Ahmad Musyaddad, Suara Indonesia di Balik Khutbah Masjidil Haram

Ahmad Musyaddad, Suara Indonesia di Balik Khutbah Masjidil Haram

Rachmatunnisa - detikHikmah
Jumat, 24 Jul 2026 08:45 WIB
Ahmad Musyaddad, penerjemah resmi khutbah Masjidil Haram asal Indonesia.
Ahmad Musyaddad, penerjemah resmi khutbah Masjidil Haram asal Indonesia. Foto: Rachmatunnisa/detikcom
Makkah -

Ketika khatib Masjidil Haram mulai mengucapkan kalimat pembuka khutbah, pada saat yang sama Ahmad Musyaddad juga mulai bersuara. Bukan dari mimbar di depan Ka'bah, melainkan dari sebuah studio di lantai tiga kompleks Masjidil Haram yang tak terlihat oleh jutaan jemaah.

Dari ruangan itu, pria asal Lombok, Nusa Tenggara Barat, tersebut menerjemahkan khutbah ke dalam bahasa Indonesia secara langsung. Suaranya kemudian disiarkan melalui berbagai kanal resmi sehingga pesan yang disampaikan para imam Masjidil Haram dapat dipahami oleh jutaan muslim Indonesia dan masyarakat berbahasa Indonesia di berbagai penjuru dunia.

Sejak 2015, Musyaddad mengemban amanah sebagai penerjemah resmi khutbah Masjidil Haram. Dalam beberapa tahun terakhir, ia juga dipercaya menerjemahkan khutbah wukuf Arafah yang disiarkan ke puluhan bahasa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, peran itu tidak diraihnya dalam semalam. Di balik suara yang setiap pekan mengudara dari Tanah Suci, ada perjalanan panjang yang dimulai dari bangku pesantren, belasan tahun menuntut ilmu, proses seleksi yang hanya sekali dibuka, hingga tanggung jawab besar menerjemahkan pesan dari salah satu mimbar paling mulia di dunia Islam.

Jalan Panjang Menjadi Penerjemah

Perjalanan Ahmad Musyaddad menuju Masjidil Haram dimulai jauh dari Kota Makkah. Ia menghabiskan masa SMP hingga SMA di Pondok Pesantren Nurul Hakim, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Selama enam tahun itulah ia mulai mengenal bahasa Arab sekaligus memperdalam ilmu-ilmu keislaman.

ADVERTISEMENT

Selepas dari pesantren, ia merantau ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA), kampus cabang Imam Muhammad bin Saud Islamic University yang berbasis di Riyadh, Arab Saudi. Di LIPIA, Musyaddad menempuh pendidikan selama tujuh tahun. Tiga tahun pertama ia mendalami bahasa Arab, kemudian melanjutkan empat tahun berikutnya di Fakultas Syariah.

"Saya menyelesaikan studi selama tujuh tahun. Tiga tahun mendalami bahasa Arab, kemudian empat tahun berikutnya di Fakultas Syariah LIPIA," ujarnya.

Selepas meraih gelar sarjana, Musyaddad melanjutkan studi magister di Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, kemudian meneruskan pendidikan doktor di kampus yang sama. Saat baru memasuki semester kedua program doktor, kesempatan yang kemudian mengubah jalan hidupnya datang.

Pada 2014, Otoritas Masjidil Haram dan Masjid Nabawi meluncurkan program penerjemahan langsung khutbah ke berbagai bahasa. Untuk menjaring para penerjemah, otoritas bekerja sama dengan LIPIA Jakarta. Musyaddad memutuskan mengikuti seleksi tersebut. Dari proses itu, hanya lima orang yang dinyatakan lolos.

"Alhamdulillah kami lulus lima orang. Kami diberangkatkan pada Maret 2015. Tiga orang ditempatkan di Masjidil Haram dan dua orang di Masjid Nabawi," kenangnya.

Sejak saat itu, ia resmi menjadi bagian dari layanan penerjemahan khutbah di dua masjid suci yang dikelola Kerajaan Arab Saudi. Ketika pertama kali diluncurkan, layanan tersebut baru tersedia dalam empat bahasa, yakni Melayu, Inggris, Prancis, dan Urdu.

Kini, cakupannya terus berkembang. Khutbah Jumat Masjidil Haram diterjemahkan ke 11 bahasa, sedangkan khusus khutbah wukuf Arafah tersedia dalam 50 bahasa dunia. Seluruh terjemahan itu disampaikan secara langsung seiring khatib menyampaikan khutbah dari mimbar sehingga dapat diikuti jemaah dari berbagai negara dalam bahasa masing-masing. Musyaddad menjadi salah satu dari dua penerjemah bahasa Indonesia yang hingga kini mengemban amanah tersebut.

Di Balik Mikrofon

Di balik suara Musyaddad yang didengar jutaan muslim setiap Jumat, ada proses panjang yang tak diketahui jemaah. Menerjemahkan khutbah Masjidil Haram bukan sekadar mengalihkan bahasa Arab ke bahasa Indonesia, melainkan memastikan setiap makna tersampaikan secara utuh.

Setiap pekan, pekerjaan itu dimulai sejak Rabu ketika khatib menyerahkan naskah khutbah kepada kantor penerjemahan. Sehari kemudian, para penerjemah mulai mengalihbahasakan isi khutbah ke bahasa masing-masing. Menjelang Jumat, seluruh hasil terjemahan kembali didiskusikan bersama tim agar tidak ada istilah yang meleset dari makna aslinya.

"Kami mendiskusikan hasil terjemahan supaya tidak ada kesalahan sekecil apa pun, terutama kesalahan yang fatal," kata Musyaddad.

Sekitar satu hingga dua jam sebelum khutbah dimulai, setiap penerjemah menandatangani naskah yang telah disepakati. Setelah itu mereka memasuki studio sesuai bahasa masing-masing dan menunggu khatib naik ke mimbar.

Begitu khatib mengucapkan kalimat pembuka khutbah, mikrofon di studio ikut menyala. Pada saat itulah para penerjemah mulai membacakan hasil terjemahan secara langsung.

"Jemaah bisa mengaksesnya melalui kanal YouTube sesuai bahasa masing-masing," ujarnya.

Dalam sebagian besar kesempatan, seluruh proses itu berjalan sesuai naskah yang telah disiapkan. Namun, ada satu Jumat yang tak pernah dilupakan Musyaddad. Kala itu seluruh naskah telah selesai diterjemahkan dan semua penerjemah sudah bersiap memasuki studio.

Sesaat sebelum siaran dimulai, mereka menerima informasi bahwa ada kemungkinan isi khutbah berubah karena adanya peristiwa penting yang perlu disampaikan kepada umat melalui mimbar Masjidil Haram.

"Begitu khatib mulai berbicara, dari mukadimahnya saja sudah berbeda," kenangnya.

Mukadimah yang berbeda itu menjadi pertanda bahwa seluruh naskah yang telah mereka siapkan selama dua hari tak lagi bisa digunakan. Musyaddad bersama penerjemah lain pun harus menerjemahkan khutbah secara langsung tanpa bantuan naskah, layaknya penerjemah simultan dalam sebuah konferensi internasional.

"Selama lebih dari 10 tahun saya bertugas, baru sekali mengalami perubahan sebesar itu. Biasanya paling hanya tambahan satu atau dua kalimat, atau satu paragraf," ujarnya.

Pengalaman itu menjadi salah satu ujian terbesar selama ia mengemban amanah sebagai penerjemah resmi khutbah Masjidil Haram. Sebab, di balik mikrofon yang tampak sederhana, setiap kata yang terucap harus tetap setia pada makna yang disampaikan dari mimbar.

Lebih dari Sekadar Menerjemahkan

Bagi Musyaddad, pekerjaannya bukan sekadar profesi. Kesempatan mengabdikan ilmu di Masjidil Haram merupakan karunia yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

"Tentunya perasaan bahagia dan bangga sebagai penerjemah itu ada. Karena ilmu yang pernah kita pelajari bisa bermanfaat di tempat yang paling mulia, yaitu di Masjidil Haram," katanya.

Amanah itu kini bahkan bertambah besar. Sejak sebelum Ramadan lalu, seluruh penerjemahan khutbah Masjid Nabawi dipusatkan di studio Masjidil Haram. Artinya, penerjemah yang bertugas di Makkah kini juga menerjemahkan khutbah yang disampaikan dari Madinah.

"Bisa jadi pekan ini saya membacakan terjemahan khutbah Masjidil Haram, pekan depan saya membacakan terjemahan khutbah Masjid Nabawi," ujarnya.

Tanggung jawab besar itulah yang membuat Musyaddad menilai pekerjaan penerjemah belum bisa sepenuhnya digantikan oleh kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, AI masih memiliki keterbatasan ketika berhadapan dengan teks-teks keagamaan. Sebab, tantangan terbesar bukan sekadar memahami bahasa Arab, tetapi juga menangkap konteks keilmuan di balik setiap istilah yang digunakan khatib.

"Bahkan hari ini banyak perangkat AI belum mampu membaca istilah-istilah itu dengan tepat. Bagaimanapun perkembangan teknologi tetap harus ada orang yang melakukan pembacaan ulang terhadap hasil terjemahan tersebut," jelasnya.

Menurut Musyaddad, di situlah letak perbedaan antara penerjemah manusia dan mesin. Karena itu, seorang penerjemah tidak cukup hanya fasih berbahasa Arab. Ia juga harus memiliki bekal ilmu syariah serta kemampuan menulis dalam bahasa Indonesia agar hasil terjemahan tetap akurat dan mudah dipahami masyarakat.

Pesan untuk Anak Muda

Musyaddad berharap semakin banyak generasi muda Indonesia yang menekuni bahasa Arab dan ilmu-ilmu keislaman. Menurutnya, kemampuan tersebut bukan hanya menjadi bekal akademik, tetapi juga membuka peluang untuk berkontribusi bagi umat.

"Saya rasa yang pertama adalah tekuni bahasa Arab. Setelah itu bisa memperluas dengan mengambil jurusan syariah atau tafsir sehingga memiliki kemampuan menguasai khazanah keilmuan Islam, termasuk menerjemahkan naskah-naskah khutbah," pesannya.

Ia menilai, kebutuhan penerjemah bahasa Arab masih sangat besar. Tidak hanya untuk penerjemahan khutbah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, tetapi juga berbagai naskah keislaman dari Timur Tengah yang membutuhkan alih bahasa ke bahasa Indonesia.

Bagi Musyaddad, perjalanan yang ia tempuh menjadi pengingat bahwa kesempatan besar sering kali datang tanpa diduga. "Kesempatan itu kita tidak tahu kapan datangnya. Tapi kalau kita sudah siapkan kemampuan, insyaallah ketika dia datang kita bisa mengambil kesempatan tersebut," sebutnya.

Prinsip itulah yang selama ini dipegang Musyaddad. Dari bangku pesantren di Lombok hingga studio kecil di lantai tiga Masjidil Haram, bekal ilmu itulah yang akhirnya mengantarkan Ahmad Musyaddad menjadi 'suara Indonesia' di balik khutbah Masjidil Haram.



(rns/inf)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads