Kisah Nenek Patimang, Janda Sebatang Kara Pergi Haji dari Sisa Rumput Laut

Kabar Haji Bersama Promag Herbal

Kisah Nenek Patimang, Janda Sebatang Kara Pergi Haji dari Sisa Rumput Laut

Antara - detikHikmah
Rabu, 22 Apr 2026 20:45 WIB
Patimang Hibbu Manne (kanan), calon haji asal Kabupaten Bone, Sulsel, yang berangkat dengan mengumpulkan uang dari hasil rumput laut, saat ditemui di Asrama Haji Sudiang Makassar, Rabu, (22/4/2026).
Patimang Hibbu Manne (kanan), saat ditemui di Asrama Haji Sudiang Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu, (22/4/2026). Foto: ANTARA/Muh Hasanuddin
Jakarta -

Di balik gemuruh doa dan deru mesin pesawat yang membawa rombongan jemaah haji dari Embarkasi Sudiang, Makassar, terselip satu cerita luar biasa tentang keteguhan hati. Ialah Patimang Hibbu Manne, seorang janda lansia berusia 86 tahun yang membuktikan bahwa niat suci tak pernah bisa dihalangi oleh tipisnya dompet.

Tangan keriputnya tampak gemetar namun penuh syukur saat merapikan seragam batiknya di Asrama Haji Sudiang, Rabu (22/4/2026). Siapa sangka, perjalanan sucinya menuju Baitullah ini adalah buah dari sisa-sisa rumput laut yang ia pungut selama belasan tahun.

"Alhamdulillah, saya sangat bahagia di usia yang sudah tidak lagi muda ini masih diberikan kesempatan untuk datang ke Tanah Suci Makkah," tutur Patimang, dikutip Antara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kisah perjuangan warga Kecamatan Awangpone ini dimulai 16 tahun silam. Sejak tahun 2010, Patimang membulatkan tekad untuk mendaftar haji. Namun, ia bukanlah pengusaha besar atau petani kaya.

Patimang hanyalah seorang pencari rumput laut sisa. Saat orang lain memasang jaring besar di tengah laut, wanita renta ini cukup mengandalkan sampan kecilnya untuk menyusuri tepian pantai. Ia memungut helai demi helai rumput laut yang terlepas, mengumpulkannya hingga berkilo-kilo.

ADVERTISEMENT

Perjuangannya semakin getir jika melihat nilai ekonominya. Bayangkan saja, setiap satu kilogram rumput laut yang ia kumpulkan hanya dihargai Rp 1.000 oleh pengepul. Dari uang recehan itulah, ia membagi dapur agar tetap ngepul dan sisanya ia simpan rapat-rapat di bawah bantal untuk melunasi Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih).

"Saya bukan petani rumput laut seperti kebanyakan yang memasang jaring. Saya hanya menyusuri pinggir laut mencari rumput laut sisa dengan sampan kecil," kisahnya.

Lama waktu menunggu yakni 16 tahun bukanlah durasi yang sebentar, apalagi bagi seorang lansia yang hidup sebatang kara. Seiring bertambahnya usia, kekuatan fisiknya perlahan luntur. Kini, sampan kecilnya sudah lama bersandar dan tak lagi ia gunakan untuk mencari nafkah.

Di masa senjanya, Patimang kini hanya mengandalkan bantuan sosial dari pemerintah serta uluran tangan kerabat untuk sekadar bertahan hidup. Namun, Tuhan rupanya menjawab doa-doa yang ia selipkan di setiap butir rumput laut yang ia pungut dahulu. Namanya tercantum dalam daftar jemaah yang berangkat tahun ini.

Meski kondisi fisiknya sudah renta, semangat Patimang tak sedikit pun goyah. Ia mengaku sudah siap menghadapi segala kemungkinan selama menjalani masa ibadah haji satu bulan lamanya di Arab Saudi.

Bagi Patimang, dipanggil menjadi tamu Allah adalah puncak dari segala jerih payahnya. Ketidakberdayaan fisik di usia 86 tahun tertutup oleh rasa syukur yang membuncah.




(hnh/lus)
Kisah Haji Para Tamu Allah

Kisah Haji Para Tamu Allah

29 konten
Menunaikan ibadah haji jadi hal yang sangat ditunggu banyak umat Islam. Di balik suksesnya haji, ada cerita unik dan juga perjuangan di belakangnya.
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads