Rencana 20 Ribu Pasukan Perdamaian Gaza Mandek, Bahkan 20 Orang Belum Siap

Rencana 20 Ribu Pasukan Perdamaian Gaza Mandek, Bahkan 20 Orang Belum Siap

Indah Fitrah Yani - detikHikmah
Sabtu, 11 Jul 2026 18:00 WIB
Palestinian workers make concrete bricks from recycled rubble of  buildings to be used in reconstruction of buildings that were damaged by Israeli airstrikes during Israels war with Gazas Hamas rulers last May, at a brick factory east of Gaza City, Jan. 6, 2022. The Gaza Strip has few jobs, little electricity and almost no natural resources. But after four bruising wars with Israel in just over a decade, it has lots of rubble. Local businesses are now finding ways to cash in on the chunks of smashed concrete, bricks and debris left behind by years of conflict. (AP Photo/Adel Hana)
Puing-puing Gaza. Foto: AP/Adel Hana
Jakarta -

Rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengerahkan 20 ribu pasukan penjaga perdamaian internasional ke Jalur Gaza dilaporkan mandek. Misi tersebut kini bahkan kesulitan menyiapkan kontingen awal yang hanya berjumlah 10 hingga 20 personel.

Pengerahan pasukan itu merupakan bagian dari rencana pascaperang Gaza yang disusun Dewan Perdamaian atau Board of Peace bentukan Presiden Amerika Serika, Donald Trump. Pasukan tersebut dikenal sebagai International Stabilization Force (ISF) atau Pasukan Stabilisasi Internasional.

Dilansir The Jewish Chronicle, Jumat (10/7), yang mengutip laporan eksklusif The Wall Street Journal (WSJ), rencana pengerahan ISF telah dikurangi secara signifikan dan ditunda hingga beberapa bulan mendatang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kontingen awal yang disiapkan berasal dari Maroko. Detasemen kecil tersebut semula dijadwalkan masuk ke wilayah itu pada Juni, tetapi kini diperkirakan baru akan tiba beberapa bulan lagi.

Pasukan Maroko juga tidak akan langsung dikerahkan ke Gaza. Mereka terlebih dahulu akan menjalani pelatihan di pusat logistik yang baru dibangun di Israel, dekat perlintasan Kerem Shalom.

ADVERTISEMENT

Setelah menjalani pelatihan, pasukan tersebut baru akan melakukan operasi terbatas di dalam Jalur Gaza. Informasi itu disampaikan sejumlah pejabat Amerika Serikat dan pihak lain yang mengetahui rencana tersebut.

Penundaan pengerahan pasukan menunjukkan besarnya tantangan dalam upaya menstabilkan Gaza hampir tiga tahun setelah perang pecah.

Hamas hingga kini disebut menolak melucuti senjata, padahal langkah tersebut menjadi salah satu syarat utama dalam tahap kedua rencana perdamaian Trump. Di sisi lain, Israel masih melanjutkan operasi militernya di Gaza.

Indonesia Tangguhkan Rencana Kirim Pasukan

WSJ juga melaporkan bahwa Indonesia menangguhkan pembicaraan mengenai keterlibatan dalam misi tersebut karena ketidakstabilan regional.

Indonesia sebelumnya mempertimbangkan untuk menyumbangkan ribuan personel penjaga perdamaian. Kontribusi Indonesia diperkirakan menjadi salah satu yang terbesar dalam misi tersebut.

Sementara itu, Albania, Kazakhstan, Kosovo, dan Maroko masih diharapkan memberikan komitmen resmi untuk bergabung dalam ISF.

Pasukan internasional tersebut dirancang menjadi salah satu landasan tata kelola Gaza pascaperang sekaligus simbol dukungan internasional terhadap proses rekonstruksi.

Namun, hingga kini rekonstruksi Gaza belum dimulai. Bantuan senilai miliaran dolar yang telah dijanjikan juga dilaporkan belum tersalurkan.

BoP Trump Akan Siapkan Zona Kemanusiaan Percontohan di Gaza

Di tengah mandeknya pengerahan pasukan internasional, Dewan Perdamaian bentukan Donald Trump disebut sedang menyiapkan zona kemanusiaan percontohan bagi warga Gaza. Hal ini berdasarkan laporan seorang pejabat Dewan Perdamaian kepada Reuters pada Rabu (8/7).

Pejabat tersebut tidak menyebutkan secara pasti lokasi zona tersebut. Namun, ia mengatakan kawasan itu dirancang menampung puluhan ribu warga yang bersedia pindah secara sukarela. Bantuan, layanan dasar, dan kebutuhan kemanusiaan akan ditingkatkan di lokasi itu.

Proyek ini disebut dapat berjalan meski tahap kedua rencana perdamaian belum disepakati dengan Hamas. Rencana Trump sebelumnya mencakup peningkatan bantuan, pemerintahan teknokrat Palestina, pelucutan senjata Hamas, dan penarikan pasukan Israel.

Namun, pelaksanaannya masih terhenti. Komite Nasional untuk Administrasi Gaza atau NCAG juga belum masuk ke Gaza, sementara Israel masih melakukan operasi militer dan berencana memperluas wilayah kendalinya.

Lebih dari dua juta penduduk Gaza saat ini menghadapi kelaparan, penyakit, dan pengungsian akibat perang.



(inf/dvs)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads