetahuan Islam pernah berkembang pesat di Mali, tepatnya di Kota Timbuktu sekitar abad 15-16. Kini kota tersebut terlupakan begitu saja, bahkan terancam hilang.

Menurut Encyclopedia Britannica, secara historis Timbuktu adalah pos perdagangan penting di jalur kafilah trans-Sahara dan sebagai pusat budaya Islam sekitar tahun 1400-1600. Kota ini memiliki letak yang sangat strategis, berada di tepi selatan Sahara, sekitar 13 km dari Sungai Niger, menjadikannya sebagai pusat perdagangan yang ideal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Timbuktu atau yang disebut juga Tomboutou atau Buctoo didirikan sekitar 1100 M sebagai perkemahan musiman oleh suku nomaden Tuareg. Ada beberapa cerita mengenai asal-usul nama kota tersebut. Menurut salah satu tradisi, nama Timbuktu adalah nama seorang wanita tua yang ditugaskan mengawasi perkemahan ketika suku Tuareg mengembara di Sahara.

Perdagangan berkembang pesat di Timbuktu. Kota ini menjadi pusat perdagangan emas dan garam di trans-Sahara dan tumbuh sebagai pusat budaya Islam.

ADVERTISEMENT

Selama abad ke-14 hingga awal abad ke-15, masjid-masjid didirikan di kota tersebut. Masjid Agung Djinguereber (Djingareyber), Sankore, and Sidi Yahya yang merupakan masjid tertua di Afrika Barat berdiri di sana.

Masjid Agung Djinguereber dibangun oleh Kaisar Mansa Musa sepulang ibadah dari Makkah. Mansa Musa dikenal sebagai raja muslim terkaya sepanjang sejarah.

Pembangunan masjid terus berlanjut. Masjid Sankore didesain oleh Abu Ishaq al-Sahili, arsitek dari Granada. Masjid ini dibuat dengan material lumpur dan kayu.

Masjid-masjid tersebut berkembang menjadi madrasah dan universitas tersohor yang melahirkan para cendekiawan dengan berbagai disiplin ilmu. Di sinilah kemudian Timbuktu menjadi pusat intelektual.

Keemasan Timbuktu telah terdengar hingga Eropa. Para penjelajah pun berdatangan. Dalam perjalanannya, kota ini melewati serangkaian perebutan kekuasaan, dan pernah direbut oleh Prancis sebelum akhirnya menjadi bagian dari Republik Mali yang merdeka pada 1960.

Timbuktu kemudian menjadi pusat administrasi Mali. Pada akhir 1990-an, restorasi besar-besaran dilakukan untuk menyelamatkan tiga masjid tertua dari erosi pasir dan kerusakan. Namun, ancaman lebih besar mengintai.

Masuk Daftar Warisan Terancam Hilang

Pada 2012, pemberontakan Tuareg menguasai bagian utara negara itu, termasuk kota bersejarah Timbuktu. Tuareg mengklaim wilayah tersebut sebagai negara merdeka Azawad.

Merespons konflik bersenjata di wilayah itu, UNESCO memasukkan Timbuktu ke Daftar Warisan Dunia dalam Bahaya atas permintaan pemerintah Mali. Dilansir dari situs UNESCO, ada kekhawatiran hilangnya benda-benda budaya dari situs tersebut, terutama manuskrip kuno penting, akibat perdagangan ilegal dan penjarahan yang mungkin terjadi.



(kri/erd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads