Kisah Nabi Musa Protes ke Nabi Adam Sebabkan Manusia Hidup di Bumi

Kisah Nabi Musa Protes ke Nabi Adam Sebabkan Manusia Hidup di Bumi

Kristina - detikHikmah
Senin, 20 Jul 2026 05:00 WIB
Symbol of the Shia Muslim religion with an Ayatollah who prays and preaches in front of his followers by stretching a finger upwards.
Ilustrasi Nabi Musa AS. Foto: Getty Images/iStockphoto/Pict Rider
Jakarta -

Nabi Adam AS adalah nenek moyang manusia yang awalnya tinggal di surga kemudian diturunkan ke bumi. Hal ini memicu protes dari Nabi Musa AS.

Berdasarkan ayat-ayat tentang penciptaan Nabi Adam AS, Allah SWT menciptakan Nabi Adam AS dari segenggam tanah yang berasal dari berbagai penjuru bumi. Kemudian Allah SWT menciptakan Hawa dari salah satu tulang rusuk Nabi Adam AS. Keduanya lalu diminta tinggal di surga yang penuh kenikmatan.

Allah SWT berfirman dalam surah Al-A'raf ayat 19:

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

وَيٰٓاٰدَمُ اسْكُنْ اَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ فَكُلَا مِنْ حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الظّٰلِمِيْنَ ١٩

Artinya: (Allah berfirman,) "Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di surga (ini). Lalu, makanlah apa saja yang kamu berdua sukai dan janganlah kamu berdua mendekati pohon yang satu ini sehingga kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim."

ADVERTISEMENT

Menurut sejumlah tafsir, ayat tersebut menerangkan bahwa Allah SWT membolehkan Nabi Adam dan Hawa tinggal di surga dan memakan semua buah-buahan di dalamnya kecuali satu pohon. Pohon ini yang oleh para mufassir disebut dengan khuldi.

Di dalam surga tersebut juga ada iblis yang sombong dan benci kepada Nabi Adam AS. Mendengar Nabi Adam AS dilarang mendekati satu pohon, iblis lantas melancarkan tipu dayanya. Alhasil Nabi Adam AS teperdaya, lalu bertobat, dan Allah SWT menurunkannya ke bumi.

Apa yang dilakukan Nabi Adam AS itu dianggap sebuah kesalahan oleh Nabi Musa AS. Dalam sebuah hadits shahih yang diceritakan Ibnu Katsir dalam Qashash al-Anbiya terjemahan Dudi Rosyadi, Nabi Musa AS protes ke Nabi Adam AS karena menyebabkan umat manusia hidup di bumi.

"Anda adalah orang yang bertanggung jawab atas keluarnya manusia dari surga karena dosa yang Anda perbuat hingga mereka dalam kesengsaraan," kata Nabi Musa AS.

Lalu, Nabi Adam AS menjawab, "Wahai Musa, Anda adalah orang yang diistimewakan oleh Allah dengan diberikan risalah-Nya dan dengan berbicara kepadamu secara langsung. Apakah kamu masih menyalahkanku atas suatu perkara yang telah ditulis oleh Allah untukku sebelum aku diciptakan, atau atas takdir yang telah ditetapkan oleh Allah kepadaku sebelum aku diciptakan?"

Alasan Nabi Adam AS itu, kata Rasulullah SAW, dapat mengalahkan pendapat Nabi Musa AS.

Hadits tersebut diriwayatkan Imam Bukhari dari Qutaibah, dari Ayub bin Najjar, dari Yahya bin Abi Katsir, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW.

Imam Muslim, Imam Ahmad, dan At-Tirmidzi turut meriwayatkan hadits serupa. Adapun redaksi Imam Ahmad sebagai berikut:

Nabi SAW pernah bersabda, "Nabi Adam dan Nabi Musa pernah berdebat tentang sesuatu, Nabi Musa berkata, 'Wahai Adam, Anda adalah orang yang telah diciptakan oleh Allah melalui Tangan-Nya, ditiupkan kepadamu roh ciptaan-Nya, namun Anda tega menyengsarakan seluruh manusia dengan mengeluarkan mereka dari surga.' Lalu Adam berkata, 'Wahai Musa, Anda adalah orang yang diistimewakan oleh Allah dengan berbicara kepadamu secara langsung, apakah Anda masih menyalahkanku atas suatu perbuatan yang aku lakukan, padahal perbuatan itu telah Allah gariskan untukku sebelum diciptakannya langit dan bumi'?" Kemudian Nabi berkata, "Maka alasan Nabi Adam itupun dapat mengalahkan pendapat Nabi Musa."

Hikmah Perdebatan Nabi Adam dan Nabi Musa

Kisah perdebatan Nabi Adam AS dan Nabi Musa AS yang diceritakan Rasulullah SAW itu tersirat hikmah yang besar. Menurut penjelasan dalam buku Inilah Cerita Nabi Saw. tentang Para Nabi, Sahabat, Dajjal, Imam Mahdi & Umat Terdahulu oleh Rizem Aizid, kisah tersebut mengandung hikmah bahwa kita diperbolehkan beradu argumen dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Nabi Musa AS melontarkan argumennya kemudian dijawab oleh Nabi Adam AS dengan argumen yang membuat Nabi Musa AS tak bisa membantah lagi.

Kedua, kisah tersebut juga mengandung hikmah bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah SWT. Allah SWT telah menetapkan takdir manusia jauh sebelum Nabi Adam AS diciptakan. Argumen yang disampaikan Nabi Adam AS itu dibenarkan dalam Al-Qur'an. Allah SWT berfirman dalam surah Al-Hadid ayat 22:

مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَا ۗاِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌۖ ٢٢

Artinya: "Tidak ada bencana (apa pun) yang menimpa di bumi dan tidak (juga yang menimpa) dirimu, kecuali telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya hal itu mudah bagi Allah."

Kisah tersebut juga memperlihatkan betapa besarnya kekuasaan Allah SWT. Dia mengistimewakan Nabi Musa AS untuk bercakap-cakap dengan-Nya.

Wallahu a'lam.



(kri/erd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads