Kisah Gerhana Matahari pada Zaman Rasulullah Tepis Mitos Jahiliah

Kisah Gerhana Matahari pada Zaman Rasulullah Tepis Mitos Jahiliah

Devi Setya - detikHikmah
Kamis, 16 Jul 2026 09:30 WIB
Amazing scientific natural phenomenon. Diamond ring, prominence and internal corona. Total solar eclipse glowing on blue sky above silhouette of trees, serenity nature. Abstract fantastic background.
Foto: Getty Images/iStockphoto/kdshutterman
Jakarta -

Gerhana matahari merupakan salah satu fenomena alam yang selalu menarik perhatian manusia sejak zaman dahulu. Pada masa Rasulullah SAW, peristiwa ini juga pernah terjadi beberapa kali dan menjadi momentum penting dalam sejarah Islam.

Menariknya, tidak setiap gerhana matahari pada masa Nabi Muhammad SAW diikuti dengan pelaksanaan salat kusuf (salat gerhana matahari). Berdasarkan kajian astronomi, terdapat tiga gerhana matahari yang terjadi selama periode Madinah. Namun, hanya satu di antaranya yang secara jelas diriwayatkan disertai pelaksanaan salat gerhana oleh Rasulullah SAW.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Peristiwa tersebut sekaligus menjadi momen ketika Rasulullah meluruskan keyakinan masyarakat Arab yang mengaitkan gerhana dengan kematian atau kelahiran seseorang.

Dikutip dari Mukhtashar Shahih al-Bukhari karya Imam Zainuddin az-Zubaidi, dari Abu Bakrah RA, ia berkata, "Kami tengah bersama Rasulullah SAW ketika terjadi gerhana matahari. Nabi SAW berdiri menarik jubahnya hingga masuk ke dalam masjid. Beliau mengimami kami salat dua rakaat sampai matahari kembali bercahaya. Lalu, beliau bersabda, "Gerhana matahari dan gerhana bulan bukan disebabkan oleh kematian seseorang. Barang siapa menyaksikan (dua) gerhana ini, kerjakanlah salat dan berdoalah kepada Allah hingga gerhana usai."

ADVERTISEMENT

Dalam hadits lain dari Mughirah bin Syu'bah RA dituturkan, "Di zaman Nabi SAW masih hidup, terjadi gerhana matahari pada hari ketika Ibrahim (putra Nabi SAW) meninggal dunia. Rasulullah SAW bersabda, "Gerhana matahari dan bulan terjadi bukan karena kematian atau kelahiran seseorang. Ketika kalian melihat gerhana, kerjakanlah salat dan berdoa kepada Allah."

Gerhana pada Masa Rasulullah

Kajian astronomi menunjukkan bahwa selama Rasulullah SAW tinggal di Madinah, terjadi tiga kali gerhana matahari yang dapat dihitung secara ilmiah. Masing-masing memiliki karakteristik dan tingkat keterlihatan yang berbeda.

1. Gerhana Matahari 21 April 627 M

Dikutip dari buku Kitab Misbah al-Zalam Karya Syaikh Muhammad Muhajirin Amsar al-Dary dalam Perspektif Dakwah bi al-Qalam karya Ahmad Hotib, gerhana matahari pertama pada masa Madinah terjadi pada 627 M, yang bertepatan dengan 29 Zulkaidah 5 Hijriah.

Sejumlah kajian sejarah menyebutkan tidak ditemukan riwayat yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW melaksanakan salat kusuf pada peristiwa tersebut. Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah karena gerhana itu terlalu kecil sehingga sulit diamati oleh masyarakat.

2. Gerhana Matahari 3 Oktober 628 M

Peristiwa gerhana berikutnya terjadi pada 628 M, atau bertepatan dengan 29 Jumadil Awal 7 Hijriah.

Meski secara astronomi gerhana tersebut benar-benar terjadi, tidak ditemukan riwayat yang menyebut Rasulullah SAW melaksanakan salat kusuf pada kesempatan itu.

Diduga penyebabnya karena kondisi gerhana sangat sulit disaksikan dengan mata telanjang. Saat matahari terbit, bagian piringan yang tampak hanya sekitar 12 persen, sehingga fenomenanya nyaris tidak terlihat oleh masyarakat.

3. Gerhana Matahari 27 Januari 632 M

Gerhana matahari yang paling dikenal dalam sejarah Islam terjadi pada 632 M, bertepatan dengan 29 Syawal 10 Hijriah.

Fenomena ini merupakan gerhana matahari cincin yang berlangsung mulai pukul 07.15 waktu Madinah hingga 09.54 waktu Madinah.

Berbeda dengan dua peristiwa sebelumnya, gerhana kali ini terlihat jelas dan menjadi satu-satunya gerhana yang secara sahih diriwayatkan disertai pelaksanaan salat kusuf berjamaah yang dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW.

Bertepatan dengan Wafatnya Putra Rasulullah

Ibnu Hazm al-Andalusi dalam bukunya yang berjudul Intisari Sirah Nabawiyah: Kisah-Kisah Penting dalam Kehidupan Nabi Muhammad menerangkan, peristiwa gerhana matahari pada 632 M memiliki kisah yang sangat menyentuh.

Pada hari yang sama, putra Rasulullah SAW, Ibrahim bin Muhammad, wafat ketika masih berusia sekitar 16 bulan.

Masyarakat Arab pada masa itu memiliki kepercayaan bahwa gerhana matahari atau gerhana bulan terjadi karena wafat atau lahirnya seorang tokoh besar. Karena gerhana bertepatan dengan meninggalnya Ibrahim, sebagian orang menganggap fenomena tersebut merupakan tanda berkabung alam atas wafatnya putra Nabi.

Namun Rasulullah SAW segera meluruskan keyakinan tersebut. Beliau menegaskan bahwa gerhana bukanlah tanda kematian ataupun kelahiran seseorang. Gerhana merupakan salah satu tanda kebesaran Allah SWT yang mengingatkan manusia akan kekuasaan-Nya.

Rasulullah SAW bersabda, "Matahari dan bulan adalah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Terjadinya gerhana bukan karena kematian atau kehidupan seseorang. Maka, bila melihatnya berzikirlah kepada Allah SWT dengan mengerjakan salat." (HR Bukhari)

Setelah menyaksikan gerhana tersebut, Rasulullah SAW mengajak para sahabat berkumpul di masjid untuk melaksanakan salat kusuf secara berjamaah.

Dari Abdullah bin Amr, ia berkata, "Di zaman Nabi SAW, ketika terjadi gerhana matahari, orang-orang diseru untuk menunaikan salat berjamaah dengan suara keras, "Ash-shalatu jami'ah."

Salat gerhana merupakan ibadah sunnah muakkadah yang dianjurkan ketika terjadi gerhana matahari. Selain salat, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak zikir, doa, istigfar, membaca Al-Qur'an, serta bersedekah sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT.



(dvs/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads