Hari Raya Idul Adha, yang juga dikenal dengan Hari Raya Kurban, adalah salah satu hari besar umat Islam yang dirayakan setiap tanggal 10 Zulhijah dalam kalender Hijriah.
Idul Adha memperingati kisah pengorbanan Nabi Ibrahim AS yang penuh dengan keikhlasan bersedia mengorbankan putranya, Nabi Ismail AS, sebagai bentuk ketaatan kepada perintah Allah SWT. Namun, atas izin-Nya, pengorbanan itu digantikan dengan seekor hewan sembelihan.
Pada hari Idul Adha, umat Islam yang mampu secara finansial melaksanakan ibadah kurban dengan menyembelih hewan ternak seperti kambing, sapi, unta. Daging kurban kemudian dibagikan kepada keluarga, tetangga, terutama kepada fakir miskin sebagai bentuk solidaritas sosial dan kepedulian terhadap sesama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di benua Afrika Utara, tepatnya negara Libya yang mayoritas penduduknya beragama Islam suasana Idul Adha terasa berbeda dibandingkan dengan di Indonesia. Tidak terdapat takbiran di masjid-masjid, atau bahkan karnaval keliling menyambut Idul Adha.
Takbiran di masjid kota Zliten, Libya dimulai pada pagi hari menjelang salat Idul Adha. Selepas salat, sama halnya di Indonesia semua jama'ah saling salam-salaman sembari mengucapkan ''kullu 'aamin wa antum bikhayr'' dalam bahasa Arab yang artinya semoga kalian senantiasa diberi kebaikan setiap tahunnya.
Menariknya, tidak ada satupun masyarakat Libya yang membawa hewan kurbannya ke masjid, tapi mereka menyembelih hewan kurban di rumah masing-masing. Rasulullah SAW bersabda:
: عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَال
ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ، ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ، وَسَمَّى وَكَبَّرَ، وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا
رواه البخاري ومسلم
Artinya : Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata :
"Nabi SAW berkurban dengan dua ekor domba yang putih dan bertanduk. Beliau menyembelih keduanya dengan tangannya sendiri, membaca basmalah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di atas tubuh hewan kurban tersebut."(HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW menyembelih hewan kurbannya sendiri ditempat beliau berada, bukan melalui wakil atau lembaga. Ini menunjukkan keutamaan menyembelih sendiri di rumah atau di tempat pribadi, jika seseorang mampu memenuhi syarat syar'i. Namun, bila tidak mampu, boleh diwakilkan.
Hal ini tidak sulit dilakukan, karena masyarakat Libya umumnya mempunyai rumah yang besar dan dihuni hampir sebagian keluarga besar, jika tidak memungkinkan, mereka akan membangun rumah di sampingnya. Jadi, banyak tenaga yang membantu menyembelih, memotong hingga membagikannya kepada masyarakat sekitarnya.
Perayaan Idul Adha di Libya, potong hewan kurban tidak di masjid tapi di rumah Foto: Dok. Pribadi |
Penyembelihan dilaksanakan setelah imam salat Idul Adha menyembelih hewan kurbannya, sesuai dengan kaidah fikih Maliki. Pada hari kedua, di kota Zliten, di Zawiyah Sayyidi Syaikh Abdussalam Al Asmar terdapat sebuah acara besar yang dinamakan ''Mazzar''.
Orang-orang dari berbagai kota berkumpul di tempat ini guna bersuka cita, bersilaturahmi dan merayakan hari Raya Idul Adha, berziarah di makam Sayyidi Syaikh Abdussalam Al Asmar, dan anggota keluarganya yang dimakamkan di belakang zawiyah ini. Bahkan ada yang datang dari sehari sebelumnya guna mengikuti acara ini.
Di sepanjang jalan menuju zawiyah terdapat berbagai stand sederhana yang menjual berbagai makanan ringan khas Libya dan mainan anak-anak. Oleh karena itu para orang tua membawa anak-anaknya untuk membelikan mereka mainan dan menikmati suasana suka cita di Hari Raya Idul Adha.
Izzuddien Bilhaq
Penulis adalah mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ushuluddin di Alasmarya Islamic University, Zliten, Libya.
Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih - Redaksi).
(lus/lus)


Komentar Terbanyak
Menbud Tetapkan Hari Kepercayaan kepada Tuhan YME, MUI Pertanyakan Urgensinya
Mesir dan Turki Tolak Kapal Pesiar LGBTQ , Jaga Nilai Masyarakat Setempat
Kisah Keajaiban Sedekah 6 Dirham Sayyidina Ali Dibalas 50 Kali Lipat