Ilmu pengetahuan Islam pernah berkembang pesat di Mali, tepatnya di Kota Timbuktu sekitar abad 15-16. Kini kota tersebut terlupakan begitu saja, bahkan terancam hilang.
Menurut Encyclopedia Britannica, secara historis Timbuktu adalah pos perdagangan penting di jalur kafilah trans-Sahara dan sebagai pusat budaya Islam sekitar tahun 1400-1600. Kota ini memiliki letak yang sangat strategis, berada di tepi selatan Sahara, sekitar 13 km dari Sungai Niger, menjadikannya sebagai pusat perdagangan yang ideal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Timbuktu atau yang disebut juga Tomboutou atau Buctoo didirikan sekitar 1100 M sebagai perkemahan musiman oleh suku nomaden Tuareg. Ada beberapa cerita mengenai asal-usul nama kota tersebut. Menurut salah satu tradisi, nama Timbuktu adalah nama seorang wanita tua yang ditugaskan mengawasi perkemahan ketika suku Tuareg mengembara di Sahara.
Perdagangan berkembang pesat di Timbuktu. Kota ini menjadi pusat perdagangan emas dan garam di trans-Sahara dan tumbuh sebagai pusat budaya Islam.
Selama abad ke-14 hingga awal abad ke-15, masjid-masjid didirikan di kota tersebut. Masjid Agung Djinguereber (Djingareyber), Sankore, and Sidi Yahya yang merupakan masjid tertua di Afrika Barat berdiri di sana.
Masjid Agung Djinguereber dibangun oleh Kaisar Mansa Musa sepulang ibadah dari Makkah. Mansa Musa dikenal sebagai raja muslim terkaya sepanjang sejarah.
Pembangunan masjid terus berlanjut. Masjid Sankore didesain oleh Abu Ishaq al-Sahili, arsitek dari Granada. Masjid ini dibuat dengan material lumpur dan kayu.
Masjid-masjid tersebut berkembang menjadi madrasah dan universitas tersohor yang melahirkan para cendekiawan dengan berbagai disiplin ilmu. Di sinilah kemudian Timbuktu menjadi pusat intelektual.
Keemasan Timbuktu telah terdengar hingga Eropa. Para penjelajah pun berdatangan. Dalam perjalanannya, kota ini melewati serangkaian perebutan kekuasaan, dan pernah direbut oleh Prancis sebelum akhirnya menjadi bagian dari Republik Mali yang merdeka pada 1960.
Timbuktu kemudian menjadi pusat administrasi Mali. Pada akhir 1990-an, restorasi besar-besaran dilakukan untuk menyelamatkan tiga masjid tertua dari erosi pasir dan kerusakan. Namun, ancaman lebih besar mengintai.
Masuk Daftar Warisan Terancam Hilang
Pada 2012, pemberontakan Tuareg menguasai bagian utara negara itu, termasuk kota bersejarah Timbuktu. Tuareg mengklaim wilayah tersebut sebagai negara merdeka Azawad.
Merespons konflik bersenjata di wilayah itu, UNESCO memasukkan Timbuktu ke Daftar Warisan Dunia dalam Bahaya atas permintaan pemerintah Mali. Dilansir dari situs UNESCO, ada kekhawatiran hilangnya benda-benda budaya dari situs tersebut, terutama manuskrip kuno penting, akibat perdagangan ilegal dan penjarahan yang mungkin terjadi.

Komentar Terbanyak
Ramai Keluhan soal Tahlilan, Begini Penjelasan soal Jamuan di Rumah Duka
BEM Psikologi UI Sebut Homoseksual Bukan Penyimpangan, MUI Sentil Moral Kampus
Bukan Muslim, 5 Karakter Cristiano Ronaldo Ini Justru Sesuai Syariat Islam