Tanda-tanda Haji Mabrur dalam Hadits Nabi Muhammad SAW

Tanda-tanda Haji Mabrur dalam Hadits Nabi Muhammad SAW

Salsa Dila Fitria Oktavianti - detikHikmah
Sabtu, 30 Mei 2026 07:00 WIB
Ilustrasi berdoa di depan Kabah saat haji.
Ilustrasi haji mabrur. Foto: ChatGPT
Jakarta -

Tanda-tanda haji mabrur menjadi hal yang penting dipahami jemaah haji. Haji mabrur adalah haji yang diterima oleh Allah SWT dan memiliki balasan surga, sebagaimana disebutkan dalam berbagai hadits Nabi.

Dalam buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah susunan Kementerian Haji dan Umrah RI, dijelaskan bahwa haji mabrur adalah ibadah haji yang maqbul, yaitu haji yang diterima Allah SWT dan termasuk amalan yang bernilai kebaikan. Penilaian tersebut tidak hanya didasarkan pada terpenuhinya rukun dan syarat wajib haji semata, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh keikhlasan hati serta ketaatan dalam melaksanakan seluruh rangkaian ibadahnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tanda-tanda Haji Mabrur Menurut Hadits

Menurut hadits, haji mabrur ditandai dengan ibadah yang tidak dikotori dosa dan jauh dari hal-hal yang bisa menimbulkan persengketaan atau merangsang syahwat. Hal ini dijelaskan dalam Syarah Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi berdasarkan riwayat Abu Hurairah RA berikut:

ADVERTISEMENT

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: «مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُتْ وَلَمْ يَفْسُقُ رَجَعَ كَيَوْمٍ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Artinya: "Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Barang siapa mengerjakan haji kemudian ia tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti saat ia dilahirkan ibunya'." (Muttafaq 'alaih)

Menurut syarah hadits, peleburan dosa mensyaratkan haji harus mabrur atau diterima. Mayoritas ulama menyebut peleburan ini khusus dosa-dosa kecil dan dosa yang terkait dengan hak Allah.

Dalam riwayat lain yang marfu disebutkan:

سئل النبي ما بر الحج قال إطعام الطعام وطيب الكلام وقال صحيح الإسناد ولم يخرجاه

Artinya: "Rasulullah ditanya tentang haji mabrur. Rasulullah kemudian berkata, 'Memberikan makanan dan santun dalam berkata.' Hadits ini memiliki sanad shahih tetapi tidak diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim."

Tanda-tanda Haji Mabrur Sepulang dari Tanah Suci

Merujuk pada Buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah Kemenhaj RI, terdapat beberapa tanda yang menunjukkan kemabruran haji seseorang sepulang dari Tanah Suci. Berikut di antaranya.

1. Terjadi Peningkatan Kualitas Diri

Haji mabrur dapat dilihat dari adanya perubahan positif dalam diri seseorang setelah menunaikan ibadah haji. Seseorang yang hajinya diterima akan menunjukkan kualitas diri yang lebih baik dibandingkan sebelum berangkat ke Tanah Suci.

ومن علامات قبول الحج أن يرجع العبد خيرًا مما كان، ولا يعاود المعاصي ... كما قال الإمام الترطي : الأقوال التي ذُكِرَتْ فِي تَفْسِيره مُتَقَارِبَةِ الْمَعْنَى ، وَهِيَ أَنَّهُ الْحَجَ الَّذِي وُقْيَتْ أَحْكَامِهِ وَوَقَعَ مَوْافقا لِمَا طلِبَ مِنْ الْمُكَلِّفُ عَلَى الْوَجْه الأكل . نقله ابن حجر في (فتح الباري)

Artinya: "Di antara tanda diterimanya haji adalah ketika seorang hamba kembali dalam keadaan yang lebih baik dari sebelumnya serta tidak lagi mengulangi perbuatan maksiat. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Qurtubi, berbagai pendapat yang disebutkan dalam tafsirnya memiliki makna yang berdekatan, yaitu bahwa haji mabrur adalah haji yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dan hukum-hukumnya secara sempurna sebagaimana yang diperintahkan." (Dinukil oleh Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari)

Haji yang mabrur juga ditandai dengan kemampuan seseorang untuk menjaga diri dari perbuatan maksiat selama menjalankan rangkaian ibadah, serta diikuti dengan perubahan perilaku setelah kembali, yakni meninggalkan kebiasaan buruk tersebut. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Imam Nawawi.

2. Menghiasi Diri dengan Amal Kebaikan

Salah satu tanda kemabruran haji adalah semakin giat dalam melakukan berbagai amal kebajikan. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur'an:

لَيْسَ الْبِرَانُ تُولُوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِن َّ الْبَرِّ مَنْ أَمَن َ باللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْعَلَيْكَةِ وَالْكِتَبِ وَالنَّبِيِّنَ وَأَتَى الْمَالَ عَلَى حَتِهِذَوى الْقُرْنِي وَالْيَثَنَى وَالْمَسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّابِلَيْنَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلُوةَ وَأَتَى الزَّكُوةَ وَالْمُوْفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالشَّرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِيْنَ الْبَاشِ أُولَبِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولُبِكَ هُمالْمُتَقُونَ

Artinya: "Bukanlah kebajikan itu dengan menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan adalah beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan para nabi; serta memberikan harta yang dicintai kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, dan orang yang meminta-minta; juga untuk memerdekakan hamba sahaya, mendirikan salat, menunaikan zakat, menepati janji ketika berjanji, serta bersabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa." (QS Al-Baqarah: 177)

Berdasarkan ayat tersebut, amal kebajikan mencakup beberapa aspek utama, di antaranya keimanan yang kuat, kepedulian sosial melalui sedekah, ketaatan dalam ibadah seperti salat dan zakat, komitmen dalam menepati janji, serta kesabaran dalam menghadapi berbagai ujian hidup.

3. Menjaga Sikap Zuhud dan Kebersihan Hati

Ibadah haji merupakan pengalaman spiritual yang sangat mendalam dan penuh makna. Oleh karena itu, nilai-nilai yang diperoleh selama pelaksanaan haji perlu terus dijaga dalam kehidupan sehari-hari.

Sikap zuhud yang terbentuk selama berhaji seharusnya tercermin dalam gaya hidup yang sederhana dan tidak berlebihan dalam mencintai dunia. Selain itu, hati juga perlu dijaga agar tetap bersih, dengan orientasi hidup yang lebih mengarah pada kehidupan akhirat.

Sebagaimana ketika melakukan tawaf yang memusatkan hati sepenuhnya kepada Allah SWT, kondisi batin tersebut idealnya tetap dipertahankan setelah kembali ke Tanah Air. Walaupun secara fisik hanya sekali berada di hadapan Ka'bah, tetapi secara spiritual kedekatan dengan Allah SWT dapat terus dirasakan. Hal ini menunjukkan pentingnya menjaga hati agar senantiasa sadar akan kehadiran Allah dalam setiap aktivitas.

4. Tetap Optimistis dan Memperbanyak Doa

Setelah menunaikan ibadah haji, penting bagi seorang muslim untuk tetap memiliki sikap optimistis terhadap kemabruran hajinya. Sikap ini diperlukan agar semangat dalam beribadah tetap terjaga.

Perasaan ragu mengenai diterima atau tidaknya haji memang bisa muncul, bahkan terkadang disertai penyesalan atau keinginan untuk mengulang ibadah tersebut. Namun, hal yang lebih utama adalah berprasangka baik kepada Allah SWT serta terus memperbanyak doa agar ibadah haji yang telah dilakukan benar-benar diterima dan bernilai mabrur.

Wallahu a'lam.




(kri/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads