Larangan Bulan Safar, Benarkah Tidak Boleh Menikah dan Bepergian?

Larangan Bulan Safar, Benarkah Tidak Boleh Menikah dan Bepergian?

Indah Fitrah Yani - detikHikmah
Kamis, 16 Jul 2026 05:45 WIB
Ilustrasi bulan Syakban.
Ilustrasi bulan Safar. Foto: Gemini AI
Jakarta -

Sebagian masyarakat masih meyakini bahwa bulan Safar identik dengan kesialan. Kepercayaan ini melahirkan berbagai pantangan, mulai dari tidak menikah, tidak bepergian, hingga menunda membuka usaha karena khawatir tertimpa musibah.

Lalu, bagaimana pandangan Islam tentang larangan bulan Safar?

Asal-usul Nama Bulan Safar

Dalam buku Doa dan Zikir Sepanjang Tahun karya H. Hamdan Hamedan, MA, dijelaskan bahwa kata Safar memiliki arti "sepi" atau "sunyi". Nama ini muncul karena pada masa lalu masyarakat Arab biasa meninggalkan kampung halaman mereka untuk berperang atau melakukan perjalanan, sehingga tempat tinggal mereka tampak kosong.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di samping itu, masyarakat Arab jahiliah meyakini bahwa bulan Safar membawa kesialan. Islam kemudian meluruskan dan menghapus keyakinan tersebut.

Rasulullah SAW bersabda:

ADVERTISEMENT

"Tidak ada penyakit menular (dengan sendirinya), tidak ada thiyarah (menganggap sesuatu membawa sial hingga menghalangi seseorang beramal), tidak ada kesialan karena burung hamah, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar." (HR Bukhari)

Tidak Ada Larangan Khusus pada Bulan Safar

Islam tidak menetapkan pantangan tertentu selama bulan Safar. Umat Islam tetap diperbolehkan menikah, bepergian, memulai pekerjaan, membuka usaha, maupun melakukan kegiatan baik lainnya.

Dalam buku Bekal Dai Kontemporer dari Al-Quran dan As-Sunnah As-Shahihah susunan Dr. KH. Rachmat Morado Sugiarto, Lc., M.A. al-Hafizh, dijelaskan bahwa seluruh bulan dalam Islam sama-sama baik. Tidak ada bulan yang membawa kesialan.

Rasulullah SAW juga bersabda:

"Janganlah mencela masa, karena sesungguhnya Allah Ta'ala adalah (pengatur) masa." (HR Muslim)

Rasulullah SAW pada Bulan Safar

Anggapan bahwa Safar membawa kesialan juga bertentangan dengan sejarah kehidupan Rasulullah SAW.

Masih dari sumber sebelumnya dijelaskan bahwa Rasulullah SAW menikah dengan Sayyidah Khadijah RA pada bulan Safar. Pernikahan Sayyidina Ali bin Abi Thalib dengan Sayyidah Fatimah Az-Zahra juga berlangsung pada bulan yang sama.

Selain itu, Rasulullah SAW juga memimpin sejumlah perjalanan dan ekspedisi pada bulan Safar. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada alasan untuk menghindari aktivitas penting pada bulan tersebut.

Islam mengajarkan bahwa tidak ada bulan yang mampu mendatangkan manfaat maupun mudarat dengan sendirinya. Semua terjadi atas izin Allah SWT.

Karena itu, yang menentukan baik atau buruknya kehidupan seseorang bukanlah dari bulan Safar itu sendiri, melainkan amal yang dikerjakannya. Waktu yang diisi dengan ibadah dan amal saleh akan menjadi penuh keberkahan. Sebaliknya, jika digunakan untuk berbuat maksiat, akibat buruk yang muncul berasal dari perbuatan tersebut.



(inf/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads