- Pengertian Puasa Ramadan
- Hukum Puasa Ramadan dan Dalilnya
- Rukun Puasa Ramadan 1. Berniat Puasa dalam Hati 2. Menahan Diri dari Hal yang Bisa Membatalkan Puasa
- Syarat Wajib Puasa Ramadan 1. Beragama Islam 2. Balig 3. Berakal 4. Sehat 5. Mampu 6. Bukan Musafir 7. Suci dari Haid dan Nifas
- Syarat Sah Puasa Ramadan 1. Niat 2. Beragama Islam 3. Suci dari Haid dan Nifas 4. Dilakukan pada Hari yang Diperbolehkan Berpuasa
- Niat Puasa Ramadan
- Niat Puasa Ramadan Sebulan Penuh
- Hal-hal yang Bisa Membatalkan Puasa 1. Makan dan Minum dengan Sengaja 2. Muntah dengan Sengaja 3. Hubungan Suami-Istri di Siang Hari 4. Hilang atau Berubah Niat 5. Murtad 6. Keluar Air Mani dengan Sengaja 7. Haid dan Nifas
Ramadan adalah bulan kesembilan dalam kalender hijriah. Di bulan ini, seluruh umat Islam di dunia diwajibkan untuk berpuasa selama sebulan penuh.
Puasa Ramadan adalah ibadah wajib yang Allah SWT perintahkan secara langsung kepada umat Islam. Ibadah ini menjadi bagian penting dalam menyempurnakan keimanan dan meningkatkan ketakwaan.
Menjalankan puasa Ramadan termasuk rukun Islam yang keempat. Dalam pelaksanaannya, umat Islam wajib memenuhi rukun serta syarat wajib dan sah puasa sesuai ketentuan syariat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengertian Puasa Ramadan
Puasa Ramadan memiliki pengertian yang jelas baik secara bahasa maupun istilah agama. Dalam buku Fiqhul Islam: Belajar Fikih Mazhab Syafi'i untuk Pemula, puasa secara bahasa berasal dari kata as-shaum yang artinya menahan diri dari suatu perbuatan.
Sementara itu, menurut syariat Islam, puasa dimaknai sebagai menahan diri dari segala hal yang dapat membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Puasa harus dilakukan dengan niat serta memenuhi syarat dan ketentuan yang telah ditetapkan.
Puasa tidak hanya sekadar menahan lapar dan haus. Lebih dari itu, puasa juga mengajarkan untuk menahan hawa nafsu, menjaga sikap, perkataan, dan perbuatan agar tidak melakukan hal-hal yang sia-sia maupun dilarang oleh Allah SWT. Termasuk yang membatalkan puasa adalah memasukkan benda ke dalam rongga tubuh, seperti minum obat dan sejenisnya.
Kewajiban puasa Ramadan dimulai setelah bulan Syaban genap 30 hari atau ketika telah terlihat tanda masuknya bulan Ramadan. Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia terbitan Kementerian Agama RI, awal puasa Ramadan 1447 H diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
Hukum Puasa Ramadan dan Dalilnya
Puasa Ramadan hukumnya wajib bagi setiap umat Islam yang telah memenuhi syarat. Hal ini dijelaskan dalam buku Fikih Sunnah 2 karya Sayyid Sabiq, yang menyebutkan bahwa kewajiban puasa Ramadan merupakan perintah langsung dari Allah SWT.
Perintah tersebut ditegaskan dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 183,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Yā ayyuhal-lażīna āmanū kutiba 'alaikumuṣ-ṣiyāmu kamā kutiba 'alal-lażīna min qablikum la'allakum tattaqūn(a).
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
Selain itu, Allah SWT juga menjelaskan kewajiban puasa Ramadan dalam surah Al-Baqarah ayat 185,
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗوَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗيُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖوَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Syahru ramaḍānal-lażī unzila fīhil-qur'ānu hudal lin-nāsi wa bayyinātim minal-hudā wal-furqān(i), faman syahida minkumusy-syahra falyaṣumh(u) wa man kāna marīḍan au 'alā safarin fa 'iddatum min ayyāmin ukhar(a), yurīdullāhu bikumul-yusra wa lā yurīdu bikumul-'usr(a), wa litukmilul-'iddata wa litukabbirullāha 'alā mā hadākum wa la'allakum tasykurūn(a).
Artinya: Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.
Kewajiban puasa Ramadan juga ditegaskan dalam hadits Rasulullah SAW. Beliau bersabda,
"Islam dibangun di atas lima perkaram bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Ramadan, dan melaksanakan ibadah haji." (HR. Bukhari)
Dari dalil-dalil tersebut, dapat dipahami bahwa puasa Ramadan adalah ibadah wajib yang menjadi bagian dari rukun Islam dan harus dilaksanakan oleh setiap muslim yang mampu.
Baca juga: Puasa: Jenis, Rukun, Syarat dan Tujuannya |
Rukun Puasa Ramadan
Rukun puasa Ramadan adalah hal-hal yang wajib dipenuhi oleh setiap muslim saat menjalankan ibadah puasa. Jika salah satu rukun ini tidak dilakukan, maka puasa Ramadan dinyatakan tidak sah. Hal ini dijelaskan dalam buku Fikih karya Udin Wahyudin. Dalam Islam, rukun puasa Ramadan terdiri dari dua hal, yaitu:
1. Berniat Puasa dalam Hati
Niat puasa Ramadan berarti adanya kesengajaan di dalam hati untuk menjalankan ibadah puasa sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT dengan harapan mendapatkan ridha-Nya. Niat puasa Ramadan wajib dilakukan sebelum terbit fajar, yaitu pada malam hari selama bulan Ramadan.
Ketentuan ini dijelaskan dalam hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari Hafsah RA sebagai berikut,
مَنْ لَمْ يُجْمِحِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ (رواه الخمسة )
Artinya: Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak sah puasanya. (HR. al-Khamsah)
2. Menahan Diri dari Hal yang Bisa Membatalkan Puasa
Rukun puasa Ramadan berikutnya adalah menahan diri dari segala hal yang dapat membatalkan puasa. Hal ini dilakukan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
Selama waktu tersebut, seorang muslim wajib menjaga diri dari perbuatan yang membatalkan puasa agar ibadah puasa yang dijalankan tetap sah dan diterima.
Syarat Wajib Puasa Ramadan
Syarat wajib puasa adalah ketentuan yang menjadikan seseorang berkewajiban menjalankan puasa. Jika syarat ini belum terpenuhi, maka puasa Ramadan belum menjadi kewajiban baginya.
Dikutip dari buku Fikih karya Udin Wahyudin dkk. dan buku Puasa Bukan Hanya Saat Ramadan karya Ahmad Sarwat Lc, berikut ini adalah beberapa syarat wajib puasa Ramadan.
1. Beragama Islam
Puasa Ramadan diwajibkan bagi setiap orang yang beragama Islam. Bagi mereka yang tidak beragama Islam, kewajiban puasa ini tidak berlaku.
2. Balig
Balig berarti seseorang telah mencapai usia dewasa sesuai ketentuan syariat. Anak-anak yang belum balig belum diwajibkan menjalankan puasa Ramadan.
3. Berakal
Kewajiban puasa hanya berlaku bagi orang yang memiliki akal sehat. Seseorang yang mengalami gangguan akal, seperti pingsan atau gangguan jiwa, tidak diwajibkan melaksanakan puasa.
4. Sehat
Puasa Ramadan diwajibkan bagi orang yang dalam kondisi sehat. Jika seseorang sedang sakit, ia tidak wajib berpuasa. Namun, puasa yang ditinggalkan tetap harus diganti di hari lain setelah kondisinya membaik.
Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 185, yang artinya,
"...Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan, (wajib menggantinya) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain..."
Penyakit yang membolehkan seseorang tidak berpuasa adalah penyakit yang dapat bertambah parah atau memperlambat kesembuhan jika tetap dipaksakan berpuasa.
5. Mampu
Allah SWT hanya mewajibkan puasa Ramadan kepada orang yang memang masih sanggup menjalankannya. Bagi orang yang kondisi tubuhnya sudah sangat lemah atau lanjut usia sehingga secara fisik tidak memungkinkan untuk berpuasa, maka ia tidak diwajibkan berpuasa.
6. Bukan Musafir
Seseorang yang sedang dalam perjalanan jauh (musafir) tidak diwajibkan berpuasa Ramadan. Namun, puasa yang ditinggalkan tersebut tetap harus diganti pada hari lain ketika sudah tidak bepergian.
7. Suci dari Haid dan Nifas
Perempuan muslim yang sedang mengalami haid atau nifas tidak diwajibkan berpuasa. Bahkan, jika tetap berpuasa dalam kondisi tersebut, hukumnya menjadi haram.
Hal ini dijelaskan dalam hadits dari Aisyah RA,
"Kami (perempuan yang haid dan nifas) diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha sholat." (HR Muslim)
Syarat Sah Puasa Ramadan
Mengutip buku Tuntunan Puasa menurut Al-Qur'an dan Sunah karya Alik al Adhim, syarat sah puasa adalah ketentuan yang harus dipenuhi agar puasa yang dilakukan seseorang dinyatakan sah di hadapan Allah SWT.
1. Niat
Jika seseorang menjalankan puasa wajib di bulan Ramadan tetapi tidak berniat, maka puasanya tidak sah. Ketentuan ini berlaku untuk puasa wajib. Adapun puasa sunah, niat masih boleh dilakukan pada siang hari.
2. Beragama Islam
Puasa hanya sah apabila dilakukan oleh orang beragama Islam. Puasa yang dilakukan oleh selain muslim tidak dinilai dan tidak mendapatkan pahala.
3. Suci dari Haid dan Nifas
Puasa tidak sah apabila dilakukan oleh perempuan yang sedang mengalami haid atau nifas.
4. Dilakukan pada Hari yang Diperbolehkan Berpuasa
Puasa juga harus dilakukan di hari yang memang diperbolehkan. Jika puasa dilakukan pada hari yang dilarang, maka puasanya tidak sah, bahkan dapat menjadi haram.
Beberapa hari yang tidak boleh digunakan untuk berpuasa, yaitu:
- Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal.
- Hari Raya Idul Adha, 10 Zulhijjah.
- Hari Tasyrik tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijjah.
- Puasa sunnah yang dilakukan hanya pada hari Jumat.
- Puasa pada hari Syak, yaitu tanggal 30 Syaban saat masih ragu apakah sudah masuk Ramadan atau belum.
Niat Puasa Ramadan
Niat puasa Ramadan dibaca pada malam hari hingga sebelum terbit fajar. Berikut bacaan niat puasa Ramadan yang dikutip dari buku Praktis Ibadah karya Irwan dkk.
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلَّهِ تَعَالَى
Arab Latin: Nawaitu shauma ghadin 'an ada'i fardhi syahri Ramadhana hadzihis sanati lillahi ta'ala.
Artinya: "Aku niat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban puasa bulan Ramadan tahun ini, karena Allah Ta'ala."
Niat Puasa Ramadan Sebulan Penuh
Masih mengacu pada sumber yang sama, terdapat pula bacaan niat puasa Ramadan untuk sebulan penuh.
نَوَيْتُ صَوْمَ جَمِيعِ شَهْرِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ فَرْضًا لِلَّهِ تَعَالَى
Arab Latin: Nawaitu shauma jami'i syahri ramadhani hadzihis sanati fardhan lillahi ta'ala.
Artinya: Aku niat berpuasa di sepanjang bulan Ramadan tahun ini dengan mengikuti pendapat Imam Malik, wajib karena Allah Ta'ala.
Hal-hal yang Bisa Membatalkan Puasa
Agar puasa Ramadan tetap sah dan diterima oleh Allah SWT, ada beberapa hal yang harus dihindari. Berikut ini adalah hal-hal yang dapat membatalkan puasa, dirangkum dari buku Tuntunan Puasa Menurut Al-Qur'an dan Sunah karya Alik Al-Adhim.
1. Makan dan Minum dengan Sengaja
Jika seseorang makan atau minum dengan sengaja saat sedang berpuasa, maka puasanya menjadi batal. Namun, apabila seseorang makan atau minum karena lupa, puasanya tetap sah selama ia segera berhenti saat ingat.
2. Muntah dengan Sengaja
Muntah yang disengaja dapat membatalkan puasa, misalnya dengan sengaja memasukkan jari ke dalam mulut tanpa alasan yang dibenarkan.
Sebaliknya, muntah yang terjadi tanpa disengaja, seperti karena sakit, hamil, atau mabuk perjalanan, tidak membatalkan puasa.
3. Hubungan Suami-Istri di Siang Hari
Melakukan hubungan suami-istri pada siang hari di bulan Ramadan membatalkan puasa. Selain wajib mengganti puasa (qadha), pelakunya juga dikenai kewajiban membayar kafarat.
Hubungan suami-istri yang dimaksud adalah masuknya alat kelamin laki-laki ke dalam alat kelamin perempuan.
Sementara itu, hubungan intim diperbolehkan pada malam hari setelah berbuka puasa.
4. Hilang atau Berubah Niat
Jika seseorang berniat membatalkan puasa, meskipun belum melakukan perbuatan yang membatalkan puasa, maka puasanya dianggap tidak sah. Hal ini karena niat merupakan rukun dalam ibadah puasa.
5. Murtad
Seseorang yang keluar dari agama Islam saat sedang berpuasa, maka puasanya otomatis batal dan seluruh amal ibadahnya gugur. Meskipun ia kembali memeluk Islam pada hari yang sama, puasanya tetap tidak sah.
6. Keluar Air Mani dengan Sengaja
Keluarnya air mani secara sengaja akibat perbuatan seperti onani, masturbasi, menonton hal-hal pornografi, atau berkhayal yang bersifat seksual, dapat membatalkan puasa.
Namun, jika air mani keluar tanpa disengaja, seperti mimpi basah di siang hari, maka puasanya tetap sah.
7. Haid dan Nifas
Perempuan yang mengalami haid atau nifas di bulan Ramadan tidak sah puasanya dan wajib menggantinya di hari lain. Bahkan jika darah keluar sesaat sebelum waktu berbuka, puasa hari itu tetap dianggap batal.
(inf/inf)












































Komentar Terbanyak
Wamenhaj Dahnil Anzar Nilai Presiden Prabowo Layak Jadi Bapak Haji Indonesia
Mengapa Nabi Isa Disebut Belum Wafat dalam Islam?
Secara Hisab, Idul Adha 1447 H Jatuh pada 27 Mei 2026