Benarkah Nabi Muhammad Tidak Pernah Azan Seumur Hidup?

Benarkah Nabi Muhammad Tidak Pernah Azan Seumur Hidup?

Hanif Hawari - detikHikmah
Jumat, 05 Jun 2026 09:30 WIB
ilustrasi nabi muhammad
Foto: iStock
Jakarta -

Dalam sejarah Islam, nama Bilal bin Rabah selalu lekat dengan berkumandangnya azan. Ia adalah sahabat setia yang dipercaya oleh Rasulullah SAW untuk menjadi muazin (pengumandang azan) pertama dalam Islam.

Namun, hal ini memicu sebuah pertanyaan besar di kalangan umat Muslim: Benarkah Nabi Muhammad SAW sendiri tidak pernah mengumandangkan azan untuk salat sepanjang hidupnya?

Faktanya, sebagian besar riwayat sejarah mencatat bahwa Rasulullah SAW memang tidak pernah mengumandangkan azan sebagai seruan untuk salat lima waktu. Mengapa demikian?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Para ulama dan cendekiawan Muslim telah mendiskusikan hal ini dan menemukan beberapa alasan mendalam di balik keputusan tersebut.

ADVERTISEMENT

Alasan Nabi Muhammad SAW Tidak Pernah Azan

Alasan utama mengapa Rasulullah SAW tidak mengumandangkan azan adalah karena besarnya tanggung jawab keduniaan dan keagamaan yang beliau emban sebagai pemimpin tertinggi umat Islam.

Dikutip dari situs resminya, Imam Besar Arab Saudi, Syekh Assim Al Hakeem, membeberkan alasannya. Ia berpendapat bahwa urusan umat yang dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW jauh lebih menyita waktu sehingga tidak pernah mengumandangkan azan.

"Rasulullah SAW tidak pernah mengumandangkan azan karena beliau sibuk dengan urusan yang lebih penting dan bernilai lebih besar bagi umatnya," jelas Syekh Assim.

Hal ini senada dengan apa yang dirasakan oleh para sahabat yang menjadi pemimpin setelahnya. Dalam Kitab al-Majmu' karya Imam Nawawi yang dikutip dari situs Kantor Wilayah Mufti Malaysia, terdapat pernyataan dari Umar bin Khattab RA yang berbunyi:

"Jika aku mampu (memenuhi kewajiban) untuk mengumandangkan azan sekaligus (memenuhi tugas) sebagai khalifah, aku akan melakukannya."

Menurut Imam Izzuddin Abdul Salam dalam Kitab Ahasin al-Kalam, karena seluruh waktu Rasulullah SAW sudah dihabiskan untuk mengurus kemaslahatan umat, wahyu, dan strategi dakwah, beliau tidak dapat berkomitmen penuh untuk selalu tepat waktu mengumandangkan azan di setiap masuknya waktu salat. Oleh karena itu, tugas mulia ini didelegasikan kepada sahabat seperti Bilal bin Rabah.

Karena, Rasulullah SAW adalah sosok yang sangat konsisten dalam melakukan sesuatu. Ketika suatu amalan ibadah dicontohkan oleh beliau, beliau akan berkomitmen penuh untuk menjaganya.

Alasan teologis yang sangat menarik diungkapkan oleh al-Hattab dalam Kitab Mawahib al-Jalil. Menurutnya, lafaz azan mengandung klausa perintah dan ajakan yang sangat kuat, seperti kalimat "Hayya 'alas-shalah" (Mari bergegas menuju salat).

Jika kalimat perintah tersebut diucapkan langsung dari lisan Rasulullah SAW, maka hukum memenuhi panggilan tersebut saat itu juga menjadi wajib mutlak. Jika ada umatnya yang menunda atau tidak segera datang karena suatu kesibukan, mereka dikhawatirkan akan terkena dosa besar atau hukuman.

Rasulullah SAW ingin melindungi umatnya dari ancaman yang tertera dalam Al-Qur'an Surah An-Nur ayat 63:

لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا ۚ قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنْكُمْ لِوَاذًا ۚ فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Artinya: "Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian yang lain. Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menyelinap di antara kamu dengan bersembunyi, maka hendaklah orang-orang yang menentang perintah Rasul-Nya takut akan mendapat fitnah atau azab yang pedih."

Dalam lafaz azan, terdapat kalimat syahadat kedua, yaitu: "Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah" (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah).

Imam al-Naisaburi dalam Kitab Nur al-Absor menjelaskan dari sisi kepantasan atau etika:

"Memberikan kesaksian kepada Nabi (SAW) juga merupakan bagian dari azan itu sendiri. Oleh karena itu, tidak pantas baginya untuk memberikan kesaksian kepada dirinya sendiri."

Rasulullah Pernah Azan, Tapi Bukan untuk Salat

Meskipun Rasulullah SAW tidak pernah mengumandangkan azan sebagai penanda masuknya waktu salat berjamaah, bukan berarti beliau sama sekali tidak pernah melafalkan azan sepanjang hidupnya.

Berdasarkan beberapa hadis yang dikutip dari buku Taudhihul Adillah 4 karya H. Muhammad Syafi'i Hadzami, Rasulullah SAW pernah mengumandangkan azan dalam konteks atau momen yang berbeda.

Salah satunya adalah riwayat dari Abu Rafi' RA, yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah mengumandangkan azan di telinga seorang bayi yang baru saja lahir. Yakni cucu beliau, Hasan/Husain.

Wallahu a'lam.




(hnh/lus)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads