Kemenag Tegaskan Madrasah Harus Bebas Bullying

Kemenag Tegaskan Madrasah Harus Bebas Bullying

Hanif Hawari - detikHikmah
Kamis, 16 Jul 2026 20:00 WIB
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Suyitno, dalam pelaksanaan MATAMUDA 2026 yang berlangsung di MAN 19 Jakarta, Kamis (16/7/2026).
Dirjen Islam Kemenag, Suyitno, dalam pelaksanaan MATAMUDA 2026 yang berlangsung di MAN 19 Jakarta, Kamis (16/7/2026). Foto: Dok. Kemenag
Jakarta -

Kementerian Agama (Kemenag) memberikan atensi besar terhadap penciptaan lingkungan sekolah yang aman dan ramah anak. Melalui penyelenggaraan Masa Ta'aruf Murid Madrasah (MATAMUDA) 2026, Kemenag memperkuat komitmennya untuk menghapuskan segala bentuk perundungan (bullying) dari ekosistem pendidikan.

Langkah ini dilakukan melalui penguatan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di madrasah. Komitmen tersebut ditegaskan secara langsung dalam pelaksanaan MATAMUDA 2026 yang berlangsung di MAN 19 Jakarta, Kamis (16/7/2026).

Direktur KSKK Madrasah, Nyayu Khodijah, menyatakan bahwa nilai-nilai dalam Kurikulum Berbasis Cinta tidak boleh hanya sekadar menjadi konsep tertulis di atas dokumen pembelajaran semata. Nilai tersebut harus membumi dan hadir dalam setiap aktivitas keseharian warga sekolah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kurikulum Berbasis Cinta harus hadir dalam setiap aktivitas di madrasah, baik di ruang kelas, di halaman sekolah, dalam proses belajar, maupun dalam interaksi antarsesama warga madrasah," ujar Nyayu, dikutip dari laman Kemenag.

ADVERTISEMENT

Nyayu menjelaskan, perwujudan kurikulum ini diimplementasikan melalui Gerakan SENYAMAN (Sehat, Aman, Nyaman, Menyenangkan) yang menyasar tiga indikator utama. Salah satu yang paling krusial adalah komitmen mewujudkan madrasah ramah anak, di mana tidak ada toleransi bagi tindakan diskriminasi, kekerasan, maupun perundungan.

"Tidak boleh ada peserta didik yang merasa takut datang ke madrasah. Semua anak harus mendapatkan rasa aman, perlindungan, dan penghargaan selama mengikuti proses pendidikan," tegas Nyayu dengan nada lugas.

Selain aspek bebas bullying, indikator Gerakan SENYAMAN juga mencakup madrasah ramah lingkungan serta jaminan terhadap kesejahteraan mental dan spiritual para peserta didik agar mereka tumbuh bahagia dalam keimanan dan akhlak.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Suyitno, mengajak seluruh murid baru untuk membuktikan kecintaan mereka kepada NKRI melalui jalan prestasi belajar, selalu menjaga persatuan di tengah keberagaman, serta siap berkontribusi nyata bagi kemajuan Indonesia di masa depan.

Kemenag menargetkan madrasah ke depan bukan lagi sekadar tempat transfer pengetahuan biasa, melainkan menjadi ruang tumbuh yang melahirkan generasi berkarakter kuat serta sehat secara mental dan spiritual.

Mengingatkan bahwa transformasi pendidikan di madrasah harus berjalan beriringan antara kecerdasan akademik (kompetensi) dan pembentukan karakter.

Suyitno pun mengulas nasihat klasik dari kitab Ta'limul Muta'allim mengenai enam pilar utama keberhasilan dalam menuntut ilmu, yaitu kecerdasan, kesabaran, dukungan, penghormatan kepada guru, kemauan yang kuat, serta kesediaan menjalani proses belajar dalam waktu panjang.

"Ilmu tidak hanya diukur dari apa yang dikuasai, tetapi juga dari bagaimana ilmu itu diperoleh. Karena itu, menghormati guru dan menjaga adab merupakan bagian penting dalam proses pendidikan," jelas Suyitno.



(hnh/lus)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads