Kisah Abdullah bin Al-Mubarak: Tidak Berhaji namun Menerima Predikat Haji Mabrur

Kisah Abdullah bin Al-Mubarak: Tidak Berhaji namun Menerima Predikat Haji Mabrur

Daffa Ichyaul Majid Sarja - detikHikmah
Jumat, 17 Apr 2026 05:00 WIB
Kisah Abdullah bin Al-Mubarak: Tidak Berhaji namun Menerima Predikat Haji Mabrur
Foto: Getty Images/iStockphoto/rudall30
Jakarta -

Setiap Muslim tentunya mendambakan predikat haji mabrur saat melangkahkan kaki ke Tanah Suci.

Namun, dalam sejarah Islam terdapat sebuah kisah menakjubkan tentang seorang ulama besar, Abdullah bin Al-Mubarak, yang justru meraih kemuliaan tersebut tanpa sempat menginjakkan kaki di Makkah.

Keajaiban ini terjadi karena niat dan pengorbanan luar biasa yang dilakukan oleh Abdullah bin Al-Mubarak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebelum mengetahui lebih lanjut tentang kisah luar biasa ini, penting untuk kita mengenal sosok Abdullah bin Al-Mubarak terlebih dahulu.

Riwayat Singkat Abdullah bin Al-Mubarak

Dinukil dari buku Sejarah Hidup Para Penyambung Lidah Nabi karya Imron Mustofa, Abdullah bin Al-Mubarak merupakan seorang ulama sufi yang memiliki nama lengkap Abdullah bin Al-Mubarak bin Wadhih al-Hanzhali at-Tamimi.

ADVERTISEMENT

Dikatakan oleh Abbas bin Mush'ab, bahwa ibunda dari Abdullah bin Al-Mubarak berasal dari Khawazamiyah. Sedangkan ayahnya berasal dari Turki dan merupakan budak dari seorang pedagang di daerah Hamdzan dari Bani Handzalah. Abdullah bin Al-Mubarak lahir pada 118 H di sebuah kota yang berada di daerah Khurasan. Kota tersebut bernama Marwa.

Terdapat sebuah kisah menarik dari Abdullah bin Al-Mubarak. Ketika ia hendak melaksanakan ibadah haji, ia mengurungkan niat tersebut lantaran membantu seorang wanita dengan membagikan seluruh perbekalannya. Meski tidak jadi menunaikan ibadah haji, Allah SWT tetap memberikan predikat haji mabrur kepadanya.

Lantas, seperti apa kisah lengkap Abdullah bin Al-Mubarak yang tidak berhaji, namun menerima predikat haji mabrur dari Allah SWT? Simak kisah selengkapnya berikut ini.

Kisah Abdullah bin Al-Mubarak yang Menerima Predikat Haji Mabrur

Dinukil dari buku Menempuh Jalan ke Surga karya Badiatul Muchlisin, dalam hidupnya, Abdullah bin Al-Mubarak memiliki kebiasaan, yaitu melaksanakan ibadah haji setiap tahunnya, kemudian berperang fi sabilillah pada tahun berikutnya.

Kisah ini terjadi saat ia telah bersiap untuk menunaikan ibadah haji. Ia telah pergi ke pasar Kufah untuk membeli seekor unta. Ia membawa 500 dinar untuk membeli unta tersebut.

Di tengah perjalanan, ia melihat seorang wanita yang sedang membersihkan bulu itik. Ia yakin bahwa itik tersebut sudah menjadi bangkai. Dikarenakan rasa iba, Abdullah bin Al-Mubarak menghampiri wanita tersebut dan bertanya, "Mengapa engkau melakukan hal ini?"

Wanita itu menjawab, "Wahai hamba Allah, janganlah engkau bertanya kepadaku tentang perkara yang tidak bermanfaat bagimu."

Abdullah bin Al-Mubarak dapat memahami, bahwa ada sesuatu yang terjadi pada wanita tersebut. Abdullah bin Al-Mubarak mendesaknya kembali dengan satu pertanyaan.

Wanita itu menjawab, "Wahai hamba Allah, aku terpaksa mengatakan rahasiaku kepadamu. Semoga Allah merahmatimu. Aku adalah seorang wanita Alawiyah. Aku mempunyai empat orang putri, sedangkan ayah dari anak-anakku ini telah meninggal dunia beberapa waktu lalu. Hari ini adalah hari keempat kami tidak memakan apa pun. Dalam keadaan seperti ini, halal bagi kami untuk memakan bangkai. Aku mengambil bangkai itik ini, kemudian seperti yang engkau lihat, aku sedang membersihkannya untuk kuberikan kepada anak-anakku."

Mendengar penjelasan wanita tersebut, Abdullah bin Al-Mubarak membatin, "Celakalah engkau, wahai Ibnu Mubarak, betapa senang keadaanmu dibandingkan dengan orang ini!"

Abdullah bin Al-Mubarak berkata kepada wanita itu, "Bukalah kantongmu!" Ia memasukkan semua dinar yang ia miliki ke kantong kain milik wanita tersebut. Lantas, Abdullah berkata, "Kembalilah ke rumahmu dengan uang ini untuk memperbaiki kondisi keluargamu."

Dengan demikian, pada tahun itu Abdullah bin Al-Mubarak mengurungkan niatnya untuk menunaikan ibadah haji. Ia memberikan semua bekal berhajinya kepada wanita malang itu dan segera kembali ke negerinya.

Beberapa saat kemudian, setelah jemaah selesai melaksanakan ibadah haji, Abdullah bin Al-Mubarak menemui para tetangga dan temannya yang baru kembali sambil mengucapkan doa kepada mereka, "Semoga Allah SWT menerima hajimu dan membalas segala usahamu."

Anehnya, mereka semua juga mengatakan hal yang sama kepada Abdullah bin Al-Mubarak, "Semoga Allah SWT menerima hajimu juga dan membalas segala usahamu. Bukankah kami bertemu denganmu di tempat ini dan itu pada waktu haji itu?"

Abdullah bin Al-Mubarak terus memikirkan keanehan tersebut. Hingga akhirnya, keanehan tersebut terjawab melalui sebuah mimpi. Dalam mimpinya Abdullah bin Al-Mubarak melihat Nabi Muhammad SAW berkata kepadanya,

"Wahai hamba Allah, janganlah engkau heran. Sesungguhnya engkau telah menolong seseorang yang sengsara dari anakku, maka aku meminta kepada Allah agar Dia ciptakan malaikat yang serupa bentuknya denganmu untuk menghajikan."

Kisah di atas mengandung makna yang sangat berharga tentang pentingnya memprioritaskan amal, yakni mendahulukan amal terpenting dari amal yang terpenting.

Menunaikan ibadah haji untuk kesekian kalinya memanglah penting. Namun, bila ada bencana sosial melanda, apalagi bersifat kritis dan harus segera mendapatkan bantuan, maka inilah yang harus menjadi prioritas.

Wallahu a'lam




(inf/inf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads