Petugas haji Indonesia dituntut memiliki ketahanan mental dan kekompakan tinggi saat bertugas di Tanah Suci. Jauh dari keluarga, menghadapi cuaca ekstrem dan medan berat, serta melayani jemaah dengan karakter beragam menjadi sumber tekanan yang harus diantisipasi sejak dini melalui pembekalan yang matang.
Hal itu disampaikan Kolonel (Purn) Kurniawan Muftiono, Wakil Ketua Diklat Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2026. Ia menyebut hingga hari ke-13 pelaksanaan diklat, kondisi peserta tetap solid dan bersemangat.
"Proses perjalanan diklat yang saat ini sudah masuk hari ke-13 luar biasa, mereka semangat, mereka kompak, dan mereka satu kata akan menjalankan tugas yang terbaik," ujar Muftiono saat ditemui media di Aula Gedung Serbaguna Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Jumat (23/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, desain diklat PPIH terus diperbaiki dari tahun ke tahun sebagai upaya meningkatkan kualitas pelayanan haji. Meski demikian, tekanan mental tetap bisa muncul meskipun tidak selalu tampak secara langsung.
"Kalau kondisi memang fisiknya tidak siap, kondisi tidak siap meninggalkan keluarga, kondisi melaksanakan tugas tidak maksimal, dalam kondisi tersebut bisa dilihat dari tampilan bagaimana dia melayani," katanya.
Ia menjelaskan, stres ringan pada petugas dapat terlihat dari perubahan sikap, seperti menurunnya kedisiplinan atau kepedulian terhadap tugas. "Ada yang masa bodoh, ada yang melepas tanggung jawabnya. Contoh yang melepas baju seragam itu. Itu kan salah satu bentuk stres juga," ujarnya.
Karena itu, Muftiono menekankan pentingnya kesiapan menyeluruh agar tekanan mental dapat diredam. Ia menilai kondisi fisik dan mental peserta diklat justru semakin stabil seiring berjalannya waktu. Meski ada peserta yang sempat mengalami keluhan ringan akibat perubahan cuaca dan aktivitas padat, hal itu dinilainya sebagai bagian dari proses adaptasi.
"Namanya manusia ada kemampuan dan batas kemampuan. Perubahan cuaca, perubahan situasi, mungkin ada yang pusing-pusing sedikit. Tapi justru itu untuk mengetahui kekuatan fisik ke depan sana," katanya.
Ia menambahkan, tantangan terbesar petugas haji bukan hanya medan dan cuaca di Arab Saudi, tetapi juga mengelola diri sendiri saat melayani jemaah. Selain itu, petugas harus siap melayani jemaah Indonesia yang heterogen, termasuk jemaah lansia yang membutuhkan pendampingan lebih intensif.
"Melayani dengan jemaah-jemaah di Indonesia yang heterogen. Ada yang usianya sudah sepuh, perlu diberikan pertolongan yang maksimal," sebutnya.
Muftiono menegaskan, kekompakan petugas dibangun sejak awal melalui sistem pelatihan yang menyatukan berbagai unsur tugas dalam satu kelompok. Ia juga mengingatkan para petugas agar tidak membawa ego jabatan saat bertugas di Tanah Suci.
"Tolong ketika sudah masuk sini, lepaskan baju kebesaran, jubah kebesaran ditinggalkan. Seluruh petugas haji memiliki satu peran yang sama, kita semua satu tim pelayan tamu Allah Kita siapkan dengan maksimal," pungkasnya.
(lus/lus)












































Komentar Terbanyak
Wamenhaj Dahnil Anzar Nilai Presiden Prabowo Layak Jadi Bapak Haji Indonesia
Secara Hisab, Idul Adha 1447 H Jatuh pada 27 Mei 2026
Jadwal Libur Idul Adha 2026 Berdasarkan SKB 3 Menteri