4 Agenda Penting Muktamar NU yang Perlu Diketahui

4 Agenda Penting Muktamar NU yang Perlu Diketahui

Hanif Hawari - detikHikmah
Minggu, 26 Jul 2026 07:00 WIB
Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang lokasi Muktamar ke-35 NU
Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang lokasi Muktamar ke-35 NU (Foto: Enggran Eko Budianto/detikJatim)
Jakarta -

Muktamar menjadi forum permusyawaratan tertinggi di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU). Tak sekadar ajang memilih kepengurusan baru, muktamar juga menjadi wadah untuk merumuskan arah organisasi, menjawab persoalan keagamaan, hingga menetapkan program strategis yang akan dijalankan dalam beberapa tahun ke depan.

Sejak pertama kali digelar pada 1926, Muktamar NU telah melahirkan banyak keputusan penting yang mempengaruhi perjalanan organisasi maupun kehidupan umat Islam di Indonesia. Lalu, apa saja agenda utama dalam Muktamar NU?

Agenda Muktamar NU

Mengutip buku Fragmen-fragmen Muktamar NU dari Era Kolonial hingga Milenial terbitan Numedia Digital Indonesia, berikut empat di antaranya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Memilih Rais Aam dan Ketua Umum PBNU

Salah satu agenda yang paling menyita perhatian dalam Muktamar NU adalah pemilihan pucuk pimpinan organisasi. Forum ini memilih Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sebagai pemimpin tertinggi Syuriyah serta Ketua Umum PBNU sebagai pemimpin Tanfidziyah.

Pemilihan tersebut menentukan arah kepemimpinan NU untuk satu periode kepengurusan. Karena itu, muktamar selalu menjadi momentum penting bagi warga Nahdliyin untuk menentukan estafet kepemimpinan organisasi.

ADVERTISEMENT

2. Membahas Masalah Keagamaan

Selain memilih pengurus, muktamar juga menjadi forum para ulama membahas berbagai persoalan keagamaan yang berkembang di tengah masyarakat.

Sejak masa awal berdirinya NU, pembahasan dalam muktamar tidak hanya berkutat pada ibadah, tetapi juga menyentuh persoalan sosial. Misalnya, Muktamar NU ke-5 di Pekalongan tahun 1930 membahas beragam persoalan fikih, seperti hukum jual beli emas menggunakan uang kertas, hukum memakai sandal yang ditemukan di masjid, persoalan sedekah bumi, hingga hukum berdiri saat pembacaan Maulid Nabi.

Tradisi bahtsul masail tersebut kemudian menjadi salah satu ciri khas Muktamar NU dalam memberikan panduan hukum Islam terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.

3. Menetapkan Program dan Kebijakan Organisasi

Muktamar juga menjadi forum untuk menyusun kebijakan strategis organisasi dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan, ekonomi, hingga penguatan kelembagaan.

Sejarah mencatat, berbagai keputusan penting lahir dari muktamar. Salah satunya pada Muktamar ke-13 di Menes, Banten, yang menjadikan pendidikan sebagai salah satu pembahasan utama hingga melahirkan keputusan mendirikan Lembaga Pendidikan Ma'arif NU.

Pada muktamar yang sama juga dibahas isu-isu politik, pengembangan ekonomi riil, perbankan, hingga penetapan pakaian khas Muslimat NU.

4. Menentukan Arah Khidmat NU untuk Umat dan Bangsa

Di luar agenda organisasi, muktamar menjadi forum strategis untuk merumuskan sikap NU terhadap berbagai persoalan kebangsaan.

Sejak era kolonial, keputusan-keputusan muktamar banyak menyoroti isu sosial, pendidikan, ekonomi, hingga kehidupan umat. Dalam Muktamar NU kedua pada 1927 misalnya, pembahasan lebih banyak difokuskan pada persoalan sosial-keagamaan dan ekonomi, sementara strategi perjuangan dilakukan secara hati-hati mengingat ketatnya pengawasan pemerintah kolonial Belanda.

Karena itu, hasil-hasil muktamar tidak hanya menjadi pedoman internal organisasi, tetapi juga menjadi rujukan bagi NU dalam menjalankan peran keagamaan, sosial, dan kebangsaan di Indonesia.

Sebagai forum tertinggi organisasi, Muktamar NU memiliki posisi yang sangat strategis. Dari forum inilah lahir kepemimpinan baru, keputusan-keputusan keagamaan, program organisasi, hingga arah perjuangan NU dalam merespons dinamika umat, bangsa, dan negara.



(hnh/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads