Persiapan Menjelang Puasa Ramadan, Ini Amalan yang Dianjurkan

Persiapan Menjelang Puasa Ramadan, Ini Amalan yang Dianjurkan

Salsa Dila Fitria Oktavianti - detikHikmah
Kamis, 05 Feb 2026 08:45 WIB
Persiapan Menjelang Puasa Ramadan, Ini Amalan yang Dianjurkan
Ilustrasi membaca Alquran Foto: Masjid Pogung Dalangan/Unsplash
Jakarta -

Bulan Ramadan menjadi momen penting bagi umat Islam untuk memperbanyak amal ibadah sekaligus membersihkan diri dari kebiasaan dan perilaku yang kurang baik. Karena itu, persiapan sebaiknya dilakukan sejak dini agar seorang Muslim dapat menjalankan puasa dengan lebih fokus, tenang, dan maksimal.

Salah satu bentuk persiapan tersebut adalah dengan memperhatikan dan mengamalkan berbagai amalan yang dianjurkan menjelang datangnya bulan Ramadan.

Amalan Menyambut Bulan Ramadan

Dikutip dari buku Memantaskan Diri Menyambut Bulan Ramadan karya Abu Maryam Kautsar Amru, menyambut datangnya bulan Ramadan tidak hanya dilakukan ketika bulan suci itu tiba. Umat Islam dianjurkan untuk melakukan berbagai persiapan sejak jauh hari, baik secara fisik, ilmu, maupun spiritual.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Persiapan ini bertujuan agar ibadah di bulan Ramadan dapat dijalankan dengan lebih khusyuk, tertata, dan sesuai tuntunan syariat. Berikut beberapa amalan yang dapat dilakukan sebagai bentuk persiapan menyambut bulan Ramadan:

1. Membayar Utang Puasa Ramadan Sebelumnya

Salah satu persiapan paling penting dalam menyambut bulan Ramadan adalah membayar utang puasa Ramadan yang lalu. Hal ini terutama berlaku bagi wanita yang tidak berpuasa karena haid atau uzur lainnya.

ADVERTISEMENT

Waktu untuk mengqadha puasa Ramadan adalah sepanjang tahun hingga datang bulan Syaban. Bulan Syaban menjadi batas waktu terakhir sebelum memasuki Ramadan berikutnya. Karena itu, utang puasa sebaiknya segera dilunasi agar tidak tertunda.

Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits berikut:

عَنْ أَبِي سَلَمَةَ قَالَ سَمِعْتُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا تَقُولُ كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصُّؤْمِمُ مِنْ رَمَضَانَ فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِي إِلَّا فِي شَعْبَانَ قَالَ يَحْيَى الشَّغَلُ مِنَ النَّبِيِّ أَوْ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Abu Salamah berkata, aku mendengar Aisyah radhiyallahu 'anha berkata:

"Aku berutang puasa Ramadan dan aku tidak bisa mengqadha-nya kecuali pada bulan Syaban."

Yahya berkata: "Karena beliau sibuk mengurusi Nabi atau senantiasa menyertai kesibukan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam." (HR. Bukhari)

2. Memperbanyak Puasa Sunnah di Bulan Syaban

Bulan Syaban merupakan waktu yang dianjurkan untuk memperbanyak puasa sunnah. Pada bulan ini, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dikenal sangat sering berpuasa. Bahkan dalam beberapa hadits shahih disebutkan bahwa beliau hampir berpuasa penuh sepanjang bulan Syaban.

Puasa sunnah yang dilakukan Rasulullah pada bulan Syaban menjadi bentuk persiapan diri dalam menyambut datangnya bulan Ramadan. Dengan berpuasa lebih awal, tubuh dan jiwa dilatih agar lebih siap menjalankan ibadah puasa Ramadan dengan maksimal.

Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يَصُومُ حَتَّى نَقُولُ لَا يُفْطِرُ ، وَيُفْطِرُ حَتَّى تقولُ لَا يَصُومُ . فَمَا رَأَيْتُ رَسُول الله - صلى الله عليه وسلم - اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berbuka sampai kami katakan bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Syaban." (HR. Bukhari dan Muslim)

Aisyah radhiyallahu 'anha juga mengatakan,

لمْ يَكُن النبي - صلى الله عليه وسلم - يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak biasa berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Syaban. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Syaban seluruhnya." (HR. Bukhari)

Dari Ummu Salamah, beliau mengatakan,

أَنَّهُ لَمْ يَكُن يَصُومُ مِنَ السَّنَةِ شَهْرًا تامًا إِلَّا شَعْبَانَ يَصِلُّهُ بِرَمَضَانَ

"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam setahun tidak berpuasa sebulan penuh selain pada bulan Syaban, lalu dilanjutkan dengan berpuasa di bulan Ramadan." (HR. Abu Daud dan An Nasa'i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Terdapat ketentuan penting dalam berpuasa di bulan Syaban. Umat Islam dilarang berpuasa satu atau dua hari menjelang masuknya Ramadan. Larangan ini bertujuan agar puasa sunnah Syaban tidak bercampur dengan puasa wajib Ramadan, sehingga ibadah puasa dijalankan sesuai dengan waktunya masing-masing.

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,

لا تَقَدِّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمٍ يَوْمٍ وَلَا يَوْمَيْنِ إِلَّا رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ

"Janganlah kalian berpuasa satu atau dua hari sebelum Ramadan kecuali seseorang yang punya kebiasaan puasa, maka bolehlah ia berpuasa." (HR. Muslim dan Bukhari).

3. Memperbanyak dan Membiasakan Membaca Al-Qur'an

Membaca Al-Qur'an perlu mulai dibiasakan sebelum datangnya bulan Ramadan. Hal ini bertujuan sebagai latihan kesungguhan agar ketika Ramadan tiba, kita sudah terbiasa mengisi waktu dengan tilawah Al-Qur'an.

Tujuannya sejalan dengan anjuran memperbanyak puasa sunnah di bulan Syaban, yakni agar ibadah dilakukan dengan kesiapan dan konsistensi.

4. Membekali Diri dengan Ilmu tentang Puasa Ramadan

Salah satu persiapan penting menjelang Ramadan adalah mempelajari ilmu yang berkaitan dengan puasa. Ilmu tersebut mencakup dua hal utama, yaitu pemahaman tentang hukum, tata cara, serta ketentuan syariat puasa Ramadan, dan pengetahuan mengenai keutamaan-keutamaan Ramadan beserta cara meraihnya sesuai tuntunan sunnah. Kedua aspek ini penting agar ibadah puasa dapat dijalankan dengan benar dan maksimal.

5. Berdoa Agar Dipertemukan dengan Ramadan dan Menyiapkan Hati

Sebagian ulama salaf mencontohkan kebiasaan berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadan. Diriwayatkan bahwa mereka berdoa selama enam bulan agar dapat berjumpa dengan Ramadan, lalu berdoa selama lima bulan berikutnya agar amal ibadahnya diterima.

Doa ini dilakukan secara umum dan personal, tanpa lafaz khusus, karena tidak ada doa tertentu yang diajarkan secara khusus oleh Rasulullah SAW maupun para sahabat.

6. Melakukan Rukyatul Hilal bagi yang Mampu

Bagi yang memiliki kemampuan dan pengetahuan, dianjurkan untuk melakukan rukyatul hilal. Hal ini karena sistem penanggalan Islam berbeda dengan penanggalan masehi. Kalender Islam didasarkan pada peredaran bulan (lunar system), sedangkan penanggalan umum mengacu pada peredaran matahari (solar system).

Maka dari itu Rasulullah SAW bersabda,

إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوهُ، وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ

"Apabila kamu sekalian melihat hilal awal bulan Ramadan, maka berpuasalah, dan apabila kamu sekalian melihat hilal awal bulan Syawal maka berhari rayalah, jika kamu tidak bisa melihatnya (karena mendung) maka sempurnakanlah (hitungan bulan)." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).




(inf/inf)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads