Dubai Chewy Cookie Halal? Begini Cara Memastikannya

Dubai Chewy Cookie Halal? Begini Cara Memastikannya

Anisa Rizki Febriani - detikHikmah
Senin, 13 Jul 2026 13:19 WIB
Viral Dubai chocolate chewy cookie with marshmallow texture, filled with pistachio paste and crispy kunafa creating rich sweet savory contrast.
Ilustrasi dubai chewy cookie (Foto: Getty Images/ROHE Creative Studio)
Jakarta -

Dubai chewy cookie jadi dessert viral yang banyak dikonsumsi akhir-akhir ini, khususnya bagi pecinta makanan manis. Tekstur chewy dari lapisan luar berbasis marshmallow dengan isian pistachio dan kataifi banyak digemari masyarakat.

Tidak sedikit muslim yang bertanya apakah makanan viral ini halal untuk dikonsumsi. Kebanyakan orang mengira status kehalalan makanan hanya dilihat dari bahan utama.

Padahal, produk olahan seperti dubai chewy cookie memiliki penilaian halal yang lebih kompleks. Tak hanya bahan baku tetapi bahan tambahan, bahan penolong, proses produksi, serta fasilitas pengolahan harus dipastikan memenuhi persyaratan halal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Auditor Halal LPH LPPOM Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI), Ade Suherman, mengatakan produk olahan perlu dipastikan kehalalannya secara menyeluruh.

"Kalau tidak ada kejelasan, berarti statusnya abu-abu atau syubhat. Produk seperti ini sudah melalui proses pengolahan sehingga kita tidak mengetahui lagi secara pasti bahan-bahan yang digunakan," ujar Ade Suherman dilansir dari situs LPPOM MUI, Senin (13/7/2026).

ADVERTISEMENT

Lantas apa saja yang harus diperhatikan bagi seorang muslim untuk memastikan halal atau tidaknya dubai chewy cookie yang ingin dikonsumsi? Setidaknya ada empat aspek penting yang jadi titik kritis halal mengenai hal ini, berikut poin-poinnya.

1. Perhatikan Bahan Baku

Hal pertama bagi penikmat dubai chewy cookie yang ingin memastikan makanannya halal yaitu mencermati bahan baku, utamanya marshmallow dan gelatin. Umumnya, bahan ini mengandung gelatin dari kulit atau tulang sapi, kerbau, ikan, bahkan babi sekalipun.

Gelatin dari hewan yang halal tidak serta-merta bisa dinyatakan halal. Auditor harus memastikan asal hewan, proses penyembelihan sesuai syariat serta proses pengolahan gelatin itu sendiri.

"Kalau sumbernya dari sapi, belum bisa langsung dipastikan halal. Kita harus mengetahui apakah penyembelihannya sesuai syariat atau tidak," ungkap Ade.

2. Cermati Bahan Tambahan di Cokelat dan Pistachio Cream

Memperhatikan bahan tambahan pada cokelat dan pistachio cream jadi titik kritis yang kedua. Meski keduanya berasal dari bahan nabati, proses pembuatannya bisa melibatkan banyak banyak tambahan seperti emulsifier, flavor, gula, shortening, stabilizer serta pewarna.

Dalam cokelat, emulsifier dan perisa perlu dicermati. Emulsifier ini asalnya dari lemak hewani, sedangkan beebrapa produk menggunakan perisa seperti rhum yang ada kandungan alkoholnya sehingga tidak bisa dikonsumsi muslim.

Kemudian, proses pengolahan cokelat juga bisa menggunakan pelarut berupa air atau etanol. Air tentu tidak menjadi persoalan, sementara etanol harus diperhatikan berasal dari sumber yang tidak mengandung khamar.

"Kalau menggunakan etanol, perlu dipastikan apakah berasal dari industri minuman beralkohol atau dari sumber non-khamar. Hal ini menentukan status kehalalannya," kata Ade menguraikan.

3. Perhatikan Gula, Tepung, dan Kataifi yang Digunakan

Gula, tepung, kataifi atau kunafa juga perlu diperhatikan. Pada gula, proses pemurniannya bisa menggunakan karbon aktif sebagai bahan penolong.

Karbon aktif itu berasal dari tumbuhan, batu bara, atau tulang hewan. Bila berasal dari tulang hewan, maka asal hewan serta proses penyembelihannya jadi bagian penting dalam audit halal.

Sementara itu, pada tepung terigu proses fortifikasi vitaminnya jadi paling utama. Vitamin yang ditambahkan harus diverifikasi sumber bahan dan proses pembuatannya karena bisa berasl dari unsur hewani atau melibatkan pelarut tertentu.

Kemudian pada kataifi atau kunafa memang berbahan dasar tepung. Tetapi, proses pembuatannya sering digunakan butter, margarin, shortening atau bahan tambahan yang kehalalannya harus dipastikan.

4. Memastikan Proses Produksi dan Adanya Sertifikat Halal

Terakhir, halal atau tidaknya produk tak hanya sampai pada bahan yang digunakan. Formula dari seluruh bahannya tetap harus diproduksi di fasilitas yang bebas darkontaminasi bahan haram atau najis.

Misalnya, peralatan produksi, tempat penyimpanan, alur pengolahan, serta proses penyajian termasuk bagian yang diperiksa daam audit halal. Bahan baku dubai chewy cookie merupakan produk impor seperti cokelat, gelatin, emulsifier, flavor hingga pewarna.

Dengan begitu, auditor halal akan menelusuri dokumen bahan, asal pemasok, fasilitas produksi serta status halal dari negara asalnya. Oleh sebab itu, konsumen muslim harus memastikan produk yang ingin dibeli sudah disertifikasi halal.

Apabila produk dubai chewy cookie tersebut homemade, pre-order atau dibeli lewat media sosial maka jangan ragu untuk bertanya bahan yang digunakan serta status kehalalan bagi penjual.



(aeb/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads