Al Aqsa Terancam Dikuasai Israel, Yordania Rapat Darurat dengan Negara Muslim

Al Aqsa Terancam Dikuasai Israel, Yordania Rapat Darurat dengan Negara Muslim

Anisa Rizki Febriani - detikHikmah
Rabu, 05 Agu 2026 14:45 WIB
Pemukim Israel melakukan ritual selama penyerangan ke kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem yang diduduki, Kamis (23/7/2025)
Pemukim Israel melakukan ritual selama penyerangan ke kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem yang diduduki, Kamis (23/7/2025). Foto: Akun X @QudsNen, media independen Palestina Quds News Network.
Jakarta -

Pemerintah Yordania mengumpulkan para menteri luar negeri dari sejumlah negara Arab serta muslim untuk pertemuan darurat. Hal ini bertujuan membahas eskalasi encaman terhadap stasu Masjid Al Aqsa di Yerusalem Timur yang terancam dikuasai Israel.

Dilansir dari Arab News, tindakan Israel itu berpotensi memicu konflik keagamaan. Pertemuan darurat ini berlangsung pada Rabu (5/8/2026), menyusul peningkatan pola serangan yang didukung pemerintah oleh ekstremis agama Yahudi di kompleks sekitar masjid Al Aqsa dan Dome of the Rock atau Kubah Batu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tindakan tersebut melanggar perjanjian status quo yang diawasi oleh monarki Hasyemiyah Yordania, yang menyatakan hanya umat muslim yang diperbolehkan beribadah di situs tersebut.

Sebagai informasi, pada 23 Juli lalu lebih dari 2.000 warga Israel dari kelompok sayap kanan religious yang sebagian besar adalah pemukim yang dipimpin Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir menerobbos masuk kawasan yang dikenal oleh umat Yahudi sebbagai Temple Mount (Bukit Bait Suci).

ADVERTISEMENT

Mereka melakukan doa dan ritual di seluruh area kompleks masjid Al Aqsa dalam tindakan yang disebut para pejabat Yordania sebagai pelanggaran terburuk dalam sejarah modern.

Kekhawatiran juga muncul dengan upaya perekrutan warga Yahudi religius baru-baru ini untuk unit kepolisian khusus Temple Mount, serta bersiap menghadapi tantangan yang lebih langsung terhadap peran tradisional Yordania sebagai penjaga situs tersebut dari para pemimpin ekstremis Israel selama hari-hari besar Yahudi pada September.

Tahun ini, hari-hari besar itu bertepatan dengan masa kampanye pemilu yang sengit ketika koalisi sayap kanan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu akan berjuang mempertahankan kekuasaan.

"Ini adalah ancaman yang terus-menerus, ancaman berbahaya yang coba kami tangkal dengan segala cara yang kami miliki," ungkap Menteri Luar Negeri Yordania, Ayman Safadi dikutip dari laporan The Guardian.

"Kami memperingatkan bahwa tindakan mengusik status quo dapat memicu konflik keagamaan yang dampaknya akan melampaui Palestina dan Yordania hingga ke seluruh dunia muslim," sambungnya.

Menurut Safadi yang akan memimpin pertemuan darurat pada Rabu yang mempertemukan para mitranya dari negara-negara Liga Arab serta Turki, Indonesia, Malaysia dan Pakistan menyatakan hal ini jadi sesuatu yang harus disadari oleh seluruh komunitas internasional. Yerusalem adalah kawasan yang sangat rawan memicu ledakan konflik.

"Kami berupaya menjelaskan bahaya yang ada. Kami melakukan protes secara sah. Kami berusaha membangun kesadaran mengenai bahaya nyata yang timbul dari berlanjutnya langkah-langkah Israel tersebut," pungkasnya.



(aeb/lus)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads