Israel Kembali Serang Gaza setelah Gabung Dewan Perdamaian, 31 Warga Tewas

Israel Kembali Serang Gaza setelah Gabung Dewan Perdamaian, 31 Warga Tewas

Devi Setya - detikHikmah
Minggu, 01 Feb 2026 14:00 WIB
Israel Kembali Serang Gaza setelah Gabung Dewan Perdamaian, 31 Warga Tewas
Kerusakan di Gaza akibat serangan Israel (AFP/EYAD BABA)
Jakarta -

Israel masih meluncurkan serangan terhadap Gaza usai bergabung dengan Dewan Perdamaian (Board of Peace) yang dibentuk Amerika Serikat. Pada Sabtu (31/1) Israel melakukan pemboman di kawasan pengungsian Gaza.

Sedikitnya 31 warga Palestina, termasuk enam anak-anak, tewas akibat serangan udara dan bombardir pasukan Israel di berbagai wilayah Jalur Gaza. Serangan ini terjadi sehari sebelum Israel dijadwalkan membuka kembali penyeberangan perbatasan Rafah yang menghubungkan Gaza dengan Mesir.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Serangan ini dilakukan bahkan ketika Israel telah bergabung dengan Board of Peace.

Dilansir dari Al Jazeera, Minggu (1/2), sumber data laporan medis menerangkan serangan Israel berlangsung hampir tanpa henti dan menyasar kawasan permukiman serta lokasi pengungsian warga sipil.

ADVERTISEMENT

Salah satu serangan terjadi pada Sabtu waktu setempat, ketika jet tempur Israel menghantam sebuah tenda yang menampung pengungsi di wilayah al-Mawasi, barat laut Khan Younis. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya tujuh warga Palestina, termasuk tiga anak-anak.

Jenazah para korban kemudian dibawa ke Kompleks Medis Nasser di Khan Younis untuk penanganan lebih lanjut.

Di Kota Gaza, serangan udara lainnya menghantam sebuah gedung apartemen di lingkungan Remal, wilayah barat kota. Layanan darurat melaporkan sedikitnya lima warga Palestina tewas, termasuk seorang ibu dan tiga anaknya.

"Kami dapat merasakan gelombang ledakan, diikuti oleh awan debu gelap dan tebal yang memenuhi area tersebut, menyebabkan setidaknya lima orang tewas di dalam apartemen, termasuk seorang ibu dan anak-anaknya," kata jurnalis Al Jazeera, Hani Mahmoud.

Selain korban jiwa, delapan warga Palestina dilaporkan terluka akibat bom yang diluncurkan Israel terhadap sebuah gedung apartemen di lingkungan Daraj, Kota Gaza.

Serangan Terjadi di Area Gencatan Senjata

Mahmoud menyebutkan bahwa serangan tersebut terjadi di wilayah yang seharusnya termasuk dalam area gencatan senjata tahap pertama yang mulai berlaku pada Oktober lalu.

"Semua ini terjadi di dalam garis kuning," katanya, merujuk pada garis demarkasi tempat pasukan Israel seharusnya telah mundur. Ia juga melaporkan bahwa sebuah bangunan di Khan Younis dihantam jet tempur Israel dan hancur total, meski sebelumnya warga telah menerima peringatan dari militer Israel.

Kecaman PBB dan Negara Mediator

Kepala Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Philippe Lazzarini, mengecam keras serangan terbaru Israel. Ia menilai gencatan senjata yang diberlakukan saat ini tidak berjalan sebagaimana mestinya.

"Gencatan senjata berarti senjata-senjata berhenti berbunyi dan memberi jalan bagi upaya untuk mengakhiri perang," tulis Lazzarini melalui platform X.

"Rakyat Gaza berhak mendapatkan gencatan senjata yang tulus - gencatan senjata yang sudah lama ditunggu-tunggu."

Mesir dan Qatar, yang berperan sebagai mediator utama gencatan senjata, turut mengutuk serangan tersebut. Mesir menyerukan agar semua pihak menunjukkan "pengekangan maksimal" menjelang pembukaan kembali penyeberangan Rafah. Sementara Qatar menyebut kekerasan terbaru ini sebagai "eskalasi berbahaya" yang berpotensi merusak upaya regional dan internasional untuk memperkuat gencatan senjata.

Militer Israel menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan respons atas insiden pada Jumat, ketika delapan pejuang Palestina disebut keluar dari sebuah terowongan di Rafah, yang menurut Israel melanggar kesepakatan gencatan senjata.

Israel mengklaim telah menyerang empat komandan dan sejumlah anggota Hamas serta Jihad Islam di berbagai lokasi di Jalur Gaza.

Namun, klaim tersebut dibantah oleh anggota biro politik Hamas, Suhail al-Hindi.

"Apa yang terjadi hari ini adalah kejahatan sepenuhnya yang dilakukan oleh musuh kriminal yang tidak mematuhi perjanjian atau menghormati komitmen apa pun," ujarnya kepada kantor berita AFP.

Kantor Media Pemerintah Gaza menyatakan bahwa sejak gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat mulai berlaku, setidaknya 524 warga Palestina telah tewas akibat serangan pasukan Israel.

Rafah Dibuka Terbatas, Bantuan Masih Terhambat

Di tengah meningkatnya kekerasan, Israel dijadwalkan membuka kembali penyeberangan Rafah pada Minggu. Pembukaan ini merupakan bagian dari fase kedua perjanjian gencatan senjata Israel-Hamas, setelah penyeberangan tersebut ditutup sejak Mei 2024.

Namun, Israel menyatakan hanya akan mengizinkan "pergerakan terbatas orang" yang telah mendapat izin keamanan. Bantuan kemanusiaan dan pasokan logistik tidak akan diizinkan masuk melalui Rafah.

Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, Munir al-Bursh, memperingatkan bahwa kondisi kesehatan di wilayah tersebut semakin memburuk akibat menipisnya persediaan medis.

Ia mendesak agar pasokan medis segera diizinkan masuk dan evakuasi warga Palestina yang terluka dapat difasilitasi untuk mendapatkan perawatan di luar Gaza.

Penyeberangan Rafah akan diawasi oleh Mesir, Otoritas Palestina, serta misi Uni Eropa, meski Israel tetap memegang kendali penuh atas siapa yang boleh masuk dan keluar.

"Hanya mereka yang melarikan diri selama dua tahun terakhir yang diizinkan untuk kembali. Mereka yang lahir di luar Jalur Gaza tidak akan diizinkan untuk kembali," jelas Mahmoud, jurnalis Al Jazeera.

Hamas pun mendesak Israel agar membuka Rafah tanpa pembatasan dan mematuhi seluruh isi perjanjian gencatan senjata.

Sejak serangan Israel di Gaza dimulai pada 7 Oktober 2023, lebih dari 71.600 warga Palestina dilaporkan tewas. Mayoritas korban adalah warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak.




(dvs/inf)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads