Mojtaba Khamenei Janji Balas Kematian Ayatollah Ali Khamenei

Mojtaba Khamenei Janji Balas Kematian Ayatollah Ali Khamenei

Devi Setya - detikHikmah
Sabtu, 11 Jul 2026 20:04 WIB
May 31, 2019 file photo shows, Son of Irans Supreme Leader Ayatollah Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei, attends a demonstration to mark Jerusalem day in Tehran. (Photo by Morteza Nikoubazl/NurPhoto via Getty Images)
Foto: NurPhoto via Getty Images/NurPhoto
Jakarta -

Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menegaskan bahwa pembalasan atas kematian ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, merupakan tuntutan rakyat Iran yang harus diwujudkan. Pernyataan tersebut disampaikan melalui akun telegramnya.

Mojtaba Khamenei merilis pesan tertulis yang dipublikasikan di akun Telegram resminya pada Sabtu (11/7/2026), bertepatan dengan rangkaian upacara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dilansir dari The Strait Times, pesan itu disampaikan beberapa bulan setelah Ayatollah Ali Khamenei gugur dalam serangan udara Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026. Dalam pesannya, Mojtaba menegaskan bahwa tekad untuk membalas kematian sang ayah tidak bergantung pada sosok tertentu maupun pejabat yang sedang menjabat.

"Pembalasan ini adalah kehendak bangsa kita dan harus dilaksanakan," katanya dalam surat yang ditandatangani pada hari Jumat (10/7).

ADVERTISEMENT

Ia menambahkan bahwa agenda pembalasan akan tetap berjalan terlepas dari siapa yang memimpin Iran.

"Masalah ini tidak bergantung pada keberadaan pribadi saya maupun pejabat-pejabat lainnya. Baik kami hadir atau tidak, hal itu akan terjadi," imbuhnya.

Mojtaba juga menegaskan komitmen Iran untuk membalas kematian Ayatollah Ali Khamenei beserta para korban lain yang gugur dalam konflik tersebut.

"Kami berjanji untuk membalas darah pemimpin yang gugur dan semua martir dari dua perang ini dari para pembunuh kriminal dan tercela itu," kata Khamenei dalam pesan tersebut.

Dimakamkan di Makam Imam Reza

Ayatollah Ali Khamenei dimakamkan pada Jumat (10/7) dini hari waktu setempat di Makam Imam Reza, Mashhad, yang merupakan situs suci bagi umat Islam Syiah di Iran.

Media pemerintah Iran melaporkan bahwa jenazah dimakamkan di kota kelahirannya setelah melalui serangkaian prosesi berkabung yang berlangsung selama sepekan.

Kompleks Makam Imam Reza dikenal sebagai salah satu pusat ziarah terbesar di dunia Islam dengan ciri khas kubah emas dan menara-menara berlapis emas yang menjadi ikon Kota Mashhad.

Sebelum pemakaman berlangsung secara tertutup, pemerintah Iran menggelar rangkaian prosesi publik di sejumlah kota. Menurut laporan media pemerintah, prosesi tersebut dihadiri lebih dari 15 juta pelayat. Sementara berdasarkan perkiraan pemerintah Iran, jumlah peserta yang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan mencapai sekitar 43 juta orang.

Prosesi berkabung tidak hanya berlangsung di Iran, tetapi juga di sejumlah kota suci di Irak yang menjadi bagian dari penghormatan terakhir kepada Ayatollah Ali Khamenei.

Pemerintah Iran Apresiasi Solidaritas Dunia Islam

Kementerian Intelijen Iran menyampaikan apresiasi atas besarnya partisipasi masyarakat dalam prosesi pemakaman tersebut. Pemerintah menyebut kehadiran jutaan pelayat sebagai bentuk dukungan terhadap cita-cita Revolusi Islam dan Poros Perlawanan.

Dalam pernyataan resminya yang dikutip Press TV pada Sabtu (11/7/2026), kementerian menyampaikan terima kasih kepada rakyat Iran dan Irak, para ulama, pemerintah negara-negara sahabat, serta berbagai delegasi dari dunia Islam yang menghadiri prosesi pemakaman.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada para pelayat dari Lebanon, Pakistan, Afghanistan, Azerbaijan, Turki, Kashmir, India, Bahrain, dan sejumlah negara lainnya yang dinilai menunjukkan solidaritas terhadap Iran.

"Pemakaman bersejarah tersebut mencerminkan kesetiaan dan kesadaran bangsa Islam dan memperbarui komitmennya terhadap cita-cita Islam," bunyi pernyataan kementerian tersebut.

Kementerian juga memberikan apresiasi kepada berbagai suku di Irak dan lembaga-lembaga keagamaan yang turut menyelenggarakan prosesi penghormatan. Menurut pemerintah Iran, hal itu menunjukkan eratnya hubungan antara rakyat Iran dan Irak sekaligus memperkuat semangat perlawanan.

"Kita memperbarui perjanjian darah dan perjuangan kita dengan Pemimpin Revolusi Islam dan akan tetap berada di garis depan pertempuran melawan Amerika Serikat yang kriminal dan rezim Zionis pembunuh anak-anak," lanjut pernyataan itu.



(dvs/inf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads