Kisah Perang Khaibar: Strategi Rasulullah Menaklukkan Benteng-Benteng Khaibar

Kisah Perang Khaibar: Strategi Rasulullah Menaklukkan Benteng-Benteng Khaibar

Devi Setya - detikHikmah
Kamis, 16 Jul 2026 05:00 WIB
Ilustrasi perang, sahabat nabi, pasukan berkuda.
Foto: Vector_Corp/Freepik
Jakarta -

Perang Khaibar merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam yang terjadi pada tahun ke-7 Hijriah atau sekitar tahun 628 Masehi. Perang ini berlangsung antara kaum muslim yang dipimpin oleh Rasulullah SAW dengan komunitas Yahudi yang bermukim di wilayah Khaibar, sebuah oasis subur yang terletak sekitar 150 kilometer di utara Madinah.

Kemenangan dalam Perang Khaibar tidak hanya memperkuat posisi kaum muslimin di Jazirah Arab, tetapi juga mengakhiri ancaman yang selama ini datang dari kelompok Yahudi yang terus menyusun berbagai makar terhadap Islam dan kaum muslimin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Latar Belakang Perang Khaibar

Dikutip dari buku Sirah Nabawiyah Riwayat Imam Al-Bukhari susunan Dr. Riyadh Hasyim, Khaibar menjadi tempat bermukim kaum Yahudi setelah mereka diusir dari Madinah akibat melanggar perjanjian damai dengan Rasulullah SAW. Dari wilayah tersebut mereka terus menyusun berbagai rencana untuk melampiaskan permusuhan kepada Rasulullah, Islam, dan kaum muslimin.

Permusuhan tersebut telah berlangsung sejak lama. Sebelumnya, beberapa kabilah Yahudi seperti Bani Qainuqa, Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah telah berkonflik dengan kaum muslimin. Bahkan, kaum Yahudi juga menjadi penggerak utama terbentuknya pasukan Ahzab dalam Perang Khandaq untuk menyerang Madinah.

ADVERTISEMENT

Karena ancaman yang terus berlanjut, Rasulullah SAW memutuskan untuk menghadapi mereka secara langsung di Khaibar.

Sebelum berangkat menuju Khaibar, Allah SWT telah memberikan kabar gembira kepada kaum Muslimin melalui Surah Al-Fath mengenai kemenangan dan harta rampasan perang yang akan mereka peroleh.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat Al-Fath ayat 20, "Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil, maka disegerakan-Nya harta rampasan ini untukmu dan Dia menahan tangan manusia dari (membinasakan) mu (agar kamu mensyukuri-Nya) dan agar hal itu menjadi bukti bagi orang-orang mukmin dan agar Dia menunjuki kamu kepada jalan yang lurus." (QS. Al-Fath: 20)

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa salah satu bentuk realisasi janji tersebut adalah kemenangan kaum muslimin dalam Perang Khaibar beserta ghanimah yang mereka peroleh. Allah juga menegaskan bahwa rampasan perang itu diperuntukkan bagi para sahabat yang telah menunjukkan keikhlasan dan kesabaran dengan ikut dalam Perjanjian Hudaibiyah.

Rasulullah Memimpin 1.400 Sahabat

Pada bulan Muharram tahun ketujuh Hijriah, Rasulullah SAW memimpin sekitar 1.400 sahabat yang sebelumnya ikut dalam Perjanjian Hudaibiyah menuju Khaibar. Meski mengetahui bahwa wilayah tersebut memiliki benteng-benteng kokoh dan persenjataan yang lengkap, para sahabat berangkat dengan penuh keyakinan terhadap pertolongan Allah SWT.

Dalam perjalanan, para sahabat mengumandangkan takbir dan tahlil dengan suara keras. Rasulullah kemudian mengingatkan mereka agar merendahkan suara seraya bersabda:

"Sesungguhnya kalian tidak berdoa kepada Zat yang tuli dan jauh. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat."

Hadits ini diriwayatkan dalam Shahih Bukhari.

Kedatangan yang Mengejutkan Penduduk Khaibar

Merujuk buku Sirah Nabawiyah-Ibnu Hisyam karya Ibnu Hisyam, pasukan muslim tiba di Khaibar sebelum waktu Subuh. Penduduk Yahudi sama sekali tidak mengetahui kedatangan mereka.

Ketika pagi hari tiba dan para penduduk hendak keluar menuju ladang, mereka dikejutkan oleh keberadaan pasukan kaum Muslimin. Dalam suasana panik mereka segera kembali ke dalam benteng.

Saat itu Rasulullah SAW bersabda:

"Allahu Akbar, binasalah Khaibar. Sesungguhnya jika kami datang di tempat musuh maka hancurlah kaum tersebut." (HR. Imam Bukhari dan Muslim)

Karena benteng-benteng Khaibar sangat sulit ditaklukkan, Rasulullah SAW kemudian menyampaikan kabar gembira kepada para sahabat.

Beliau bersabda, "Besok akan kuserahkan bendera perang kepada seseorang yang Allah dan Rasul-Nya mencintai dan dia pun mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah akan memenangkan kaum muslimin lewat tangannya."

Seluruh sahabat berharap memperoleh kehormatan tersebut, termasuk Umar bin Khattab RA.

Keesokan harinya Rasulullah justru memanggil Ali bin Abi Thalib yang ketika itu sedang mengalami sakit mata. Setelah Rasulullah meludahi kedua matanya, Ali sembuh seketika.

Sebelum berangkat, Rasulullah berpesan kepada Ali, "Ajaklah mereka kepada Islam sebelum engkau memerangi mereka. Sebab, demi Allah, seandainya Allah memberi hidayah seorang di antara mereka lewat tanganmu maka sungguh itu lebih baik bagimu daripada unta merah (harta bangsa Arab yang paling mewah ketika itu)." (HR Imam Muslim)

Amir bin Akwa RA maju menghadapi tantangan tersebut namun gugur sebagai syahid.

Selanjutnya Ali bin Abi Thalib maju menghadapi Marhab dan berhasil mengalahkannya. Kemenangan itu menjadi titik balik yang melemahkan semangat pasukan Yahudi sehingga benteng demi benteng akhirnya berhasil dikuasai kaum muslimin.

Benteng Khaibar Berhasil Ditaklukkan

Wilayah Khaibar memiliki tiga lapis pertahanan yang masing-masing terdiri atas beberapa benteng.

Kaum muslimin harus menaklukkan benteng demi benteng secara bertahap. Setiap kali satu benteng jatuh, pasukan Yahudi berpindah ke benteng berikutnya hingga akhirnya seluruh pertahanan mereka berhasil dikuasai oleh kaum muslimin.

Peristiwa Daging Beracun

Meski telah kalah dalam peperangan, sebagian kaum Yahudi masih berupaya mencelakai Rasulullah SAW.

Dalam buku Ar-Rahiq al-Makhtum-Sirah Nabawiyah: Sejarah Lengkap Kehidupan Nabi Muhammad Salallahu 'alaihi wasalam karya Syekh Shafiyurrahman Al Mubarakfuri, dikisahkan seorang wanita Yahudi menghadiahkan daging yang telah diberi racun kepada Rasulullah. Ketika beliau hendak memakannya, Allah memperlihatkan mukjizat sehingga daging tersebut mengabarkan bahwa dirinya telah diracuni.

Rasulullah segera memuntahkan makanan tersebut. Namun, Bisyr bin Barra' RA yang ikut memakannya meninggal dunia akibat racun tersebut. Wanita yang melakukan perbuatan itu kemudian dijatuhi hukuman qishash.

Setelah kemenangan diraih, Rasulullah SAW tidak langsung mengusir seluruh penduduk Yahudi dari Khaibar.

Mereka memohon agar tetap diperbolehkan mengelola lahan pertanian dengan sistem bagi hasil. Rasulullah menerima permohonan tersebut dengan syarat beliau berhak mengakhiri perjanjian kapan saja apabila mereka kembali melakukan pelanggaran.

Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab RA, kaum Yahudi akhirnya diusir dari Khaibar setelah kembali melakukan berbagai tindakan yang membahayakan kaum muslimin.



(dvs/inf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads