Dulu di Padang Pasir Tandus, Kini Bukit Shafa dan Marwah dalam Bangunan Ber-AC

Dulu di Padang Pasir Tandus, Kini Bukit Shafa dan Marwah dalam Bangunan Ber-AC

Daffa Ichyaul Majid Sarja - detikHikmah
Minggu, 17 Mei 2026 16:00 WIB
Jemaah haji melaksanakan sai, jalan kaki dan berlari-lari kecil antara Safa dan Marwah
Jemaah Haji. Foto: Triono Wahyu S/detikcom
Jakarta -

Ribuan tahun lalu, Bukit Shafa dan Marwah hanyalah gundukan batu di tengah padang pasir yang tandus dan sunyi. Kini, pemandangan tersebut telah berubah drastis. Jemaah haji dan umrah dapat melintasi jalur bersejarah tersebut dengan nyaman di dalam bangunan megah yang dilengkapi pendingin udara (AC).

Lantas, bagaimana kondisi Bukit Shafa dan Marwah dulu dan sekarang? Berikut ulasan lengkap mengenai sejarah dan perubahan Bukit Shafa dan Marwah yang dirangkum detikHikmah.

Letak Bukit Shafa dan Marwah

Dijelaskan dalam buku Jejak Sejarah di Dua Tanah Haram: Napak Tilas 85 Tempat Bersejarah di Makkah dan Madinah karya Mansya Aji Putra, Bukit Shafa adalah sebuah bukit yang terletak kurang lebih 130 meter di sebelah selatan dari Ka'bah. Bukit Shafa masih bersambung dengan Jabal Abu Qubaisy.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di kawasan Bukit Shafa, dulunya terdapat Darul Arqam, Darul Saib bin Saib dan Darul Khuld, yang kini hanya kenangan saja, karena telah dibongkar habis dan disatukan dengan tempat sa'i (Mas'a).

Sedangkan Bukit Marwah terletak sekitar 350 meter dari arah timur laut bangunan Ka'bah (Rukun Syami). Bukit ini pada dasarnya bersambung dengan Bukit Qaiqu'an. Bukit Marwah menjadi tempat berakhirnya ritual sa'i dalam rangkaian ibadah haji dan umrah.

ADVERTISEMENT

Jarak antara Shafa dan Marwah adalah sekitar 450 meter. Sehingga, jika melakukan perjalanan tujuh kali bolak-balik, maka jarak perjalanan ditempuh sejauh 3,15 km.

Bukit Shafa dan Marwah Sekarang

Dinukil dari buku Blusukan di Makkah dan Madinah karya Hasanudin Abdurakhman, Bukit Shafa dan Marwah tidak lagi berupa hamparan padang pasir yang tandus, kini kedua bukit tersebut berada dalam ruangan tertutup yang dilengkapi pendingin udara (AC).

Bukit Shafa berbentuk seperti gundukan batu, kini ditutupi oleh kaca. Sementara Bukit Marwah, berupa hamparan batu berukuran sekitar 3 meter persegi, permukaannya ditutupi semacam lapisan. Keduanya dihubungkan dengan jalan berlapis batu marmer, lebar seluruhnya sekitar 20 meter. Jalan penghubung ini memiliki lantai dua.

Kini terdapat dua jalur sa'i, yaitu jalur lingkar luar yang dilalui orang banyak. Jaraknya tentu sedikit lebih jauh. Satu lagi adalah jalur dalam, yang lebih pendek dibanding jalur luar.

Jalur dalam diperuntukan bagi jemaah pengguna kursi roda. Jadi, jalur selebar 20 meter tersebut, dibagi menjadi 4:2 untuk jemaah umum, pulang dan pergi, serta dua jalur lagi untuk pengguna kursi roda, pulang dan pergi.

Sejarah Bukit Shafa dan Marwah

Bukit Shafa dan Marwah adalah dua bukit bersejarah di Makkah, yang dijadikan lokasi ibadah Sa'i saat haji dan umrah. Sejarahnya berakar dari perjuangan Siti Hajar mencari air untuk putranya Ismail.

Dikisahkan dalam buku Jejak Sejarah di Dua Tanah Haram: Napak Tilas 85 Tempat Bersejarah di Makkah dan Madinah karya Mansya Aji Putra, saat itu Nabi Ibrahim AS diperintahkan Allah SWT untuk meninggalkan istrinya Siti Hajar dan Ismail.

Nabi Ibrahim membawa istri dan anaknya yang masih disusui, keduanya ditinggalkan di sisi Ka'bah, di atas telaga Zam-zam di sebelah masjid. Saat itu, di Makkah tidak ada manusia satu pun, karena di tempat tersebut tidak ada air.

Di dekat mereka, Nabi Ibrahim meninggalkan tempat (wadah) dari kulit yang di dalamnya ada buah kurma, dan sebuah wadah kecil berisi air yang diperuntukan sebagai bekal mereka berdua.

Maka, Nabi Ibrahim pun pergi meninggalkan mereka berdua menuju Syam. Siti Hajar mengikutinya sambil berkata, "Kemana engkau hendak pergi? Wahai Ibrahim, sedangkan engkau meninggalkan kami berdua di lembah yang tiada penghuni?"

Berkali-kali Siti Hajar bertanya, namun tidak ada jawaban dari Ibrahim, bahkan ia tidak menoleh ke belakang sedikit pun. Lalu, Siti Hajar bertanya lagi, "Apakah Allah yang memerintahkan kamu melakukan semua ini?" Nabi Ibrahim pun menjawab, "Ya." Mendengar jawaban tersebut, Siti Hajar berkata, "Jika demikian, pasti Allah tidak akan menyia-nyiakan kami di sini."

Maka, Siti Hajar kembali ke tempatnya, sementara Ibrahim terus berjalan hingga sampai pintu keluar Makkah. Ibrahim menghadapkan wajahnya ke Ka'bah sambil mengangkat kedua belah tangannya, seraya berdoa:

رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَوَةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِى إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Rabbanā innī askantu min żurriyyatī biwādin ghairi żī zar'in 'inda baitikal-muḥarram, rabbanā liyuqīmuṣ-ṣalāta faj'al af'idatam minan-nāsi tahwī ilaihim warzuq-hum minaṡ-ṡamarāti la'allahum yasykurūn.

Artinya: "Wahai Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak ada tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Wahai Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka, dan berikanlah rezeki kepada mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur."

Setelah perbekalan habis, Siti Hajar meletakkan Ismail sambil berusaha mencari air. Dengan rasa iba, Siti Hajar memandang anaknya yang kehausan, hingga timbul kekhawatiran yang lebih buruk lagi.

Ia berusaha sekuat tenaga untuk naik ke atas Bukit Shafa. Dari atas bukit tersebut, ia melihat ke kiri dan kanan, dengan harapan melihat kabilah datang yang bisa membantunya.

Kemudian, ia berlari lagi ke Bukit Marwah. Di sana, ia melakukan hal yang sama seperti di Bukit Shafa. Demikian seterusnya, ia bolak-balik sebanyak tujuh kali antara Bukit Shafa dan Marwah.

Ketika ia berada di Bukit Shafa, terdengar suara, sehingga ia berkata pada dirinya sendiri, "Diam!." Kemudian ia mendengar lagi suara itu, "Wahai Ibunda Ismail, dengarkanlah bahwa di sisimu terdapat sesuatu yang dapat menolongmu." (Suara itu adalah suara Malaikat Jibril yang memang berada di sisi tempat air Zam-zam, yang muncul kemudian)

Malaikat Jibril menginjakkan tumitnya di tempat itu (dalam riwayat lain, mengepakkan sayapnya), lalu memancarlah air. Lantas, Siti Hajar membendung air tersebut, maka dari itu jadilah kolam yang saat ini menjadi sebuah sumur yang dikenal dengan sumur air Zam-zam.



(inf/inf)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads