Bangunan Ini Diyakini Rumah Kelahiran Rasulullah

Bangunan Ini Diyakini Rumah Kelahiran Rasulullah

Rachmatunnisa - detikHikmah
Minggu, 28 Jun 2026 14:00 WIB
Maktabah Makkah Al-Mukarramah atau Perpustakaan Makkah dulunya diyakini sebagai rumah kelahiran Rasulullah SAW.
Maktabah Makkah Al-Mukarramah atau Perpustakaan Makkah dulunya diyakini sebagai rumah kelahiran Rasulullah SAW. Foto: Rachmatunnisa/detikcom
Makkah -

Sepintas, bangunan bercat putih dengan jendela-jendela cokelat itu tampak seperti gedung biasa. Letaknya tak jauh dari area Marwah (tempat berakhirnya sai) dan setiap hari dilewati ribuan jemaah dari berbagai negara.

Tidak banyak yang menyadari, bangunan yang kini dikenal sebagai Maktabah Makkah Al-Mukarramah atau Perpustakaan Makkah itu, diyakini adalah lokasi rumah kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Penerjemah resmi khutbah Masjidil Haram asal Indonesia, Ahmad Musyaddad, menjelaskan bangunan tersebut berada di kawasan Syi'ab Bani Hasyim, yakni lembah yang dahulu menjadi permukiman keluarga besar Rasulullah SAW.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Syi'ab artinya lembah. Bani Hasyim keluarga besar kabilah Nabi SAW. Atau kalau kita terjemahkan secara lebih sederhana, perkampungan Bani Hasyim. Di sinilah perkampungan keluarga besar Nabi SAW," jelas Musyaddad saat sesi tur jejak sirah mengelilingi kawasan Masjidil Haram beberapa waktu lalu.

Menurutnya, para sejarawan sepakat Rasulullah SAW lahir di kawasan tersebut pada Tahun Gajah. Bahkan, sejumlah catatan sejarah menunjuk lokasi Maktabah Makkah Al-Mukarramah sebagai titik yang diyakini menjadi rumah kelahiran beliau.

ADVERTISEMENT

"Sebagian pencatat sejarah menunjuk spot yang lebih definitif bahwa rumah kelahiran itu adalah tempat yang sekarang terakhir menjadi Maktabah Makkah Al-Mukarramah," ujarnya.

Bangunan itu sengaja tidak dibuka bebas untuk umum. Jemaah juga tidak diperkenankan mendekat agar tidak muncul praktik-praktik yang bertentangan dengan ajaran Islam, seperti mengultuskan tempat tersebut.

Meski dikenal sebagai lokasi kelahiran Rasulullah SAW, masa kecil beliau tidak sepenuhnya berlangsung di sana. Saat masih bayi, Muhammad kecil diasuh oleh ibu susuannya, Halimah As-Sa'diyah, di perkampungan Bani Sa'ad yang berjarak sekitar 120 kilometer dari Makkah.

Di tempat itulah terjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah kenabian, yakni Syaq al-Sadr atau pembelahan dada Rasulullah SAW oleh malaikat.

"Suatu hari malaikat mendatangi beliau yang sedang bermain-main, lalu membelah dada beliau, mensucikannya, dan memasukkan hikmah ke dalamnya," tutur Musyaddad.

Peristiwa tersebut membuat Halimah khawatir sehingga Rasulullah SAW dikembalikan kepada ibundanya, Aminah, di Syi'ab Bani Hasyim saat berusia sekitar empat tahun. Di kampung inilah Rasulullah SAW tumbuh hingga usia enam tahun sebelum sang ibu wafat.

Pengasuhan kemudian beralih kepada sang kakek, Abdul Muthalib. Dua tahun kemudian, Abdul Muthalib juga meninggal dunia sehingga Rasulullah SAW diasuh oleh pamannya, Abu Thalib. Musyaddad mengatakan, sejak kecil Rasulullah SAW berada dalam penjagaan Allah SWT.

"Beliau tidak pernah bermaksiat. Tidak pernah melakukan hal-hal yang tidak diridhai Allah SWT sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Quraisy. Beliau dijaga oleh Allah SWT," katanya.

Di bawah asuhan Abu Thalib, Rasulullah SAW tumbuh menjadi pribadi yang mandiri. Beliau menggembala kambing untuk membantu kehidupan keluarga, kemudian mengikuti perjalanan dagang sang paman hingga ke Syam.

Perjalanan-perjalanan itulah yang membentuk karakter Rasulullah SAW sebagai pribadi yang jujur, amanah, dan profesional. Reputasi tersebut kemudian terdengar hingga ke telinga saudagar Quraisy, Siti Khadijah.

Khadijah lalu mempercayakan barang dagangannya kepada Rasulullah SAW untuk dibawa ke Syam. Dalam perjalanan itu, beliau didampingi seorang pembantu Khadijah bernama Maisarah.

Penerjemah resmi khutbah Masjidil Haram asal Indonesia, Ahmad Musyaddad, saat sesi tur jejak sirah mengelilingi kawasan Masjidil Haram, Minggu, 21 Juni 2026.Penerjemah resmi khutbah Masjidil Haram asal Indonesia, Ahmad Musyaddad, saat sesi tur jejak sirah mengelilingi kawasan Masjidil Haram, Minggu, 21 Juni 2026. Foto: Rachmatunnisa/detikcom

Menurut Musyaddad, laporan Maisarah tentang kejujuran dan akhlak Rasulullah SAW membuat Khadijah semakin yakin terhadap sosok Muhammad.

"Itulah yang diceritakan kepada Siti Khadijah. Yang membuat Siti Khadijah tertarik. Dan pada akhirnya kemudian mereka menikah," ujarnya.

Pernikahan itu sekaligus menjadi penanda berakhirnya masa Rasulullah SAW tinggal di Syi'ab Bani Hasyim. Setelah menikah, beliau menetap di rumah yang disediakan Khadijah di kawasan Bani Abd Syams dan memulai kehidupan rumah tangga bersama perempuan yang kelak menjadi pendamping setia dalam perjuangan dakwah Islam.

Karena itu, bangunan putih yang kini berdiri sebagai Maktabah Makkah Al-Mukarramah bukan sekadar penanda sebuah lokasi bersejarah. Di tempat itulah, menurut banyak catatan sejarah, bermula perjalanan hidup sosok bernama Muhammad yang kemudian diutus Allah SWT menjadi penutup para nabi dan rasul.




(rns/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads