Dalam Islam, terdapat salah satu waktu istimewa yang sering kali dilupakan oleh umat Muslim. Salah satunya adalah waktu antara Maghrib dan Isya. Pada waktu tersebut, umat Islam dianjurkan untuk melakukan amal kebaikan.
Salah satu dalil yang dijadikan landasan terkait keistimewaan waktu antara Maghrib dan Isya adalah Al-Qur'an surah As-Sajdah ayat 16:
تَتَجَافٰى جُنُوْبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَّطَمَعًاۖ وَّمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tatajāfā junūbuhum 'anil-maḍāji'i yad'ūna rabbahum khaufaw wa ṭama'ā(n), wa mimmā razaqnāhum yunfiqūn(a).
Artinya: "Lambung (tubuh) mereka jauh dari tempat tidur (untuk sholat malam) seraya berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut (akan siksa-Nya) dan penuh harap (akan rahmat-Nya) dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka."
Dalil Keistimewaan Waktu Antara Maghrib dan Isya
Dikutip dari laman Ma'had Al-Jami'ah Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, Anas bin Malik ketika menafsirkan ayat 16 surah As Sajdah di atas, ia berkata:
كَانُوا يَتَيَقَّظُونَ وفي رواية: يَتَنَفَّلُونَ مَا بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ يُصَلُّونَ
Artinya: "Mereka memperbanyak sholat sunnah antara maghrib dan isya." (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani, terjemahan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc.)
Dalam riwayat lain, Imam Ahmad dalam musnadnya dari Hudzaifah RA berkata:
جئْتُ النبي صلى الله عليه وسلم فَصَلَّيْتُ مَعَهُ الْمَغْرِبَ ، فَلَمَّا قَضَى الصَّلَاةَ قَامَ يُصَلِّي ، فَلَمْ يَزَلْ يُصَلِّي حَتَّى صَلَّى الْعِشَاءَ
Artinya: "Aku mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan sholat Maghrib bersamanya. Setelah selesai sholat beliau berdiri sholat dan terus sholat hingga masuk Isya." (Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Irwaul Gholil, diterjemahkan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc)
Sholat Sunnah Antara Waktu Maghrib dan Isya
Dikutip dalam buku 33 Macam Jenis Shalat Sunnah oleh Muhammad Ajib, Lc., MA, terdapat sholat sunnah yang dikerjakan antara waktu Maghrib dan Isya atau disebut dengan sholat sunnah awwabin. Terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama terkait dengan sholat sunnah awwabin.
Imam Asy-Syirbini seorang ulama dalam mazhab Syafi'i mengatakan dalam kitabnya Mughni al-Muhtaj, bahwa sholat awwabin adalah sholat enam rakaat:
ومنها صلاة الأوابين، وتسمى صلاة الغفلة لغفلة الناس عنها بسبب عشاء أو نوم أو نحو ذلك، وهي ست ركعات بين المغرب والعشاء لحديث الترمذي أنه - صلى الله عليه وسلم - قال: «من صلى ست ركعات بين المغرب والعشاء كتب له عبادة اثنتي عشرة سنة» وقال الماوردي: «كان النبي - صلى الله عليه وسلم - يصليها ويقول هذه صلاة الأوابين». مغني المحتاج إلى معرفة معاني ألفاظ المنهاج
Artinya: "Shalat awwabin disebut juga shalat ghaflah (lalai) sebab banyak orang-orang melalaikannya karena sibuk makan malam, tidur dan lain-lain. Shalat awwabin itu adalah shalat 6 rakaat antara maghrib dan isya'. Sebab ada hadits riwayat Imam at-Tirmidzi bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: siapa yang shalat 6 rakaat antara maghrib dan isya' maka dicatat baginya ibadah selama 12 tahun. Imam al-Mawardi mengatakan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam melakukannya dan mengatakan ini adalah shalat awwabin."
Sementara Imam Ar-Ramli seorang ulama besar mazhab Syafi'i mengatakan dalam kitab Nihayat al-Muhtaj, bahwa sholat awwabin terdiri dari 2 rakaat hingga 20 rakaat:
وصلاة الأوابين وهي عشرون ركعة بين المغرب والعشاء، ورويت ستا وأربعا وركعتين فهما أقلها نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج
Artinya: "Shalat awwabin adalah shalat 20 rakaat antara maghrib dan isya'. Ada juga riwayat menyebutkan 6 rakaat, 4 rakaat dan 2 rakaat. Ini jumlah minimalnya."
Wallahu A'lam.
(inf/inf)












































Komentar Terbanyak
Apakah Haji Bisa Tidak Mabrur? Ini Kesalahan yang Sering Dilakukan Jemaah
Pendapat Hukum Austria Sebut Larangan Jilbab Tak Sesuai dengan Konstitusi
Cara Titip Doa ke Orang yang Naik Haji, Ini Adabnya