Apa Itu Nisfu Syaban dan Mengapa Dianggap Istimewa?

Apa Itu Nisfu Syaban dan Mengapa Dianggap Istimewa?

Salsa Dila Fitria Oktavianti - detikHikmah
Rabu, 28 Jan 2026 18:30 WIB
Apa Itu Nisfu Syaban dan Mengapa Dianggap Istimewa?
Ilustrasi Nifsu Syaban. Foto: Getty Images/Abdulkadir ARSLAN
Jakarta -

Nisfu Syaban merupakan salah satu momen yang kerap mendapat perhatian khusus dalam tradisi keislaman. Malam ini menandai pertengahan bulan Syaban dalam kalender Hijriah dan sering dikaitkan dengan berbagai bentuk peningkatan ibadah. Keberadaannya di antara bulan-bulan penting menjelang Ramadhan menjadikan Nisfu Syaban dipandang sebagai waktu yang bermakna bagi umat Islam.

Dalam praktik keagamaan, Nisfu Syaban kerap dimaknai sebagai momentum untuk memperbanyak doa, memohon ampunan, serta melakukan refleksi diri. Karena itu, malam ini sering dimanfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus mempersiapkan hati dan amal sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.

Apa Itu Nisfu Syaban?

Nisfu Syaban adalah malam pertengahan bulan Syaban, tepatnya malam ke-15 dari bulan kedelapan dalam kalender Hijriah. Malam ini dipandang sebagai salah satu waktu yang memiliki keutamaan dalam tradisi Islam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Banyak umat Islam meyakini bahwa pada malam Nisfu Syaban Allah SWT melimpahkan rahmat, membuka pintu ampunan, dan mengabulkan doa-doa hamba-Nya. Karena itu, malam ini kerap dimanfaatkan untuk meningkatkan ibadah menjelang datangnya bulan Ramadhan.

Nisfu Syaban Jatuh pada Tanggal Berapa?

Nisfu Syaban jatuh pada malam tanggal 15 Syaban dan dimulai sejak terbenam matahari pada tanggal 14 Syaban.

ADVERTISEMENT

Kalender Hijriah Indonesia tahun 2026 menetapkan bahwa 1 Syaban 1447 H bertepatan dengan 20 Januari 2026. Berdasarkan penetapan tersebut, peringatan Nisfu Syaban yang jatuh pada 15 Syaban berlangsung pada 3 Februari 2026. Dengan demikian, Malam Nisfu Syaban dimulai sejak waktu Magrib pada 2 Februari 2026.

Apakah Malam Nisfu Syaban Punya Keutamaan Khusus?

Beberapa hadits menyebutkan bahwa malam Nisfu Syaban memiliki keutamaan khusus. Pada malam tersebut, Allah SWT mengampuni seluruh makhluk-Nya, kecuali orang yang menyekutukan Allah dan mereka yang saling bermusuhan. Karena keistimewaannya, kaum muslimin dianjurkan untuk memperbanyak ibadah pada malam Nisfu Syaban. Amalan yang dianjurkan antara lain salat sunnah dan memperbanyak doa kepada Allah SWT.

Amalan Apa yang Dianjurkan pada Malam Nisfu Syaban?

Pada malam Nisfu Syaban, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amalan ibadah sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Beberapa amalan yang dianjurkan antara lain melaksanakan salat qiyamul lail, memperbanyak membaca Al-Qur'an, serta memanjatkan doa. Amalan-amalan tersebut dilakukan sebagai wujud harapan akan ampunan dan rahmat dari Allah SWT.

Apakah Ada Doa Khusus Nisfu Syaban?

Terdapat doa khusus yang dibaca pada malam Nisfu Syaban. Doa ini umumnya dibaca setelah membaca Surat Yasin.

اللَّهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَ لا يَمُنُّ عَلَيْكَ يَا ذَا الْجَلالِ وَ الإِكْرَامِ يَا ذَا الطَّوْلِ وَ الإِنْعَامِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ظَهْرَ اللأَجِيْنَ وَجَارَ الْمُسْتَجِيْرِينَ وَ أَمَانَ الْخَائِفِينَ. اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِي عِنْدَكَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ شَقِيًّا أَوْ مَحْرُوْمًا أَوْ مَطْرُودًا أَوْ مُقْتَرًا عَلَيَّ فِي الرِّزْقِ فَامْحُ اللَّهُمَّ بِفَضْلِكَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ شَقَاوَتِي وَ حِرْمَانِي وَ طَرْدِي وَ اقْتَارَ رِزْقِي وَ أَثْبِتْنِي عِنْدَكَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ سَعِيدًا مَرْزُوْقًا مُوَفَقًا لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَ قَوْلُكَ الحَقُّ فِي كِتَابِكَ الْمُنْزِلِ عَلَى نَبِيِّكَ الْمُرْسَلِ يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَ يُثْبِتُ وَ عِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ الهِي بِالتَّجَلِّي الأَعْظَمِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَهْرِ شَعْبَانَ الْمُكَرَّمِ الَّتِي يُفْرَقُ فِيهَا كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ وَ يُبْرُمُ اصْرِفْ عَنِّي مِنَ الْبَلَاءِ مَا أَعْلَمُ وَ مَا لَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلامُ الْغُيُوبِبِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ سَلَّمَ . آمِيْن

Latin: Allāhumma yā żal-manni wa lā yamunnu 'alaik, yā żal-jalāli wal-ikrām, yā żaṭ-ṭauli wal-in'ām, lā ilāha illā anta, ẓahral-lāji'īn, wa jāral-mustajīrīn, wa amānal-khā'ifīn. Allāhumma in kunta katabtani 'indaka fī ummil-kitābi shaqiyyan aw maḥrūman aw maṭrūdan aw muqtaran 'alayya fir-rizqi, famḥu Allāhumma bifaḍlika fī ummil-kitābi shaqāwatī wa ḥirmānī wa ṭardī wa iqtāra rizqī, wa athbitnī 'indaka fī ummil-kitābi sa'īdan marzūqan muwaffaqan lil-khairāt. Fa innaka qulta wa qawluka al-ḥaqq fī kitābikal-munzali 'alā nabiyyikal-mursal: yamḥullāhu mā yashā'u wa yuthbitu wa 'indahū ummul-kitāb. Ilāhī bit-tajallīl-a'ẓam fī laylatin-niṣfi min shahri Sha'bānal-mukarram allatī yufraqu fīhā kullu amrin ḥakīm, wa yubram. Iṣrif 'annī minal-balā'i mā a'lamu wa mā lā a'lam, wa anta 'allāmul-ghuyūb, biraḥmatika yā arḥamar-rāḥimīn. Wa ṣallallāhu 'alā sayyidinā Muḥammad wa 'alā ālihī wa ṣaḥbihī wa sallam. Āmīn.

Artinya: "Ya Allah, wahai Pemilik segala karunia, dan tidak ada seorang pun yang dapat memberi karunia kepada-Mu. Wahai Pemilik keagungan dan kemuliaan. Wahai Pemilik kelapangan dan pemberi nikmat. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Engkaulah tempat bersandar orang-orang yang berlindung, pelindung orang-orang yang meminta perlindungan, dan pemberi rasa aman bagi orang-orang yang ketakutan.

Ya Allah, jika Engkau telah menuliskan aku di sisi-Mu dalam Ummul Kitab sebagai orang yang celaka, terhalang (dari kebaikan), terusir, atau disempitkan rezekinya, maka hapuskanlah-wahai Allah-dengan karunia-Mu dari Ummul Kitab segala kecelakaanku, keterhalanganku, keterusiranku, dan kesempitan rezekiku. Tetapkanlah aku di sisi-Mu dalam Ummul Kitab sebagai orang yang bahagia, diberi rezeki, dan diberi taufik untuk melakukan berbagai kebaikan.

Sesungguhnya Engkau telah berfirman-dan firman-Mu adalah benar-di dalam kitab-Mu yang diturunkan kepada Nabi-Mu yang Engkau utus: 'Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, dan di sisi-Nyalah Ummul Kitab.'

Wahai Tuhanku, dengan tajalli-Mu yang Mahaagung pada malam pertengahan bulan Syaban yang mulia, malam di mana setiap urusan yang penuh hikmah ditetapkan dan diputuskan, palingkanlah dariku segala bala bencana, baik yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui. Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib. Dengan rahmat-Mu, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih di antara para pengasih.
Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya. Amin."

Apakah Salat Nisfu Syaban Itu Ada?

Secara khusus, tidak terdapat dalil yang kuat dan sahih yang menjelaskan adanya salat sunnah tertentu dengan tata cara, jumlah rakaat, dan niat khusus untuk malam Nisfu Syaban.

Beberapa hadits yang sering dijadikan rujukan terkait salat pada malam Nisfu Syaban oleh para ulama dinilai lemah (dhaif), sehingga tidak dapat dijadikan dasar penetapan ibadah sunnah yang bersifat khusus.

Meski demikian, praktik salat pada malam Nisfu Syaban telah berkembang dan menjadi tradisi keagamaan di sebagian masyarakat Muslim, termasuk di Indonesia. Sebagian orang yang mengamalkannya merujuk pada pendapat Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin,

"Adapun salat sunah Syaban adalah malam kelima belas bulan Syaban. seratus rakaat. Dilaksanakan sebanyak Setiap dua rakaat satu salam. Setiap rakaat setelah Al-Fatihah membaca Qulhuwallahu ahad sebanyak 11 kali. Jika mau, seseorang dapat salat sebanyak 10 rakaat. Setiap rakaat setelah Al-Fatihah Qulhuwallahu ahad 100 kali. Ini juga diriwayatkan dalam sejumlah salat yang dilakukan orang-orang salaf dan mereka sebut sebagai salat khair. Mereka berkumpul untuk menunaikannya. Mungkin mereka menunaikannya secara berjamaah."

Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa salat pada malam Nisfu Syaban tetap boleh dilakukan, selama diniatkan sebagai salat malam (qiyamullail) sebagaimana salat sunnah pada malam-malam lainnya, bukan dengan niat salat khusus Nisfu Syaban. Secara umum, bulan Syaban memang dianjurkan untuk memperbanyak ibadah sebagai persiapan menyambut Ramadan, seperti puasa sunnah, salat malam, dzikir, dan doa.

Apakah Membaca Yasin Tiga Kali Saat Nisfu Syaban Wajib?

Dalam buku Keutamaan dan Ibadah Malam Nisfu Syaban karya Muhammad Juriyanto dijelaskan bahwa dalam rangka menghidupkan malam Nisfu Syaban, umat Islam khususnya di wilayah Nusantara memiliki tradisi berkumpul di masjid atau surau untuk berzikir dan membaca Surah Yasin sebanyak tiga kali secara berjamaah.

Praktik ini dilakukan sebagai bagian dari amalan malam tersebut, bukan sebagai kewajiban ibadah.

Setiap bacaan Surah Yasin biasanya disertai dengan niat dan doa yang berbeda. Pada bacaan pertama, jamaah memohon kepada Allah agar diberi umur panjang serta taufik untuk senantiasa berada dalam ketaatan.

Bacaan kedua ditujukan untuk memohon perlindungan dari berbagai mara bahaya dan penyakit, sekaligus berharap dilapangkan rezeki. Sementara pada bacaan ketiga, doa dipanjatkan agar dianugerahi kekayaan hati dan mendapatkan akhir kehidupan yang baik atau husnul khatimah.

Apakah Puasa Nisfu Syaban Dianjurkan?

Tidak terdapat ketentuan khusus yang menetapkan adanya puasa tertentu pada hari pertengahan bulan Syaban. Namun, yang dianjurkan dalam syariat adalah memperbanyak puasa sunnah sepanjang bulan Syaban secara umum, sebagaimana kebiasaan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.

Anjuran ini didasarkan pada sejumlah hadits sahih yang diriwayatkan oleh Aisyah RA.

كَانَ رَسُول الله - صلى الله عليه وسلم - يَصُومُ حَتَّى نقول لا يُفْطِرُ ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نقول لا يَصُومُ . فَمَا رَأَيْتُ رَسُول الله - صلى الله عليه وسلم - اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلا رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

Artinya: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berbuka sampai kami katakan bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah SAW berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Syaban." (HR Bukhari dan Muslim)

Apakah Orang yang Bermusuhan Tidak Mendapat Ampunan di Malam Nisfu Syaban?

Allah SWT melimpahkan ampunan kepada hamba-Nya yang memohon ampunan pada malam Nisfu Syaban. Namun, terdapat dua golongan yang tidak mendapatkan ampunan pada malam tersebut, yaitu orang yang melakukan kesyirikan dan orang yang saling bermusuhan.

Hal ini disebutkan dalam salah satu riwayat yang dinukil oleh Ibnu Majah.

عَنْ مُعَادِ بْنِ جَبَلٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : " يَطَّلِعُ اللهُ عَزَّ وَجَلٌ إِلَى خَلْقِهِ فِي اللَّيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ ، فَيَغْفِرُ الجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكْ أَوْ مُشَاحِنٍ

Artinya: "Dari Mu'adz bin Jabal, dari Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Allah memperhatikan kepada semua makhluk-Nya pada malam Nishfu Syaban. Makai Dia memberi ampunan kepada semua makhluk-Nya, kecuali kepada orang yang musyrik dan orang yang bermusuhan."




(inf/inf)
Syaban Istimewa

Syaban Istimewa

32 konten
Bulan Syaban adalah bulan kedelapan dalam kalender Hijriah yang menjadi penghubung antara Rajab dan Ramadan. Syaban dikenal sebagai bulan persiapan spiritual, di mana umat Islam dianjurkan memperbanyak amal ibadah, seperti puasa sunah hingga sedekah
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads