Wakil Menteri Haji dan Umrah sekaligus Naib Amirul Hajj RI Dahnil Anzar Simanjuntak meminta seluruh Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) tetap meningkatkan kewaspadaan dalam melayani jemaah meski rangkaian puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) telah berakhir.
Menurut Dahnil, berakhirnya fase Armuzna tidak berarti risiko yang dihadapi jemaah ikut berakhir. Justru pada masa setelah Armuzna, kondisi fisik jemaah, terutama lansia dan mereka yang memiliki penyakit penyerta, perlu mendapat perhatian lebih karena mengalami kelelahan setelah menjalani rangkaian ibadah yang padat.
"Mohon tidak kendor dalam mengawal dan menjaga jemaah haji kita. Puncak Armuzna memang sudah selesai," tegas Dahnil dalam arahan yang disampaikan kepada para petugas haji di Kantor Daerah Kerja Makkah, Minggu (31/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan, berdasarkan pengalaman penyelenggaraan haji pada tahun-tahun sebelumnya, angka kematian jemaah cenderung meningkat pada periode setelah Armuzna. Karena itu, tim kesehatan dan petugas di sektor pemondokan diminta terus melakukan pemantauan secara intensif.
"Faktor kelelahan ekstrem setelah berjalan kaki and mabit di Mina menjadi pemicu utama yang harus diantisipasi secara masif oleh korps kesehatan di tiap maktab hotel," tegasnya.
Dahnil meminta petugas kesehatan aktif memantau kondisi jemaah di hotel-hotel tempat mereka menginap. Pengawasan kesehatan secara berkala dinilai penting untuk mendeteksi lebih dini apabila ada jemaah yang mengalami penurunan kondisi fisik.
Selain sektor kesehatan, perhatian juga diarahkan pada layanan konsumsi. Dahnil menegaskan distribusi makanan harus berjalan tepat waktu dan kualitasnya terus diawasi agar kebutuhan gizi jemaah tetap terpenuhi selama masa pemulihan pasca-Armuzna.
"Konsumsi harus dipastikan terdistribusi tepat waktu. Awasi dapur, para petugas awasi kualitas konsumsi," perintah Dahnil.
Menjelang fase pemulangan jemaah ke Indonesia, ia juga meminta seluruh petugas bergerak cepat dalam menangani berbagai keluhan yang muncul di lapangan, mulai dari persoalan transportasi hingga layanan pemondokan.
"Setiap kendala teknis penempatan hotel maupun keterlambatan bus yang dilaporkan oleh jemaah wajib dieksekusi secara instan lewat skema fast response (respon cepat) oleh petugas terdekat," ungkap Dahnil.
Lebih lanjut, Dahnil mengingatkan pentingnya sikap ramah, empati, dan terbuka dalam memberikan pelayanan kepada jemaah. Menurutnya, petugas tidak boleh ragu mengakui dan memperbaiki kesalahan apabila ditemukan kekurangan dalam pelayanan.
"Jika ditemukan adanya malapraktik pelayanan atau kesalahan prosedur di internal organisasi petugas, lini pertahanan perhajian diinstruksikan untuk berani berjiwa ksatria," tegasnya.
Ia menambahkan, apabila terdapat kekhilafan dari pihak penyelenggara, petugas harus segera menyampaikan permohonan maaf kepada jemaah sebagai bentuk tanggung jawab dan upaya menjaga kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggaraan ibadah haji.
Arahan tersebut disampaikan untuk memastikan pelayanan kepada jemaah tetap optimal hingga seluruh rangkaian operasional haji, termasuk proses pemulangan ke Tanah Air, selesai dilaksanakan.
(rns/kri)












































Komentar Terbanyak
Soal Presiden Beli Sapi Kurban Pakai APBN, MUI: Disunnahkan bagi Pemimpin
Prabowo Akan Salat Idul Adha di Prancis, Kurban 1.098 Sapi Tetap Jalan
Guru Besar UIN Jakarta: Sapi Kurban Presiden Dipahami sebagai Program Sosial Negara