Anime Jaadugar: A Witch in Mongolia menjadi perbincangan internasional, termasuk di Indonesia, setelah menampilkan suara azan pada bagian pembukanya. Serial produksi Science SARU ini tayang perdana pada 4 Juli di platform streaming Crunchyroll.
Dilansir detikPop, pada menit-menit awal episode, terdengar lantunan azan yang mengiringi suasana pagi di sebuah permukiman bergaya Mongolia. Tokoh utama yang mengenakan hijab panjang dan penutup wajah kemudian terlihat berlari menuju sumber suara hingga tiba di depan bangunan menyerupai masjid berkubah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kehadiran azan dalam anime Jepang ini menarik perhatian banyak penonton, khususnya dari kalangan muslim. Pasalnya, penggambaran budaya Mongol-Persia dan elemen Islam secara detail masih terbilang jarang muncul dalam industri anime Jepang.
Fenomena ini juga menarik jika dikaitkan dengan perkembangan komunitas muslim di Jepang. Meski Islam masih menjadi agama minoritas, keberadaan muslim di Negeri Sakura disebut semakin terlihat dalam beberapa tahun terakhir.
Komunitas Muslim Makin Terlihat di Jepang
Pemerintah Jepang tidak mencatat jumlah penduduk berdasarkan agama. Namun, data resmi menunjukkan jumlah warga asing di negara tersebut terus meningkat dari tahun ke tahun.
Menurut Immigration Services Agency, jumlah warga asing di Jepang mencapai 3,77 juta orang pada akhir 2024. Angka itu kemudian naik menjadi 4,13 juta orang pada akhir 2025.
Kenaikan tersebut turut membuat komunitas dari negara-negara berpenduduk muslim, seperti Indonesia, Bangladesh, Pakistan, Malaysia, dan Turki, semakin terlihat dalam kehidupan sosial Jepang.
Hirofumi Tanada dari Waseda University dalam studinya Estimate of Muslim Population in Japan, 2025 memperkirakan jumlah muslim di Jepang mencapai sekitar 230 ribu orang pada akhir 2019/2020. Jumlah itu terdiri atas sekitar 184 ribu muslim asing dan 47 ribu muslim Jepang.
Dalam laporan terbarunya, Tanada memperkirakan jumlah muslim di Jepang naik menjadi sekitar 420 ribu orang pada akhir 2024/awal 2025. Dari jumlah tersebut, sekitar 363 ribu merupakan muslim asing dan 55 ribu lainnya muslim Jepang. Angka itu disebut meningkat sekitar dua kali lipat dibanding empat tahun sebelumnya.
Selain karena meningkatnya jumlah warga asing, keberadaan muslim di Jepang juga semakin tampak dari sisi pariwisata. Japan National Tourism Organization (JNTO) menyebut Jepang makin populer di kalangan wisatawan muslim.
Faktor pendukungnya antara lain bertambahnya restoran halal atau muslim-friendly, fasilitas salat, masjid, hingga tur ramah muslim. JNTO juga mencatat semakin banyak hotel yang menyediakan fasilitas seperti sajadah, penunjuk arah kiblat, serta informasi mengenai masjid dan restoran halal.
Perkembangan ini menunjukkan adanya perhatian yang semakin besar terhadap kebutuhan umat Islam di Jepang.
Pertumbuhan Komunitas Muslim Picu Gesekan
Meski demikian, meningkatnya penduduk dan wisatawan muslim di Jepang juga memunculkan tantangan baru. Di sejumlah daerah, pertumbuhan komunitas muslim disebut menimbulkan gesekan dengan warga lokal, terutama terkait penggunaan ruang publik, pembangunan masjid, hingga kebutuhan pemakaman Islam.
Sebagian besar warga muslim asing tersebut berasal dari Indonesia, terutama caregiver dan peserta pelatihan teknis. Kehadiran mereka ikut memperkuat kebutuhan terhadap fasilitas keagamaan, seperti masjid, ruang salat, makanan halal, hingga tempat pemakaman sesuai ajaran Islam.
Mengutip laporan Japan Forward pada Januari 2026, sejumlah daerah di Jepang mulai menghadapi perdebatan terkait penggunaan ruang publik untuk salat, pembangunan masjid, dan penyediaan lahan pemakaman Islam.
Di Fukuoka, misalnya, penggunaan taman umum di dekat Masjid Fukuoka untuk salat hari besar Islam sempat menuai sorotan karena area yang dipakai melebihi izin. Sementara itu, di sejumlah daerah lain, rencana pembangunan pemakaman Islam dan masjid juga memicu pro-kontra di tengah warga.
Kondisi ini menunjukkan bahwa keberadaan muslim di Jepang tidak hanya semakin terlihat, tetapi juga mulai menguji kesiapan masyarakat setempat dalam membangun ruang hidup bersama.

Komentar Terbanyak
Ramai Keluhan soal Tahlilan, Begini Penjelasan soal Jamuan di Rumah Duka
BEM Psikologi UI Sebut Homoseksual Bukan Penyimpangan, MUI Sentil Moral Kampus
Kemenag Tanggapi Hoaks Bolehkan Korupsi Asal Sesuai Syariat