Salat fardu lima waktu merupakan tiang agama sekaligus kewajiban utama bagi setiap Muslim. Namun, pernahkah Anda merenungkan mengapa jumlah rakaat setiap salat tidak sama? Mengapa Subuh hanya dua rakaat, sedangkan Zuhur, Asar, dan Isya berjumlah empat rakaat, serta Magrib berjumlah tiga rakaat?
Menurut para ahli hikmah, ketentuan waktu dan perbedaan jumlah rakaat ini tidaklah terjadi tanpa alasan. Ketetapan ini berakar dari sejarah syariat yang pernah dikhususkan kepada para nabi terdahulu sebelum masa Nabi Muhammad SAW. Setiap jumlah rakaat dan waktu pelaksanaannya berkaitan erat dengan peristiwa penting serta ungkapan rasa syukur para nabi atas pertolongan Allah SWT.
Sebagaimana dirangkum dari buku Mengungkap Rahasia Sholat Para Nabi karya Syamsuddin Noor, berikut adalah asal-usul dan latar belakang di balik perbedaan jumlah rakaat salat lima waktu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Asal-usul Rakaat Salat Wajib
1. Salat Subuh (2 Rakaat) - Kisah Nabi Adam AS
Salat Subuh pertama kali dikerjakan oleh Nabi Adam AS setelah diturunkan ke bumi dari surga. Ketika bumi mulai memasuki waktu malam dan berangsur gelap, Nabi Adam selalu merasa ketakutan dan cemas karena belum pernah mengalami suasana kegelapan seperti itu sebelumnya.
Saat fajar mulai terbit dan cahaya fajar mengusir kegelapan malam, Nabi Adam AS menunaikan salat dua rakaat. Salat ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur yang mendalam atas kembalinya cahaya siang dan hilangnya rasa cemas. Dua rakaat Subuh ini menjadi pengingat bahwa kasih sayang Allah SWT selalu menyertai manusia dalam setiap keadaan, sekaIi pun dalam kegelapan.
2. Salat Zuhur (4 Rakaat) - Kisah Nabi Ibrahim AS
Salat Zuhur pertama kali didirikan oleh Nabi Ibrahim AS. Momentum ini terjadi tepat pada saat matahari tergelincir di siang hari, setelah Nabi Ibrahim berhasil melaksanakan perintah Allah yang amat berat, yaitu menyembelih putranya, Nabi Ismail AS.
Sebagai ungkapan rasa syukur karena Allah SWT mengganti Nabi Ismail dengan seekor biri-biri dari surga, Nabi Ibrahim menunaikan salat empat rakaat. Empat rakaat ini mencerminkan empat alasan kesyukuran:
- Atas tebusan (penggantian) bagi Nabi Ismail.
- Atas hilangnya kekhawatiran luar biasa sebagai seorang ayah.
- Atas nikmat datangnya biri-biri dari surga.
- Atas kedamaian serta kekuatan yang Allah karuniakan kepadanya sebagai hamba yang taat.
3. Salat Asar (4 Rakaat) - Kisah Nabi Yunus AS
Asal-usul salat Asar berkaitan erat dengan kisah Nabi Yunus AS ketika Allah SWT mengeluarkannya dengan selamat dari dalam perut paus. Saat keluar ke daratan, kondisi fisik Nabi Yunus sangat lemah, diibaratkan seperti anak burung yang baru menetas dan belum memiliki bulu.
Saat berada di dalam perut paus, Nabi Yunus AS mengalami empat kegelapan, yaitu:
- Gelapnya isi perut paus.
- Gelapnya air laut yang dalam.
- Gelapnya malam yang pekat.
- Gelapnya pergerakan di dalam perut paus itu sendiri.
Ketika diselamatkan dan berhasil keluar dari segala penderitaan itu pada waktu asar, Nabi Yunus langsung melaksanakan salat empat rakaat sebagai wujud syukur atas keselamatannya dari keempat kegelapan tersebut.
4. Salat Magrib (3 Rakaat) - Kisah Nabi Isa AS
Salat Magrib pertama kali dikerjakan oleh Nabi Isa AS ketika ia keluar dari tengah-tengah kaumnya pada saat matahari terbenam. Nabi Isa menunaikan salat tiga rakaat, di mana setiap rakaatnya memiliki makna ketauhidan dan penghormatan yang mendalam:
- Rakaat pertama: Ditujukan untuk menafikan (menolak) sifat ketuhanan dari selain Allah Ta'ala.
- Rakaat kedua: Untuk menafikan tuduhan-tuduhan keji yang dilemparkan oleh kaumnya kepada ibunya, Maryam.
- Rakaat ketiga: Untuk menetapkan pengakuan, penghormatan, dan penyembahan hanya kepada Allah semata.
Secara tata cara, dua rakaat pertama yang murni berkaitan dengan Allah dihimpun dalam satu tahiyat, sementara satu rakaat yang berkaitan dengan pembelaan terhadap ibunya tersendirikan.
5. Salat Isya (4 Rakaat) - Kisah Nabi Musa AS
Salat Isya pertama kali dilakukan oleh Nabi Musa AS ketika dirinya melarikan diri keluar dari negeri Madyan dan sempat tersesat di jalan. Dalam perjalanan yang penuh ketidakpastian tersebut, Nabi Musa dilingkupi oleh empat kesedihan besar, yaitu:
- Kesedihan memikirkan kondisi istrinya.
- Kesedihan memikirkan saudaranya, Nabi Harun AS.
- Kesedihan memikirkan nasib anak-anaknya.
- Kesedihan atas penindasan kejam yang dilakukan oleh Firaun.
Allah SWT kemudian membebaskan dan memberikan jalan keluar bagi Nabi Musa dari seluruh kesedihan tersebut tepat pada waktu Isya. Sebagai bentuk pengakuan atas kasih sayang Allah yang menyelamatkannya, Nabi Musa menunaikan salat empat rakaat guna mensyukuri hilangnya keempat beban kesedihan tersebut.
Dengan demikian, perbedaan jumlah rakaat dalam salat wajib lima waktu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan rangkuman sejarah spiritual yang sarat akan makna kesyukuran dari para nabi terdahulu. Melalui Nabi Muhammad SAW, syariat-syariat mulia ini disatukan dan disempurnakan menjadi ibadah harian umat Islam, agar kita senantiasa mengingat pertolongan Allah SWT di setiap pergantian waktu. Wallahu a'lam.
(hnh/inf)












































Komentar Terbanyak
Menag Nasaruddin Umar Tegaskan Nonmuslim Juga Berhak Menerima Daging Kurban
Negara Mayoritas 98% Muslim Ini Larang Hijab, Janggut, hingga Perayaan Lebaran
Kenapa Air Zamzam Tak Pernah Habis Meski Diambil Jutaan Jemaah?